Kiat Meningkatkan Kreatifitas Fotografi

15 Feb 2010
Dalam banyak seminar fotografi selalu muncul pertanyaan, apakah kemampuan fotografi bisa dilatih dan ditingkatkan. Pertanyaan ini berkaitan dengan beberapa pehobi fotografi yang merasa bahwa kemampuan fotografisnya sudah mentok dan merasa tidak punya tantangan lagi dalam melakukan hobinya tersebut. Benarkah kemampuan fotografi itu bisa naik turun?

Sebenarnya ilmu fotografi itu mirip dengan ilmu berenang. Sekali kita sudah bisa berenang sampai kapan pun tetap bisa walau sempat tidak bersentuhan dengan kolam sampai beberapa tahun. Namun, kecepatan dan daya tahan berenang seorang atlet tentu berbeda dengan orang yang hanya berenang agar sekadar bugar.

Dalam dunia fotografi, seorang yang sempat sangat mahir dalam bidang ini tetap punya mata yang baik dalam melihat dan menilai foto sampai kapan pun. Namun, kalau dia sempat lama tidak memotret, kepekaannya merekam pasti akan sangat menurun. Jadi, kemampuan melihat tetap, tetapi kemampuan menghasilkan yang akan menurun.

Bagaimana melatih kemampuan menghasilkan foto ini?

”Memotong” adegan

Fotografi adalah ”memotong” adegan dari realitas 360 derajat yang tiga dimensi ke dalam sepotong foto. Sebuah foto menjadi menarik karena ”terbatas”, alias cuma sebagian dari realitas. Maka, hal yang harus disadari dalam fotografi adalah kemampuan melihat ”sepotong” realitas itu. Foto yang bagus muncul dari kejelian sang fotografer menemukan potongan tersebut.

Orang yang tiap hari memotret pasti lebih jeli dalam melihat sebuah ”potongan yang indah”, sedangkan orang yang sudah jarang memotret mungkin tidak sadar bahwa di depannya terpampang sebuah bahan fotografi yang menarik.

Maka, melatih kemampuan dan kreativitas fotografi sebenarnya bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana. Tulisan ini mencoba menyederhanakan berbagai metode pelatihan fotografi yang pernah dilakukan di berbagai seminar dan pelatihan.

”Street photography”

Untuk mengasah kemampuan fotografi, kita bisa melakukan perjalanan keliling kota sambil memotret. Namun, kita hanya boleh memotret hal-hal yang tidak lazim atau yang bukan hal yang biasa kita lihat di berbagai foto. Dengan cara ini, kita mencoba ”meluaskan” apa yang selama ini kita jalani.

Contoh-contoh foto di halaman ini sedikit banyak akan memberikan gambaran pada latihan yang kita lakukan ini.

Foto A mencoba merekam bangunan tua yang bersanding dengan bangunan modern. Foto B adalah etalase sebuah toko pakaian. Memotret rak dasi tersebut juga mengasah kita untuk dapat memotret dengan perspektif yang baik, artinya tepi-tepi kotak yang lurus harus terpotret lurus.

Foto C adalah bagian dari sebuah tiang pelabuhan. Foto ini menantang kita untuk memotret sambil jongkok sebab kalau tetap berdiri, kita tidak mendapatkan ”adegan” ini. Penempatan baut, bagian besi, dan bagian kayu tiap orang akan berbeda. Di situlah kita berlatih komposisi.

Foto D sekadar memotret gembok tua pada warung warna-warni. Permainan bidang warna dan penempatan posisi gembok di bidang fotonya bisa mempunyai ratusan kemungkinan. Foto D melatih kita dalam merekam akurasi warna lewat penentuan white balance yang tepat, selain melatih komposisi.

Foto E adalah atap lobi sebuah hotel. Ada permainan gradasi di situ. Ada langit yang biru, ada bagian yang tercahayai, dan ada bagian yang dalam bayang-bayang. Selain melatih komposisi, foto ini juga melatih kita melakukan metering yang akurat.

Foto F adalah bayangan orang-orang yang berjalan di depan kita. Foto ini melatih kita bereaksi terhadap komposisi yang terus bergerak. Rasakan bahwa beda satu detik pun akan menghasilkan gambar yang sangat berbeda.

Foto G adalah memotret dari teropong di tempat wisata. Upaya ini adalah mencoba melihat dengan cara lain. Dalam dunia jurnalistik, kita melihat banyak wartawan memotret dari pantulan kaca spion, misalnya.

