Titip Ibuku Ya Allah

30 Okt 2009
” Nak, bangun… udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapkan di meja…”

Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bias mengingat. Kini usiaku sudah kepala 2 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Jasa, ATM Bersama, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.

” Ibu sayang… ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa ”

Pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca …. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ….. tapi entahlah…. Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya, ” Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ? ”

Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana . Terbata-bata Ibu berkata, ” Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri “.

Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam aku bermuhasabah.
" .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab, ” Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan . Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.”

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, ” Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. “

Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi… Ah, maafin kami Ibu …. 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?

” Nak… bangun nak, udah azan subuh … sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. “

Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan, ” Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu…”. Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu… Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu… “, namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita … Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.

Wallaahua’lam

“Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu…, dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil ”

Selamat Tinggal Ramadhan, Selamat Datang Kemenangan

19 Sep 2009
Lampung, 20 September 2009
By Aknal Hartanto

Pagi ini embun bertabur kilau emasnya,
Terdengar merdu lantunan syahdu menggema,
Kicau burungpun tak luput menyemarakkan nada,
Putih menjadi begitu berkharisma,

****
Ku dapati hari nan fitri pagi ini,
Meninggalkan bulan penuh berkah dan ampunanNya,
Akankah ku dapati kembali kesyahduan hari ini?
Hanya Allahlah yang tahu jawabnya,
Sebagai insan yang penuh dosa, hanya do'a terlisan indah penuh harap,
Semoga Allah pertemukan kembali,
Bulan penuh limpahan kenikmatan,
Di bulan Ramadhan,

****
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar,
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar,
Allahuakbar Waa lillahilham

****
Selamat Idul Fitri,
Selamat atas kemenangan,

Kau

15 Sep 2009
Menara Thamrin, 16 September 2009
By Aknal Hartanto


Kau bagaikan embun pagi hari yang menyejukkan rongga dada ku,
Kau bagaikan oase di padang pasir yang gersang dan tandus,
Kau bagaikan tempat labuhan yang meneduhkan bagi seorang musafir yang kelelahan,

****
Kau bagaikan penawar dari racun yang mematikan,
Kau bagaikan udara yang menjadikan setiap hembusan nafas begitu berarti,
Kau bagaikan tanah yang menjadikan setiap biji-bijian mempunyai makna,
Kau bagaikan langit yang menaungi kehidupan dibawahnya,
Kau bagaikan malam yang membawa asa kedalam peraduan,
Kau bagaikan matahari yang menerangkan bumi dari gelap gulitanya malam,

****
Dan Kau,
Hanya untuk Kau..

Argh, Emosi..!

14 Sep 2009
Jakarta, Selasa 15 September 2009
By Aknal Hartanto

Pusing,
Be Te,
Lengkap sudah hari ini ku awali,
Kenapa mesti begini seh,
Kenapa harus di awal pagi,
Argh, Emosi..!

Gila, dari mana asalnya tuh berita,
Oh dia, rupanya wanita yang berasal dari barat sumatera itu berita ini datang,
"Wooi, makanya perbaiki sistem dong, kalo begini kan kita-kita juga yang jadi korban atas ketololan sistem " Gumam ku,

Bagaimana tak emosi pagi ku hari ini,
Aku merasa semua tanggung jawab sudah ku tuntaskan,
Tapi apa kata mereka?
Aku masih belum menyelesaikannya,
Argh, Emosi..!

****
Bukan aku saja ternyata,
Dua teman baikku pun kena getah dari getirnya sistem yang bobrok,
Si Hitam dengan hidung mancungnya, Si Mata sipit dengan kaca minus-nya,
Mereka sama-sama keluhkan,
Mereka sama-sama sesalkan,

Tolonglah,
Kami sudah tuntaskan kewajiban kami,
Kami sudah lepaskan tanggung jawab kami,
Jangan hanya bisa sodorkan nominal saja, memang tidak besar buat anda,
Tapi nominal itu sangat berarti buat kami,

****
Kami bertanya,
Kami yang teledor atau kalian?
Kami yang salah atau kalian?
Hmm, baiklah kalo itu yang kalian mau, kami akan siapkan!

Argh, Emosi..!

Shubuh Ku

Jakarta 23 July 2009 ; 16:12
By Aknal Hartanto

Suara parau nan menyejukkan itu masih terdengar lirih di telinga hingga senja ini.

****
Oh Tuhan.. Siapakah orang itu..?
Tak kuasa betapa hebatnya, saat ku dengar senandung bait syair-syair kehidupan di haturkan kehadapan embun pagi, yang masih ku ingat sangat pekat menusuk sum-sum tulang ku.
Suara Beratnya, menambah harmonisasi nada si pelantun terdengar sangat menenangkan hati.

****
Oh.. Tuhan, Siapakah orang itu..?
Suara Adzan Subuh itu membuat ku terhenyak, terbangun, tersadar, betapa dia tau dengan apa yang musti dilakukannya. Dan aku di buatnya malu Subuh itu.

Mata terpejam, seakan takkan kembali terbuka.
Semakin dalam ku benamkan tubuh ini kedalam selimutku, seakan tak ingin ku tinggalkan mimpi ku di pagi ini.

****
Ahh..Tuhan, takkah kau lihat tingkah ku di subuh mu..?

Bantu aku..
Ampuni aku, akan Subuh ku..

Matahari Ku

Jakarta, Senin 14 September 2009
By Aknal Hartanto

Kamu bertanya pada ku malam ini, apakah dirimu baik-baik saja?
" Iya, Aku baik-baik saja dan Aku sedang menikmati hidangan teknologi hasil karya Tuan Antah Berantah ini " Jawab Ku.

Apakah jawaban ku kurang meyakinkan bagi mu?,
Apakah Aku terlalu buruk untuk kau percaya saat ini?,

Kau matahari ku sayank, percayalah akan itu,
Cukupkan kebahagianku dengan kau percaya aku,

Aku hanya seorang lelaki biasa, sama seperti mereka,
Aku hanya butuh, kau percaya akan Cinta yang ku tawarkan untuk mu,

Memang tak manis, tapi kurasa juga tak begitu pahit untuk Kau rasa,
Memang tak sempurna, tapi bukankah wanita Dia ciptakan untuk melengkapi kesempurnaan itu,

Bukankah kau yakin akan Cinta ku?
Atau hanya sekedar pemanis ucapmu saja rasa itu kau buat?
Agar kau terlihat sangat mencintaiku, sangat membutuhkan ku, sangat menyayangiku,
Tapi Aku sangat yakin, bahwa ku butuh kamu dalam hidup ku,

****
Lihatlah Matahari ku,
Aku akan selalu ada menatap mu,
Aku akan selalu berdiri mengirimu,
Sampai senja menenggelamkan wajah ku,
Aku akan tetap mencintai Mu..

Untuk Mu, Matahari.
 

SixSense6 Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger