Belajar Strobist

17 Jan 2010
Strobist .. adalah teknik menggunakan flash/blitz secara off-kamera. Off – kamera ?? iya .. pada umumnya kan flash camera tersebut nancep di hot-shoe pada kamera . Nah off-kamera ini memungkinkan flash dapat ditrigger dimanapun tanpa harus terpasang di hot-shoe. Keuntungannya kita bisa memposisikan satu atau lebih flash di mana saja untuk mengatur arah, intensitas, cahaya untuk menghasilkan foto yg kita inginkan. Kok bisa off-kamera ? sebenarnya pada beberapa kamera DSLR sudah tertanam fungsi tersebut ( master / commander  ) .. untuk kamera jebot kayak punya saya-pun sebenarnya bisa dengan asesoris tambahan . Well , semua kamera kayaknya bisa ya.. asal ada mekanisme untuk mentrigger flash .
  • di Nikon ada yang namanya Nikon CLS ( Creative Lighting System ) .. di Canon namanya E-TTL . Nikon CLS menggunakan IR ( infrared ) untuk berkomunikasi dengan flash – flash lain . Jadi harus line-of-sight dengan kamera lain meski kyknya bisa juga mentrigger flash lain di balik tembok ( link ) . Keuntungannya adalah canggih ! Body camera bisa berkomunikasi dengan flash-flash yang ada , mengatur power yang ada , mengatur white balance dsb dsb .. kita tinggal setting seperti biasa dan wah :) . Kerugiannya : harus line-of-sight dan mahal bo !
  • menggunakan Sync cable .. body kamera dan flash dihubungkan via kabel khusus. kerugiannya : beribet , banyak kabel2 bertebaran :) . Keuntungan: fungsi TTL masih jalan
  • menggunakan Radio trigger . Flash ditrigger dari kamera menggunakan frekuensi radio . Ada adapter khusus untuk mekanisme ini : transmitter dan receiver. Sesuai namanya pasti teman-teman tau artinya lah. Transmitter terpasang di body kamera . Jika flash di trigger , transmitter mengirimkan sinyal ke satu / beberapa receiver + flash . Keuntungan : tidak harus line-of-sight .. ini keunggulan utama yg banyak menarik minat orang. Kerugian : fungsi TTL (flash auto ) tidak jalan , harus manual . Dooh manual lagi ?? jaman udah canggih masih manual..hehehehe , yup manual . Hmm sebenarnya sudah ada sih , radio trigger yang bisa TTL . Silahkan google mandiri :)
Tutelyudetrut .. sebenarnya saya ga terlalu minat dengan dunia per-flash-an ini. Kayaknya ribet , ada tambahan control yang harus disetting bla bla..belum lagi penempatan posisi flash ini itu .. plus kayaknya mahal-mahal. Dan sedikit tambahan ego seorang fotografer naif dan culun : ” ah saya kan nature photographer .. cukup nature lighting saja” hahahaha .. well , ternyata ada secuil bakat kreatif terpendam dalam diri saya yg ingin keluar . The creative side of me..
Sampai akhirnya saya melihat DVD One Light workshop-nya Zack Arias .. saya mulai tertarik. Ternyata mudah , teori dan prinsip2-nya gampang diingat . Tidak jauh berbeda dengan konsep exposure pada umumnya dengan beberapa catatan seperti :
  • shutter speed mempengaruhi ambien exposure ( background )
  • inverse square law.. aga ribet nih diterangin tapi intinya exposure yang keluar dari flash akan berkurang secara bertahap dengan rumus inverse square law tersebut
  • ada tambahan lighting yaitu dari flash .. kita bisa control output-nya ( jika mode manual )
  • aperture dan ISO tetap fungsinya untuk mengatur cahaya yang masuk
Dan.. akhirnya setelah mendapat restu Istri tercintakuh dan setelah merelakan tidak jadi beli iPhone hehe , akhirnya terbeli juga beberapa perangkat strobist pemula. Oh ya.. saya memilih cara no 3 ( radio trigger ).  Lebih simple dan powerful karena tidak harus line-of-sight . Lagipula , sudah banyak asesoris yang 3rd party dan murah meriah . Tapi kan manual ?? ya .. trus ? hehehe .. saya juga mau ngetest ilmu manual-exposure nih . Sebenarnya ga ribet-ribet amat sih , asal konsep exposure sudah paham . Lagipula dengan mode Manual , foto yang dihasilkan tetap bisa konsisten dengan level exposure yang sama utk setiap foto. Ga harus tweak lagi di PS utk brightness controlnya kan? hehehe
  • Nikon SB24 , saya beli bekas nih mumpung ada yg jual dengan harga murah ( 950rb ) .. salah satu enaknya dengan radio trigger adalah kita tidak harus beli flash yang baru dan modern. Yang penting adalah bisa manual..lha wong yg dipake cuma manual power-nya kok :) . Nikon ?? karena satu kerabat :p .. ga ding , karena voltage-nya tergolong aman untuk di trigger dan ada PC socket .
    Btw.. saya masih cari flash lagi nih . Yg merasa ingin jual flash-nya dengan harga reformasi , post your offer in comment box below :) . Lho kok banyak? iya , sepertinya satu sumber lighting belum cukup euy .. minimal 2 , syukur2 dapat tiga :)
  • Radio trigger dari China .. murah meriah . 400-an saya sudah dapat 1 transmitter dan 2 receiver . Dapat dibeli di bursa FN mumpung masih ada . Penjualnya baik dan terpecaya.
    Kalau pny dana lebih , mending beli Pocket Wizard . Ini udah handal banget dan reliable. Saya mah masih dalam tahap belajar.. jadi yg ecek ecek dulu aja lah
  • Stuff .. ahhh iya .. asesoris tambahan seperti light stand , spigot , softbox , dll . Banyak juga sih.. itung-itung bisa kebeli iPhone juga nih :p
    But the good thing is .. komunitas strobist adalah komunitas kreatip . Semua asesoris tersebut bisa dirakit sendiri dari bahan-bahan rumahan yang ada . Misal softbox .. kayaknya pakai tutup tudung makanan juga bisa tuh :p atau cara lain ( Google )
Ok.. bosen teori ah. Praktek aja yuk .
hungry girl
hungry girl
Nikon SB24 saya letakkan menghadap ke dinding kulkas . Panggil anak saya “ra , ada es-krim di kulkas” .. dia buka pintu dan jepret . Mayan buat pemula lah (subyektif ) . Masih perlu banyak perbaikan sih .. misal lighting tambahan utk menunjukkan detil pintu / body kulkas hmm . Coba amati , background sekitarnya adalah hitam gelap. Padahal saya ambil foto nya pada kondisi lampu menyala lho .. kok bisa ?? kuncinya adalah saya menggunakan shutter speed yang tinggi yaitu 1/250s . Ingat poin yg saya sebutkan tadi .. shutter speed mengatur ambien exposure . Dan 1/250s sudah cukup untuk membuat ambien sekitar menjadi gelap. Satu2nya sumber cahaya yg ada ya dari flash tersebut ..  setting2 lain lupa ah.. ga penting kali :)
Hmmm .. segitu dulu deh. Stay tune .. kyknya saya bakal bnyk experimen dengan strobist ini . Klo ada yg salah2 mohon dikoreksi ya.. kan belajar sambil  menulis . yuk belajar bareng
Link belajar strobist :
belajar strobist dari awal
komunitas id strobist
artikel strobist di kompas