Adapun foto H adalah pola atap di hotel sebelah. Kemampuan melihat pola-pola komposisi bisa dilatih dengan banyak-banyak memotret aneka pola-pola yang ada di sekitar kita.

Contoh-contoh dalam tulisan ini akhirnya hanya sekadar contoh. Di dunia nyata sangat banyak subyek-subyek yang bisa kita lihat dan rasakan lalu kita rekam ke dalam selembar foto.

Anda bisa melakukan dan merancang latihan Anda sendiri. Arbain Rambey

Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/02/09/kiat-meningkatkan-kreatifitas-fotografi-51100

Kiat Memotret dari Dalam Mobil

Bepergian dengan mobil bukan berarti lalu waktu kita hilang begitu saja selama perjalanan. Sesungguhnya selama bepergian dengan mobil, kita berkesempatan mendapatkan foto-foto human interest. Kebiasaan berlalu lintas orang Indonesia yang masih sangat mengabaikan faktor keamanan adalah ladang perburuan foto yang luar biasa. Agar Anda tidak ikut menjadi bagian dari orang yang mengabaikan keselamatan lalu lintas ini, perlu diingatkan agar Anda tidak memotret saat mengemudi. Memotretlah saat Anda duduk sebagai penumpang saja.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk bisa memotret dari dalam mobil yang bergerak. Hal terpenting adalah kesiapan Anda menghadapi adegan-adegan yang bisa muncul setiap saat.

Adegan-adegan mengejutkan itu antara lain seperti yang bisa disaksikan di halaman ini, difoto oleh para wartawan Kompas dari sejumlah daerah di Indonesia. Di Bali, misalnya, seorang wanita bisa mengendarai sepeda motor sambil di kepalanya bertengger beban minuman dalam botol yang pasti tidaklah ringan.

Atau juga sebuah sepeda motor di daerah Bantul, Yogyakarta, yang mampu mengangkut ayam sampai puluhan ekor sekaligus. Demikian pula berbagai kenekatan orang bersepeda motor di Jakarta dengan antara lain membawa kerupuk dalam jumlah sangat banyak, atau anak-anak yang menumpang bajaj dengan cara jauh dari aman.

Kamera yang bisa dipakai untuk memotret dari dalam mobil tidak harus kamera tertentu. Asalkan dia punya lensa dengan rentang sekitar 24 milimeter sampai 70 milimeter (ekuivalen kamera 135 film), kamera itu siap dipergunakan.

Pilihan ISO bisa dipilih sekitar ISO 200 sampai ISO 800 tergantung kondisi jalan. ISO tinggi diperlukan agar Anda bisa mendapatkan kecepatan rana yang memadai dalam meredam guncangan kendaraan. Secara umum, ISO 400 adalah pilihan ISO yang terbaik dan teraman.

Diafragma yang paling sesuai untuk pemotretan dalam mobil adalah sekitar 5,6. Dengan pilihan ini, Anda mendapatkan depth of field (ruang tajam) yang cukup, sementara kecepatan rananya juga cukup tinggi. Kalau Anda mau lebih praktis, pilihlah mode pencahayaan A (aperture priority) pada ISO 400 dengan bukaan diafragma 5,6 untuk segala sisi pemotretan.

Hal-hal lain

Selain kamera yang siap bidik, beberapa hal lain wajib Anda perhatikan, antara lain:

  1. Kaca mobil harus dalam keadaan bersih. Manakala hari hujan, bersihkanlah butiran-butiran air dengan wiper terlebih dahulu.
  2. Jangan ada benda berwarna cerah di dashboard karena bayangan benda ini akan ikut terpotret. Kalau perlu, letakkan selembar kain hitam untuk menutup dashboard Anda agar imaji dari luar benar-benar bersih dalam rekaman foto nantinya.
  3. Manakala harus memotret saat kondisi jalan sangat tidak rata, usahakan agar tangan Anda bisa berfungsi sebagai peredam getaran. Posisikan kedua tangan yang memegang kamera bisa mengayun bebas melindungi kamera dari getaran yang terlalu menyentak. Kecepatan rana 1/1.000 detik secara umum mampu meredam getaran kondisi jalan aspal terburuk sekalipun.
  4. Lakukan kerja sama dengan pengemudi untuk memotret objek yang kebetulan berada tepat di depan mobil kita. Minta pengemudi agar bisa menyesuaikan kecepatan selayaknya. Arbain Rambey
Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/01/19/kiat-memotret-dari-dalam-mobil-48449

TEKNIK MEMOTRET Bagian 2

6 Feb 2010
Tidak jamannya lagi dimana fotografer harus mengambil beberapa gambar dari suatu gambar dan mengembangkan mereka untuk mencari tahu apakah gambar yang diambil telah sempurna. Beberapa fotografer bentuk seni ini mengacu kepada teknik ini sebagai “trial and error”.


Saat ini, ada jumlah fotografer yang telah memutuskan untuk bergeser dari titik teratur dan menembak dan tua model SLR yang digital. Melalui DSLR, mereka bisa mendapatkan lebih banyak waktu untuk berkonsentrasi dalam mengambil gambar yang besar karena gambar yang tidak setara dengan standar mereka hanya dapat dihapus pergi.
SLR adalah singkatan dari Single Lens Reflex. Namanya penggunaan lensa dan cermin. Cermin memantulkan cahaya yang memasuki lensa menjadi jendela bidik. Dengan demikian, seorang fotografer dapat memperkirakan bagaimana gambar akan mungkin muncul bila dikembangkan. Selain itu, sebuah kamera SLR terpisah menggunakan lensa yang dapat dipertukarkan, tergantung pada resolusi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, kamera ini dapat digunakan untuk menangkap gambar dengan kedalaman bervariasi.

Demikian pula, SLR digital atau kamera DSLR menggunakan lensa dan cermin. Tapi bukannya film yang merekam gambar, sebuah kamera DSLR menggunakan sensor cahaya dan digital chip memori. Dengan kata lain, sebuah kamera DSLR adalah versi komputer kamera SLR tradisional.

Namun, fungsi dari model ini agak berbeda, sehingga disarankan agar pengguna menghabiskan waktu untuk mengenal atau berkenalan dengan gadget ini. Pemilik harus menggunakan itu “trial and error” teknik dengan mengambil beberapa gambar dan menyimpan gambar yang lebih baik. Cepat atau lambat, pengguna pasti bisa hack model ini.

Individu yang memutuskan untuk menggunakan jenis kamera ini harus benar-benar berinvestasi pada kartu memori dan lensa. Jadi, jika mereka kebetulan menjadi profesional suatu hari nanti, peralatan tambahan pasti akan membuat mereka sibuk untuk memilih fotografi sebagai karier.

Berikut adalah beberapa tips-tips yang pasti akan membantu pemilik kamera DSLR dalam menangkap gambar yang sempurna dengan menggunakan seni baru fotografi digital.

1. Biasanya, orang mengambil gambar tubuh penuh dengan latar belakang. Namun, lebih tepat untuk mengambil bidikan dari bahu ke atas atau tubuh bagian atas salah satu gambar karena orang-orang dalam gambar benar-benar muncul kecil.

2. Jika melakukan hal di atas kebetulan teknik sulit bagi pengguna, ia dapat mengambil foto orang dengannya di salah satu sisi daripada di pusat. Maka pemilik hanya bisa memperbesar sehingga orang tampaknya berada di tengah.

3. Hukum optik tetap sama apakah menggunakan lama atau kamera digital. Sebagai contoh, jika matahari berada di belakang gambar, maka gambar akan siluet. Jika lampu di depan gambar, gambar akan tampak juling kecuali ada kacamata.

4. Gunakan sunglass Anda untuk bertindak sebagai polarizer untuk mengambil yang tidak perlu refleksi dari objek melotot.

5. Anda juga dapat menggunakan kacamata untuk meningkatkan eksposur objek.

6. Bila menggunakan polarizer, pastikan bahwa sumber cahaya tegak lurus ke objek.

7. Ubah setting Keseimbangan putih otomatis ke cerah berawan ketika memotret lanskap dan potret luar ruangan.

8. Jangan gunakan modus lampu kilat ketika pengaturan sudah cerah.

9. Zoom in untuk menekankan aset tertentu atau karakteristik dari subjek yang ditangkap.

10. Practice. Practice. Practice.

Itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa teknik-teknik dalam mendapatkan tembakan yang sempurna tidak berubah. Namun, menggunakan kamera digital dan mempekerjakan seni baru ini fotografi digital telah cukup membaik bidikan foto menangkap gambar dengan membuat mudah bagi semua orang.

Dengan kata lain, praktik adalah apa yang benar-benar membuat tembakan yang sempurna!

http://imisup.blogspot.com/2009/11/bagaimana-cara-mengambil-gambar-yang.html

TEKNIK MEMOTRET Bagian 1

Sebenarnya tugas kita saat memotret sangatlah mudah, kita hanya tinggal membuat sebuah garis indikator kecil (saat kita membidik) tepat berada di tengah dengan cara memutar-mutar settingan shutterspeed dan  diafragma di kamera kita. Jika indikator itu sudah berada di tengah, pencet tombol shutter, jadilah sebuah foto dengan eksposure yang tepat. Tentunya kondisi di atas jika dalam kondisi yang sempurna untuk memotret, antara lain dengan adanya cahaya yang cukup dan merata. Mengenai kondisi-kondisi lain, dan cara agar tetap menghasilkan eksposure yang tepat akan saya bahas di sini.

Kombinasi Antara Shutterspeed dan Diafragma :Semakin besar bukaan semakin banyak cahaya yang masuk Semakin lama speed semakin banyak cahaya yang masuk Maka saat kita ingin menggunakan speed cepat, sama saja kita telah mengurangi cahaya yang masuk. Otomatis kita harus mendapat cahaya yang lebih dengan membuka diafragma lebih besar. Kapan kita harus menggunakan speed 1/1000? (speed cepat) Kapan kita harus menggunakan speed 1/50? (speed lambat) Kapan kita harus menggunakan diafragma 3.5? (bukaan diafragma besar) Kapan kita harus menggunakan diafragma 22? (bukaan diafragma kecil).
Mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus menentukan dulu prioritasnya. Karena setiap setting mempunyai keuntungan masing-masing, dan juga menghasilkan efek yang berbeda-beda pula.

Jika kita ingin memotret benda yang bergerak dengan cepat, misalnya foto orang yang sedang meloncat, dan ingin objek itu benar-benar tampak diam, kita harus mengatur shutterspeed secepat mungkin. Misalnya setting shutterspeed 1/1000 detik, selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengatur diafragma agar indikator eksposure tetap berada di tengah.

Jika ingin menghasilkan efek “Panning” (misalnya foto motor atau mobil yang sedang berjalan dengan background yang seolah-olah bergerak), kita harus membuka kamera lebih lama sekitar 1/30 detik. Lalu ikutilah pergerakan objek yaitu motor atau mobil tadi. Karena kamera mengkuti pergerakan objek, maka objek akan tetap fokus namun background akan seolah-olah bergerak. Efek “Panning” tidak mungkin didapatkan melalui shutterspeed yang terlalu cepat. Pasti anda pernah melihat foto dengan suatu objek yang tajam dengan background yang blur. Teknik sangat digemari karena dapat memperkuat objek pada foreground dan juga terasa lebih artistik. Caranya adalah dengan bukaan diafragma yang besar, misalnya F/1.4, F/1.8, F/2, dst. Semakin kecil angka di belakang huruf F,semakin besar bukaannya.

Jika bukaan besar menghasilkan efek blur pada background, maka bukaan kecil menghasilkan efek tajam dari foreground sampai background. Bukaan kecil biasanya digunakan dalam memotret landscape, yang membutuhkan detail dan ketajaman di seluruh bagian foto.
Yang perlu diingat adalah setiap kita memprioritaskan untuk mengatur speed, maka pengaturan diafragma juga harus disesuaikan agar indikator eksposur tetap berada di tengah, Begitu juga sebaliknya.

Jika telah memahami akan kombinasi shutterspeed dan diafragma, maka kombinasi selanjutnya ditambah dengan ISO.

Ada beberapa kondisi, contohnya saat malam hari dan cahaya yang minim, kita sudah mengatur bukaan sebesar mungkin, agar indikator eksposure tepat di tengah hanya mendapat shutterspeed 1/5 detik yang sangat rawan akan blur atau shake. Padahal kita tidak boleh kehilangan momen. Tidak dapat juga menurunkan speed agar tidak blur, karena foto akan menjadi under eksposure alias gelap.Solusi dari masalah ini adalah menaikan ISO. Jika sebelumnya setting ISO 200, naikan menjadi ISO 400, 800, 1000, dst. Tergantung kebutuhan. ISO yang tinggi berarti menambah kemampuan kamera menangkap cahaya. Speed yang tadi hanya 1/5 bisa menjadi 1/60 detik dengan menaikan ISO. Efek samping dari menaikkan adalah munculnya bintik-bintik pada foto, biasa disebut noise atau grain.

Sangat mudah untuk menghasilkan eksposure yang tepat, hanya tinggal bermain-main sedikit dengan logika kita.

Pilihan kamera DSLR Bagi Pemula

Kalau saya sudah ingin upgrade kamera pocket saya, atau saya ingin beli DSLR sebaiknya saya beli kamera apa ya? Pertanyaan yang sering banget muncul kayaknya ya�.aku coba share pendapatku deh, kali aja bisa membantu (Note:karena saya ahli canon, maka kebanyakan yang aku sarankan disini adalah kamera / lensa untuk canon. Tapi bukan berarti nikon atau merk lain kurang ok. Hanya saja saya kurang paham)

Body :

- untuk pemula dan hanya hobby saja saya sarankan beli Canon 450D atau 1000D. Kamera ini relatif sangat canggih, dan harganya cukup kompetitif.
- Tapi kalau anda nantinya ingin upgrade ke yang lebih profesional maka saya sarankan beli saja Canon 400D, dengan harga yang lebih ekonomis anda bisa menabung untuk upgrade nantinya.
- Sedangkan bagi yang cukup serius dengan hobbynya bisa mempertimbangkan Canon 40D sebagai senjata andalan
- Canon seri 5D atau 1Ds Mark III tidak saya sarankan kecuali anda memang punya dana berlebih atau mau menjadi profesional


Lensa (wide � medium) sebagai lensa umum / multi fungsi :

- Untuk lensa jenis wide � medium sebagai pemula / budget terbatas dapat menggunakan lensa kit Canon EF-S 18-55 f3.5-5.6 II IS (bawaan dari beli body camera). Range dan kualitasnya not bad
- Apabila anda ingin upgrade tapi dengan harga yang relatif masih terjangkau coba lirik Tamron 17-50 f2.8 (budget recommendation). Lensa ini terkenal cukup murah tapi kualitas ketajaman lensanya jauh sekali dibandingkan lensa kit
- Untuk yang lebih profesional anda bisa coba Canon EF 17-40 f4 L atau Canon EF-S 17-55 f2.8 IS (keduanya highly recommended) atau Canon EF 16-35 II f2.8 (superb dan mahal)

Lensa (super wide) :

- Lensa lensa super wide biasanya digunakan untuk foto landscape / arsitektur. Harganya tidak murah, tapi anda bisa memilih diantaranya Canon EF 10-22 f3.5-5.6 (highly recommended), atau Tokina 12-24, Tokina 11-16 atau Sigma 10-20

Lensa (medium � tele) :

- lensa jenis ini bisa digunakan untuk memotret dari binatang sampai model. beberapa pilihan ekonomis diantaranya : Canon EF-S 55-250 f4-5.6 IS (budget recommendation) atau Canon EF 70-300 f4-5.6 IS
- pilihan yang sedikit lebih mahal adalah Canon EF 70-200 f4 L (recommended), kualitasnya jauh meninggalkan pilihan pilihan diatas
- pilihan yang lebih mantap lagi adalah : Canon EF 70-200 f4 L IS (highly recommended), Canon EF 70-200 f2.8 L dan Canon EF 70-200 f2.8 L IS (most expensive, tapi memang highly recommended

Ada beberapa lensa lain yang juga sangat menarik, diantaranya adalah Canon EF 100mm f2.8 Macro. Lensa ini sangat di rekomendasikan bagi mereka yang suka dengan fotografi makro. Selain untuk keperluan macro saya juga sering menggunakannya untuk foto model (portrait type).

Lensa fix lain yang juga menarik adalah EF 50mm f1.8 II. Lensa ini sangat murah, lensa termurah di antara jajaran canon lens. Tapi kualitasnya sendiri sebenarnya sangat baik. Walau kalau mengejar kualitas foto mungkin anda sama seperti saya akan memilih canon ef 50mm f1.4 sebagai kompromi antara canon ef 50mm f1.8 yang agak lambat auto fokusnya (dan terasa kurang kokoh) dengan canon ef 50mm f1.2 L yang harganya gila.

Selain body dan lensa apalagi yang dibutuhkan? Hanya 3 lagi koq :

- memory card, rekomendasi saya untuk memory card adalah sandisk 4GB. Bisa gunakan yang jenis Ultra II atau Extreme III. Sudah lebih dari cukup koq. Tidak perlu Extreme IV atau yang ukurannya 16GB. Tidak akan digunakan optimal.
- tas, kalau tidak ada tas lalu bawa � bawa kamera pakai apa? kalau saya suka dengan merk lowepro. Selain harganya cukup masuk akal kualitasnya juga cukup baik dan tahan lama. Mengenai jenisnya bisa pilih yang cocok dengan kebutuhan
- dry box, ini tempat penyimpanan kamera dan lensa. biasanya dilengkapi dengan silica gel untuk menjaga kelembaban. Maklum di Indonesia yang udaranya lembab ini lensa menjadi mudah terjangkit penyakit yang paling mematikan (nomor 2 setelah penyakit jatuh dan rusak) bagi lensa, JAMUR. So lebih baik keluarkan dana sedikit untuk membelinya, daripada lensa anda yang mahal terjangkit penyakit.

Sumber: (http://motoyuk.wordpress.com/2008/07/17/pilihan-kamera-dslr-bagi-pemula)

Memilih Lensa Untuk Foto Pemandangan

Pemilihan lensa tergantung pada apa yang akan ditampilkan dalam photo. Fotografer photo outdoor pemandangan biasanya hanya menggunakan satu atau dua lensa kesukaannya. Mereka biasanya memiliki cara pandang tertentu, baik bentuk, ruang dan kecerahan. Dengan demikian, mereka cenderung menggunakan lensa yang sama untuk berbagai macam gambarnya.

Sebenarnya tidak ada ada aturan khusus tentang penggunaan lensa untuk membidik pemandangan alam. Namun, umumnya fotografer lebih banyak menggunakan jenis lensa sudut lebar. Jenis lensa ini bisa menangkap pandangan photo outdoor lebih luas. Dampaknya, kebesaran serta keindahan alam akan lebih terasa.

Jika kita ingin berkonsentrasi pada suatu bentuk atau detail tertentu, mungkin salah satu bagian dari bentangan alamnya atau gejolaknya, maka kita bisa menggunakan lensa panjang (telephoto lens). Ada juga fotografer pemandangan yang menggunakan lensa zoom telefoto 80-200 mm sebagai lensa favoritnya.

Sewaktu memotret pemandangan, biasanya kita membutuhkan kedalaman ruang tajam yang lebih luas, atau kadang ingin menampilkan lebih banyak subjek dalam barisan atau susunan tertentu Untuk keperluan seperti ini, kita bisa menggunakan lensa sudut lebar antara 15-28 mm. Dengan pandangan seluas kira-kira 70 - 110�, maka kita bisa menangkap artistic photo susunan bentuk bentangan alam yang lebih lengkap. Alhasil, kita bisa memperoleh keindahan alam dalam perspektif lebih lengkap.

Lensa 35 mm atau 50 mm bisa juga digunakan, terutama untuk berkonsentrasi pada subjek tertentu atau memperoleh pandangan yang lebih terbatas dari pemandangan tersebut. Bisa menggunakan lensa sudut lebar 24 mm (super wide-angle lens) sebagai lensa utama. Melalui lensa ini, dapat memperoleh luas pandangan memadai, dan berkonsentrasi pada keindahan panorama secara menyeluruh.

Membidik dengan lensa sudut lebar seperti ini, biasanya membutuhkan ketepatan penajaman (focusing). Karena, semua elemen-elemen gambar tampil dalam skala sangat kecil. Saking kecilnya, seringkali elemen tersebut tidak begitu jelas terlihat pada jendela bidik, apakah mereka telah mencapai penajaman yang optimal atau tidak. Lensa telefoto juga bisa memberi dampak lain terhadap pemandangan yang direkam.

Melalui lensa ini, kita bisa membatasi pandangan dan berkonsentrasi pada subjek photo tertentu saja. Terutama pada hal-hal yang tampil unik.

Sebaiknya, kita membatasi jumlah lensa yang dibawa. Pilihlah lensa-lensa favorit yang akan digunakan saja. Membawa bermacam-macam lensa akan menjadi beban yang berat. Dan juga, akan banyak waktu terbuang untuk memperhatikan dan menjaga semua peralatan yang dibawa. Akibatnya, konsentrasi dan perhatian kita terhadap subjek artistic photo menjadi berkurang.


Sumber: (http://id.88db.com/id/Knowledge/Knowledge_Detail.page/Photo_Multimedia/?kid=25302)

 

SixSense6 Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger