Kombinasi Antara Shutterspeed dan Diafragma :Semakin besar bukaan semakin banyak cahaya yang masuk Semakin lama speed semakin banyak cahaya yang masuk Maka saat kita ingin menggunakan speed cepat, sama saja kita telah mengurangi cahaya yang masuk. Otomatis kita harus mendapat cahaya yang lebih dengan membuka diafragma lebih besar. Kapan kita harus menggunakan speed 1/1000? (speed cepat) Kapan kita harus menggunakan speed 1/50? (speed lambat) Kapan kita harus menggunakan diafragma 3.5? (bukaan diafragma besar) Kapan kita harus menggunakan diafragma 22? (bukaan diafragma kecil).
Mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus menentukan dulu prioritasnya. Karena setiap setting mempunyai keuntungan masing-masing, dan juga menghasilkan efek yang berbeda-beda pula.
Jika kita ingin memotret benda yang bergerak dengan cepat, misalnya foto orang yang sedang meloncat, dan ingin objek itu benar-benar tampak diam, kita harus mengatur shutterspeed secepat mungkin. Misalnya setting shutterspeed 1/1000 detik, selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengatur diafragma agar indikator eksposure tetap berada di tengah.
Jika ingin menghasilkan efek “Panning” (misalnya foto motor atau mobil yang sedang berjalan dengan background yang seolah-olah bergerak), kita harus membuka kamera lebih lama sekitar 1/30 detik. Lalu ikutilah pergerakan objek yaitu motor atau mobil tadi. Karena kamera mengkuti pergerakan objek, maka objek akan tetap fokus namun background akan seolah-olah bergerak. Efek “Panning” tidak mungkin didapatkan melalui shutterspeed yang terlalu cepat. Pasti anda pernah melihat foto dengan suatu objek yang tajam dengan background yang blur. Teknik sangat digemari karena dapat memperkuat objek pada foreground dan juga terasa lebih artistik. Caranya adalah dengan bukaan diafragma yang besar, misalnya F/1.4, F/1.8, F/2, dst. Semakin kecil angka di belakang huruf F,semakin besar bukaannya.
Jika bukaan besar menghasilkan efek blur pada background, maka bukaan kecil menghasilkan efek tajam dari foreground sampai background. Bukaan kecil biasanya digunakan dalam memotret landscape, yang membutuhkan detail dan ketajaman di seluruh bagian foto.
Yang perlu diingat adalah setiap kita memprioritaskan untuk mengatur speed, maka pengaturan diafragma juga harus disesuaikan agar indikator eksposur tetap berada di tengah, Begitu juga sebaliknya.
Jika telah memahami akan kombinasi shutterspeed dan diafragma, maka kombinasi selanjutnya ditambah dengan ISO.
Ada beberapa kondisi, contohnya saat malam hari dan cahaya yang minim, kita sudah mengatur bukaan sebesar mungkin, agar indikator eksposure tepat di tengah hanya mendapat shutterspeed 1/5 detik yang sangat rawan akan blur atau shake. Padahal kita tidak boleh kehilangan momen. Tidak dapat juga menurunkan speed agar tidak blur, karena foto akan menjadi under eksposure alias gelap.Solusi dari masalah ini adalah menaikan ISO. Jika sebelumnya setting ISO 200, naikan menjadi ISO 400, 800, 1000, dst. Tergantung kebutuhan. ISO yang tinggi berarti menambah kemampuan kamera menangkap cahaya. Speed yang tadi hanya 1/5 bisa menjadi 1/60 detik dengan menaikan ISO. Efek samping dari menaikkan adalah munculnya bintik-bintik pada foto, biasa disebut noise atau grain.
Sangat mudah untuk menghasilkan eksposure yang tepat, hanya tinggal bermain-main sedikit dengan logika kita.
0 comments:
Posting Komentar
SixSense6 dibuat sebagai sarana media online untuk referensi bacaan artikel pribadi, yang mana isi dari artikel-artikel tersebut ada yang di ambil dari media on-line lainnya dan ada beberapa yang benar-benar dibuat oleh admin SixSense6.
Dan SixSense6 menerima jasa Digital Imaging, Photo dan Video Graphy bagi reka-rekan yang membutuhkan jasa untuk prewedd, wedding, gathering, dll
Terima kasih telah berkunjung dan jangan lupa meninggalkan komentar agar kita dapat saling berkunjung dikemudian hari..