Source tukangmoto

Melukis Dengan Cahaya ( Teknik Photography)

13 Jan 2010
Kemajuan kamera, sudah membawa kita menembus batas kreativitas. salah satunya adalah, lahirnya teknik melukis dengan cahaya, seperti halnya menggambar di atas kertas. namun perbedaanya adalah pada media yang digunakan. melukis dengan cahaya adalah sebuah teknik yang menggunakan kamera sebagai alat untuk mereproduksi atau merekam cahaya, yang anantinya akan memadukan titik-titik cahaya menjadi sebuah gambar yang artistik. contoh foto yang sudah diaplikasikan dengan teknik melukis dengan cahaya , bisa kamu lihat di bawah ini.

Lalu, "bagaimana" ya untuk membuatnya?. nah, kali ini kita akan membahas bagaimana cara untuk menghasilkan foto-foto yang artistik. oh iya, munkin untuk kawan-kawan yang punya hobi grafiti (plus) fotografi, akan menyukai trik ini.

yang kamu bituhkan adalah.

1. Kamera SLR/DSLR













2. Tripod (Penyangga Kaki Tiga)

3. Lighting Source (Senter, Led, dsb)



Untuk penjelas lebih lengkapnya lagi, silahkan lihat tutorial-nya pada video dibawah ini





Teknik Foto Candid

Dalam fotografi, kita mengenal istilah candid camera. Ini berarti bahwa subjek yang kita potret tidak dalam kondisi berpose atau 'sadar' kamera (Foto Liputan). Hasilnya pun terlihat lebih natural, spontan, dan tidak dibuat-buat. Berikut tips nya:

1. Bawa kamera kemana pun Anda pergi. Siap-siaplah untuk menjepret setiap saat, karena momen menarik bisa hadir di depan mata kapan saja.

2. Perhatikan kondisi sekitar Anda. Hal-hal sederhana bisa menjadi objek menarik untuk dibidik dengan kamera Anda. Misalnya, pemilik toko yang tengah melamun, orang yang sedang menunggu kereta api, lansia yang duduk di sebelah Anda, dua sejoli yang sedang berpacaran dan sebagainya.

3. Sigaplah untuk siap membidik, karena tidak mudah mendapatkan kesempatan untuk mengambil gambar secara candid. Jadi ketika ada momen bagus, jangan ragu untuk langsung menjepret.

4. Jangan terlalu memusingkan teknik-teknik lighting yang rumit. Berfokuslah pada teknik yang sederhana, dan gunakan fitur otomatis kamera. Ini akan memudahkan Anda (Foto Liputan). Berbagai masalah teknis, seperti gambar terlalu terang atau gelap dapat disiasati dengan editing komputer.

5. Setinglah kamera pada ISO 400, sehingga kamera menggunakan shutter speed yang cepat. Hal ini memungkinkan Anda untuk menangkap momen dengan tepat meski Anda sedang bergerak.

6. Anda tidak perlu selalu memotret dengan kamera pada posisi mata. Mungkin, Anda bisa meletakkan kamera di pinggang saat mengambil gambar. Di sini memang dibutuhkan pengalaman dan keberuntungan untuk mendapatkan gambar yang bagus.

7. Gunakan lensa zoom paling maksimal sehingga Anda dapat menjaga jarak dari subjek jepretan Anda saat memotret.

8. Jangan pernah mengambil foto punggung orang, ini akan menghasilkan gambar yang membosankan.

9. Cobalah untuk meng-convert gambar ke posisi 'Black and White' untuk mendapatkan hasil yang lebih emosional.

10. Momen 'orang sedang melakukan sesuatu' akan menjadi foto candid yang bagus. Misalnya, atlet, pedagang, petani. Cobalah untuk meng-capture inti dari pekerjaan orang tersebut. Misalnya, meng-capture tukang ledeng yang sedang berkutat memperbaiki pipa bocor atau yang lainnya.

11. Jika Anda berada di tempat umum, sah-sah saja memotret orang (foto liputan). Jika Anda merasa tidak enak untuk mengambil gambar orang tanpa sepengetahuannya, tak ada salahnya Anda meminta izin. Mintalah subjek untuk tidak berpose, bersikap senatural mungkin dan tetap melanjutkan aktivitasnya.

12. Jangan pernah bosan untuk berlatih dan mencoba terus-menerus. Cobalah berbagai macam angle, tempat dan scene yang berbeda-beda. Anda juga bisa mencari inspirasi dari foto candid orang lain. Latihan terus menerus akan mengasah kemampuan Anda.

Belajar Shutter Speed

12 Jan 2010

Fotografi digital memudahkan kita memahami dunia fotografi, hasil jepretan langsung bisa di review melalui jendela LCD, sehingga kita bisa mengevaluasi hasil jepretan, karena data teknis yg berkaitan dengan Jepretan tadi terlihat dan terekam, berbeda dengan Fotografi Konvensional, dimana kita harus mencetaknya dulu baru dapat melihat, me-review dan mengevaluasi hasil jeperetan, data teknis-nya pun kita harus mencatatnya terlebih dahulu, sehingga butuh banyak biaya dan waktu yg terbuang untuk bisa memperbaiki kemampuan fotografi kita

Seni Fotografi digital bisa diibaratkan sebagai melukis dengan cahaya, dalam hal ini kamera dan Lensa yang menggantikan peran kuas dan cat. Ada dua hal yg memegang peranan terpenting dalam kamera dan lensa, yaitu Shutter Speed dan Aperture

Shutter Speed adalah lamanya waktu yg diperlukan untuk menyinari sensor CMOS ato CCD pada kamera digital, dan Film pada kamera konvensional. Pada Kemera tertera angka-angka 250,125,60,30,15 dst. Ini berarti lamanya penyinaran adalah 1/250 detik, 1/125 detik, 1/60 detik, dst.

Semakin besar angkanya berarti semakin cepat waktu yg digunakan, hal ini akan menciptakan efek diam (freeze), misalnya kita akan memotret objek yg sedang bergerak, misal mobil, dengan efek diam, kita memerlukan setidaknya shutter speed diatas 1/125 detik

Sebaliknya bila kita akan memotret objek tersebut dengan efek bergerak, maka dibutuhkan shutter speed kurang dari 1/125 detik, sebaiknya dilakukan dengan cara mengikuti arah gerak objek, hal ini disebut teknik panning,

Dua hal diatas tergantung juga dari kecepatan objek tersebut bergerak, semakin cepat objek bergerak, berarti semakin tinggi shutter speed yg dibutuhkan agar memperoleh efek diam atau bergerak yang kita inginkan, Perlu diperhatikan, semakin rendah shutter speed, akan mengakibatkan semakin besar juga kemungkinan terjadinya camera shaking, yg akan mengakibatkan hasil jepretan menjadi goyang dan tidak tajam

Agar aman, gunakan shutter speed diatas 30 atau 1/30 detik, kalo memang menginginkan shutter speed lebih rendah, misal 1/15 detik, 1/8 detik ato yg lebih rendah, gunakan gunakan penyangga ato tripod

Source Arielz

 

SixSense6 Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger