Memahami Fotografi Konseptual

15 Feb 2010
Ada banyak penggolongan fotografi: fotografi jurnalistik, fotografi iklan, fotografi studio, fotografi lanskap, fotografi masakan, fotografi interior/eksterior, fotografi anak, dan sebagainya. Namun, dari semua penggolongan itu, fotografi sesungguhnya terbagi dalam dua ranah, yaitu ranah obyektif dan ranah subyektif.

Fotografi dalam ranah obyektif adalah foto-foto yang tampil sesuai kebutuhan bersama antara pemotret dan yang melihat foto itu. Yang masuk dalam kategori ini adalah foto jurnalistik dan juga foto-foto produk yang lain seperti contoh-contoh di alinea pertama tulisan ini. Ada sebuah kesepakatan tak tertulis dalam ranah ini sehingga seakan sudah ada standar bahwa foto harus begini dan begitu.

Adapun fotografi ranah subyektif adalah fotografi yang semata keluaran dari sang fotografer dengan medium fotografi, apa pun bentuknya. Perkara keluaran itu akan diterima orang atau tidak bukanlah masalah.

Kalau dibuatkan ibarat dalam dunia sastra, ranah subyektif ini mirip puisi. Sang penyair sungguh bebas mengungkapkan perasaannya dalam baris-baris kata dan kalimat. Akan ada orang yang suka, ada pula orang yang tidak suka pada sebuah puisi.

Salah satu contoh konkret fotografi ranah subyektif adalah foto-foto seni seperti yang ditawarkan di galeri-galeri foto. Akan ada orang yang sangat suka sebuah foto, tetapi ada pula orang yang kalau diberi dengan gratis pun akan menolak.

Fotografi ranah subyektif, sesuai namanya, punya pendekatan sangat subyektif. Rujukan bagus dan tidak bagus sama sekali tidak ada dan memang seharusnya tidak ada. Fotografi ranah ini tidak punya tolok ukur untuk bagus/tidak bagus, benar/salah, tetapi punya titik berat pada: apakah gagasan sang fotografer bisa diterima dan dimengerti oleh orang yang menikmati karya itu.

Dalam dunia nyata, ada fotografi yang terletak antara ranah obyektif dan ranah subyektif sekaligus, misalnya foto-foto seni pertunjukan. Pendekatan pemotretan seni pertunjukan sangatlah personal, tetapi foto seni pertunjukan adalah foto yang lumrah muncul di media massa sebagai foto jurnalistik juga.

Fotografi konseptual

Untuk lebih memahami fotografi dalam ranah subyektif, kita bisa menyaksikan pameran foto ”Toys” karya Agus Leonardus di Jogja National Museum, Gedung Patung, Yogyakarta, sampai 10 Januari ini.

Secara spesifik, foto-foto dalam pameran ”Toys” adalah fotografi konseptual, atau fotografi yang bertolak dari sebuah konsep dan pemikiran sang fotografernya.

Coba kita baca pengantar Agus Leornardus untuk pameran tunggalnya kali ini.

”Meski memperoleh perlakuan kasar dan tidak menyenangkan hatinya, anak kecil tidak kuasa melawan orang yang lebih dewasa. Ukuran fisiknya yang relatif kalah besar, menyurutkan nyalinya untuk memberikan perlawanan walau ia merasa telah diperlakukan tidak adil.

Perlakuan kasar yang diperolehnya bisa tersimpan lama di hatinya. Anak yang memperoleh perlakuan kasar semasa kecilnya bisa menjadi pemberang dan cenderung menyukai tindak kekerasan ketika ia dewasa.

Perlawanan yang dilakukan si kecil atas kekesalannya sering kali dilampiaskan terhadap makhluk lain yang lebih lemah daripadanya. Yang paling dekat dengan anak-anak adalah mainannya. Maka, dibantinglah boneka atau mainan lainnya hingga hancur lebur. Mereka, mainan itu, tentu tidak bisa memberikan perlawanan terhadap perusaknya karena mereka lemah tak bernyawa.

Mainan yang telah porak poranda menjadi artefak nyata dari pelampiasan kemarahan dan bentuk perlawanan kaum tertindas. Yang kuat menindas yang lemah, yang lebih lemah menindas yang lebih lemah lagi. Demikian seterusnya.

Dalam rangkaian ini, mainan anak menjadi makhluk yang paling lemah. Andaikata mereka punya nyawa dan energi, tentu mereka juga akan melakukan perlawanan atau minimal memperlihatkan ekspresi kemarahan.”

Pemikiran panjang

Agus menuturkan, dia sudah mulai memikirkan proyeknya ini sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

”Dan saya mulai mengumpulkan aneka permainan rusak sejak tahun 2000. Satu per satu saya pilah yang sesuai konsep dalam benak saya, lalu saya potret,” katanya kepada Klinik Fotografi Kompas (KFK) pekan lalu di ruang pamerannya.

Menyaksikan pameran ”Toys”, kita seakan masuk dalam ruang penyiksaan. Dengan dinding ruang pameran dicat hitam dan dengan penerangan beberapa lilin saja, aneka foto permainan rusak memang tampil mengerikan sekaligus mengenaskan.

”Suasana memang saya bangun begini sesuai dengan apa yang saya pikirkan tentang kekejaman skala kecil yang menular ini,” papar Agus.

Hanya begitukah fotografi konseptual? Tidak sedangkal itu.

Selain konsep dan penjabaran konsep harus melalui sebuah ”skenario” yang matang, sisi fotografi juga harus tetap kuat. Kalau Anda perhatikan, walau yang dipotret adalah mainan-mainan yang sudah rusak, ”Toys” menampilkan teknik fotografi yang prima.

Sudut pemotretan, pemilihan mainan yang akan dipotret, dan juga pencahayaan sungguh merupakan keluaran yang matang dan dalam sisi teknik sangatlah terpuji.

Bagi Agus, orang suka atau tidak suka pada pamerannya, itu bukanlah masalah utama. Dalam pameran ”Toys”, Agus menumpahkan keresahannya pada sebuah problem yang sesungguhnya ada di depan mata kita: kekejaman sehari-hari.

Psikolog dan para ahli pendidikan mungkin punya rumusan untuk masalah ini. Namun, sebagai fotografer, Agus Leonardus bereaksi dengan kameranya. Maka, lahirlah ”Toys” untuk Anda nikmati dan renungkan.


Arbain Rambey 
Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/01/05memahami-fotografi-konseptual-46548

Kiat Menggabungkan Dua Pencahayaan

 
Foto B karya Jimmy Yuwono di halaman ini sungguh menawan. Foto pernikahan yang kreatif ini menampilkan langit yang indah ditambah pencahayaan untuk model yang pas. Penggabungan cahaya alam dan cahaya buatan tidaklah semata untuk fill in (koreksi), tetapi merupakan upaya kreatif untuk mendapatkan foto yang jauh lebih kuat daripada kalau memakai semata satu sumber cahaya saja.

Membuat foto dengan pencahayaan gabungan adalah menggabungkan cahaya matahari (entah kuat atau redup) dengan cahaya buatan yang biasanya lampu kilat dengan berbagai tingkat kekuatan.

Sekarang, perhatikan foto A yang memotret pengusaha nyentrik Bob Sadino di teras rumahnya. Suasana pagi yang hangat memang menarik untuk jadi saat pemotretan. Namun, ada kendala utama, yaitu kalau Bob Sadino duduk di teras, cahaya matahari tidak mencapainya karena terhalang sebuah bagian atap teras. Hal ini terlihat di foto A bagian atas.

Akhirnya, bantuan cahaya lampu kilat membuat Bob Sadino seakan diterangi cahaya matahari langsung.

Langit pagi

Sementara foto D, yang memotret mantan Puteri Indonesia Nadine Chandrawinata dengan dua gajah sumatera, punya kasus yang sedikit berbeda.

Pemakaian lampu kilat bukan karena cahaya matahari terhalang atap teras seperti pada kasus foto A. Pada foto D ini, matahari memang belum muncul.

Pemilihan saat pemotretan kala matahari belum muncul adalah untuk mendapatkan warna langit pagi yang penuh warna. Saat matahari masih di bawah cakrawala memang menghasilkan aneka warna. Dan saat matahari telah muncul, aneka warna itu akan hilang.

Maka, ketiadaan matahari pada foto D digantikan lampu kilat dengan pengukuran yang pas.

Sementara foto C lain lagi. Foto artis dan politikus Rieke Dyah Pitaloka ini memakai lampu kilat karena cahaya matahari yang ada sudah tidak cukup kuat untuk mendapatkan kontras yang memadai dan juga tidak mampu untuk mendapatkan kecepatan rana yang cukup cepat.

Pemakaian lampu kilat pada foto C adalah ”meniru” dan menguatkan cahaya matahari. Dan untuk mendapatkannya, posisi lampu kilat diletakkan di posisi datangnya cahaya matahari.

Teori pencahayaan dasar

Menggabungkan pencahayaan alam dan pencahayaan buatan menuntut sang fotografer menguasai benar teori dasar pencahayaan. Hal paling penting yang harus disadari adalah beda pokok cahaya alami yang menerus (continuous) dan cahaya lampu kilat yang sekejap.

Dengan demikian, perhitungan kecepatan rana dan diafragma harus adaptif terhadap kedua tipe pencahayaan ini.

Sebenarnya perhitungan pencahayaan untuk pencahayaan gabungan ini bisa sangat rumit, misalnya dengan flash meter ke berbagai titik, tetapi juga bisa dibuat sangat gampang. Dengan kamera digital, kita bisa memudahkan pemotretan pencahayaan gabungan ini karena toh kita selalu bisa menganalisis hasil pemotretan kita setiap saat.

Secara umum, hal ini bisa dibagi menjadi dua macam perhitungan, yaitu, pertama, kalau lampu kilatnya bisa diatur kekuatannya dengan mudah. Yang kedua adalah kalau kita mau membiarkan kekuatan lampu kilat apa adanya pada kekuatan maksimumnya.

Hal terpenting adalah jangan memakai mode P, A, atau S. Pakailah mode M agar pilihan rana dan diafragma terkontrol. Kemudian, pakailah ISO serendah mungkin tergantung kekuatan lampu kilat kita. Kalau kita memakai lampu kilat portabel (kecil), ISO 400 mungkin memadai. Namun, kalau kita memakai lampu studio, ISO 100 atau bahkan lebih rendah lagi akan menghasilkan foto yang lebih tajam dan halus.

Pada cara yang pertama, kita ukur dulu kombinasi rana dan diafragma untuk latar belakangnya. Misalnya kita dapatkan kombinasi rana 1/60 detik dan diafragma 8. Lalu kita memotret lagi dengan kombinasi itu, tetapi sudah dengan tambahan lampu kilatnya. Perhatikan hasil pencahayaan oleh lampu kilatnya. Kalau terlalu terang, kekuatan lampu kilat tinggal dikurangi. Demikian pula sebaliknya kalau cahaya lampu kilat terlalu lemah.

Sementara dengan cara yang kedua, atau yang tanpa mengubah-ubah kekuatan lampu kilatnya, kita juga memulainya dengan mencari kombinasi rana dan diafragmanya. Katakanlah hasilnya rana 1/60 detik dan diafragma 8.

Setelah kita memotret lagi dengan tambahan lampu kilat, lalu kita analisis gambarnya. Kalau pencahayaan dengan lampu kilatnya terlalu terang, kita tentu harus mempersempit bukaan diafragmanya. Katakanlah tadi kita memakai 8, maka harus diubah menjadi 11.

Kemudian, karena difragma diubah menjadi 11, otomatis untuk membuat penyesuaian yang baik bagi latar belakangnya, kecepatan rana harus disesuaikan dari 1/60 menjadi 1/30 detik.

Ingat, lampu kilat hanya terpengaruh oleh bukaan diafragma. Selama kecepatan rananya masih di bawah kecepatan sinkron (agar aman, secara umum kamera digital punya batas kecepatan sinkron maksimal 1/200 detik), kecepatan mana pun yang dipilih tidak akan memengaruhi hasil. Namun, cahaya menerus (continuous) seperti cahaya matahari akan tergantung kombinasi rana dan diafragma sekaligus.

Jadi, pemotretan dengan pencahayaan gabungan menuntut adanya pemahaman bahwa kita menggunakan dua hukum pencahayaan. Yang pertama adalah hukum pencahayaan cahaya menerus yang mengombinasikan rana dan diafragma, serta hukum pencahayaan lampu kilat yang semata mendasarkan pada bukaan diafragma pada kecepatan sinkron. Arbain Rambey
Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/01/12/kiat-menggabungkan-dua-pencahayaan-47096



Kiat Meningkatkan Kreatifitas Fotografi

Dalam banyak seminar fotografi selalu muncul pertanyaan, apakah kemampuan fotografi bisa dilatih dan ditingkatkan. Pertanyaan ini berkaitan dengan beberapa pehobi fotografi yang merasa bahwa kemampuan fotografisnya sudah mentok dan merasa tidak punya tantangan lagi dalam melakukan hobinya tersebut. Benarkah kemampuan fotografi itu bisa naik turun?

Sebenarnya ilmu fotografi itu mirip dengan ilmu berenang. Sekali kita sudah bisa berenang sampai kapan pun tetap bisa walau sempat tidak bersentuhan dengan kolam sampai beberapa tahun. Namun, kecepatan dan daya tahan berenang seorang atlet tentu berbeda dengan orang yang hanya berenang agar sekadar bugar.

Dalam dunia fotografi, seorang yang sempat sangat mahir dalam bidang ini tetap punya mata yang baik dalam melihat dan menilai foto sampai kapan pun. Namun, kalau dia sempat lama tidak memotret, kepekaannya merekam pasti akan sangat menurun. Jadi, kemampuan melihat tetap, tetapi kemampuan menghasilkan yang akan menurun.

Bagaimana melatih kemampuan menghasilkan foto ini?

”Memotong” adegan

Fotografi adalah ”memotong” adegan dari realitas 360 derajat yang tiga dimensi ke dalam sepotong foto. Sebuah foto menjadi menarik karena ”terbatas”, alias cuma sebagian dari realitas. Maka, hal yang harus disadari dalam fotografi adalah kemampuan melihat ”sepotong” realitas itu. Foto yang bagus muncul dari kejelian sang fotografer menemukan potongan tersebut.

Orang yang tiap hari memotret pasti lebih jeli dalam melihat sebuah ”potongan yang indah”, sedangkan orang yang sudah jarang memotret mungkin tidak sadar bahwa di depannya terpampang sebuah bahan fotografi yang menarik.

Maka, melatih kemampuan dan kreativitas fotografi sebenarnya bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana. Tulisan ini mencoba menyederhanakan berbagai metode pelatihan fotografi yang pernah dilakukan di berbagai seminar dan pelatihan.

”Street photography”

Untuk mengasah kemampuan fotografi, kita bisa melakukan perjalanan keliling kota sambil memotret. Namun, kita hanya boleh memotret hal-hal yang tidak lazim atau yang bukan hal yang biasa kita lihat di berbagai foto. Dengan cara ini, kita mencoba ”meluaskan” apa yang selama ini kita jalani.

Contoh-contoh foto di halaman ini sedikit banyak akan memberikan gambaran pada latihan yang kita lakukan ini.

Foto A mencoba merekam bangunan tua yang bersanding dengan bangunan modern. Foto B adalah etalase sebuah toko pakaian. Memotret rak dasi tersebut juga mengasah kita untuk dapat memotret dengan perspektif yang baik, artinya tepi-tepi kotak yang lurus harus terpotret lurus.

Foto C adalah bagian dari sebuah tiang pelabuhan. Foto ini menantang kita untuk memotret sambil jongkok sebab kalau tetap berdiri, kita tidak mendapatkan ”adegan” ini. Penempatan baut, bagian besi, dan bagian kayu tiap orang akan berbeda. Di situlah kita berlatih komposisi.

Foto D sekadar memotret gembok tua pada warung warna-warni. Permainan bidang warna dan penempatan posisi gembok di bidang fotonya bisa mempunyai ratusan kemungkinan. Foto D melatih kita dalam merekam akurasi warna lewat penentuan white balance yang tepat, selain melatih komposisi.

Foto E adalah atap lobi sebuah hotel. Ada permainan gradasi di situ. Ada langit yang biru, ada bagian yang tercahayai, dan ada bagian yang dalam bayang-bayang. Selain melatih komposisi, foto ini juga melatih kita melakukan metering yang akurat.

Foto F adalah bayangan orang-orang yang berjalan di depan kita. Foto ini melatih kita bereaksi terhadap komposisi yang terus bergerak. Rasakan bahwa beda satu detik pun akan menghasilkan gambar yang sangat berbeda.

Foto G adalah memotret dari teropong di tempat wisata. Upaya ini adalah mencoba melihat dengan cara lain. Dalam dunia jurnalistik, kita melihat banyak wartawan memotret dari pantulan kaca spion, misalnya.

Adapun foto H adalah pola atap di hotel sebelah. Kemampuan melihat pola-pola komposisi bisa dilatih dengan banyak-banyak memotret aneka pola-pola yang ada di sekitar kita.

Contoh-contoh dalam tulisan ini akhirnya hanya sekadar contoh. Di dunia nyata sangat banyak subyek-subyek yang bisa kita lihat dan rasakan lalu kita rekam ke dalam selembar foto.

Anda bisa melakukan dan merancang latihan Anda sendiri. Arbain Rambey

Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/02/09/kiat-meningkatkan-kreatifitas-fotografi-51100

Kiat Memotret dari Dalam Mobil

Bepergian dengan mobil bukan berarti lalu waktu kita hilang begitu saja selama perjalanan. Sesungguhnya selama bepergian dengan mobil, kita berkesempatan mendapatkan foto-foto human interest. Kebiasaan berlalu lintas orang Indonesia yang masih sangat mengabaikan faktor keamanan adalah ladang perburuan foto yang luar biasa. Agar Anda tidak ikut menjadi bagian dari orang yang mengabaikan keselamatan lalu lintas ini, perlu diingatkan agar Anda tidak memotret saat mengemudi. Memotretlah saat Anda duduk sebagai penumpang saja.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk bisa memotret dari dalam mobil yang bergerak. Hal terpenting adalah kesiapan Anda menghadapi adegan-adegan yang bisa muncul setiap saat.

Adegan-adegan mengejutkan itu antara lain seperti yang bisa disaksikan di halaman ini, difoto oleh para wartawan Kompas dari sejumlah daerah di Indonesia. Di Bali, misalnya, seorang wanita bisa mengendarai sepeda motor sambil di kepalanya bertengger beban minuman dalam botol yang pasti tidaklah ringan.

Atau juga sebuah sepeda motor di daerah Bantul, Yogyakarta, yang mampu mengangkut ayam sampai puluhan ekor sekaligus. Demikian pula berbagai kenekatan orang bersepeda motor di Jakarta dengan antara lain membawa kerupuk dalam jumlah sangat banyak, atau anak-anak yang menumpang bajaj dengan cara jauh dari aman.

Kamera yang bisa dipakai untuk memotret dari dalam mobil tidak harus kamera tertentu. Asalkan dia punya lensa dengan rentang sekitar 24 milimeter sampai 70 milimeter (ekuivalen kamera 135 film), kamera itu siap dipergunakan.

Pilihan ISO bisa dipilih sekitar ISO 200 sampai ISO 800 tergantung kondisi jalan. ISO tinggi diperlukan agar Anda bisa mendapatkan kecepatan rana yang memadai dalam meredam guncangan kendaraan. Secara umum, ISO 400 adalah pilihan ISO yang terbaik dan teraman.

Diafragma yang paling sesuai untuk pemotretan dalam mobil adalah sekitar 5,6. Dengan pilihan ini, Anda mendapatkan depth of field (ruang tajam) yang cukup, sementara kecepatan rananya juga cukup tinggi. Kalau Anda mau lebih praktis, pilihlah mode pencahayaan A (aperture priority) pada ISO 400 dengan bukaan diafragma 5,6 untuk segala sisi pemotretan.

Hal-hal lain

Selain kamera yang siap bidik, beberapa hal lain wajib Anda perhatikan, antara lain:

  1. Kaca mobil harus dalam keadaan bersih. Manakala hari hujan, bersihkanlah butiran-butiran air dengan wiper terlebih dahulu.
  2. Jangan ada benda berwarna cerah di dashboard karena bayangan benda ini akan ikut terpotret. Kalau perlu, letakkan selembar kain hitam untuk menutup dashboard Anda agar imaji dari luar benar-benar bersih dalam rekaman foto nantinya.
  3. Manakala harus memotret saat kondisi jalan sangat tidak rata, usahakan agar tangan Anda bisa berfungsi sebagai peredam getaran. Posisikan kedua tangan yang memegang kamera bisa mengayun bebas melindungi kamera dari getaran yang terlalu menyentak. Kecepatan rana 1/1.000 detik secara umum mampu meredam getaran kondisi jalan aspal terburuk sekalipun.
  4. Lakukan kerja sama dengan pengemudi untuk memotret objek yang kebetulan berada tepat di depan mobil kita. Minta pengemudi agar bisa menyesuaikan kecepatan selayaknya. Arbain Rambey
Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/01/19/kiat-memotret-dari-dalam-mobil-48449

TEKNIK MEMOTRET Bagian 2

6 Feb 2010
Tidak jamannya lagi dimana fotografer harus mengambil beberapa gambar dari suatu gambar dan mengembangkan mereka untuk mencari tahu apakah gambar yang diambil telah sempurna. Beberapa fotografer bentuk seni ini mengacu kepada teknik ini sebagai “trial and error”.


Saat ini, ada jumlah fotografer yang telah memutuskan untuk bergeser dari titik teratur dan menembak dan tua model SLR yang digital. Melalui DSLR, mereka bisa mendapatkan lebih banyak waktu untuk berkonsentrasi dalam mengambil gambar yang besar karena gambar yang tidak setara dengan standar mereka hanya dapat dihapus pergi.
SLR adalah singkatan dari Single Lens Reflex. Namanya penggunaan lensa dan cermin. Cermin memantulkan cahaya yang memasuki lensa menjadi jendela bidik. Dengan demikian, seorang fotografer dapat memperkirakan bagaimana gambar akan mungkin muncul bila dikembangkan. Selain itu, sebuah kamera SLR terpisah menggunakan lensa yang dapat dipertukarkan, tergantung pada resolusi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, kamera ini dapat digunakan untuk menangkap gambar dengan kedalaman bervariasi.

Demikian pula, SLR digital atau kamera DSLR menggunakan lensa dan cermin. Tapi bukannya film yang merekam gambar, sebuah kamera DSLR menggunakan sensor cahaya dan digital chip memori. Dengan kata lain, sebuah kamera DSLR adalah versi komputer kamera SLR tradisional.

Namun, fungsi dari model ini agak berbeda, sehingga disarankan agar pengguna menghabiskan waktu untuk mengenal atau berkenalan dengan gadget ini. Pemilik harus menggunakan itu “trial and error” teknik dengan mengambil beberapa gambar dan menyimpan gambar yang lebih baik. Cepat atau lambat, pengguna pasti bisa hack model ini.

Individu yang memutuskan untuk menggunakan jenis kamera ini harus benar-benar berinvestasi pada kartu memori dan lensa. Jadi, jika mereka kebetulan menjadi profesional suatu hari nanti, peralatan tambahan pasti akan membuat mereka sibuk untuk memilih fotografi sebagai karier.

Berikut adalah beberapa tips-tips yang pasti akan membantu pemilik kamera DSLR dalam menangkap gambar yang sempurna dengan menggunakan seni baru fotografi digital.

1. Biasanya, orang mengambil gambar tubuh penuh dengan latar belakang. Namun, lebih tepat untuk mengambil bidikan dari bahu ke atas atau tubuh bagian atas salah satu gambar karena orang-orang dalam gambar benar-benar muncul kecil.

2. Jika melakukan hal di atas kebetulan teknik sulit bagi pengguna, ia dapat mengambil foto orang dengannya di salah satu sisi daripada di pusat. Maka pemilik hanya bisa memperbesar sehingga orang tampaknya berada di tengah.

3. Hukum optik tetap sama apakah menggunakan lama atau kamera digital. Sebagai contoh, jika matahari berada di belakang gambar, maka gambar akan siluet. Jika lampu di depan gambar, gambar akan tampak juling kecuali ada kacamata.

4. Gunakan sunglass Anda untuk bertindak sebagai polarizer untuk mengambil yang tidak perlu refleksi dari objek melotot.

5. Anda juga dapat menggunakan kacamata untuk meningkatkan eksposur objek.

6. Bila menggunakan polarizer, pastikan bahwa sumber cahaya tegak lurus ke objek.

7. Ubah setting Keseimbangan putih otomatis ke cerah berawan ketika memotret lanskap dan potret luar ruangan.

8. Jangan gunakan modus lampu kilat ketika pengaturan sudah cerah.

9. Zoom in untuk menekankan aset tertentu atau karakteristik dari subjek yang ditangkap.

10. Practice. Practice. Practice.

Itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa teknik-teknik dalam mendapatkan tembakan yang sempurna tidak berubah. Namun, menggunakan kamera digital dan mempekerjakan seni baru ini fotografi digital telah cukup membaik bidikan foto menangkap gambar dengan membuat mudah bagi semua orang.

Dengan kata lain, praktik adalah apa yang benar-benar membuat tembakan yang sempurna!

http://imisup.blogspot.com/2009/11/bagaimana-cara-mengambil-gambar-yang.html

TEKNIK MEMOTRET Bagian 1

Sebenarnya tugas kita saat memotret sangatlah mudah, kita hanya tinggal membuat sebuah garis indikator kecil (saat kita membidik) tepat berada di tengah dengan cara memutar-mutar settingan shutterspeed dan  diafragma di kamera kita. Jika indikator itu sudah berada di tengah, pencet tombol shutter, jadilah sebuah foto dengan eksposure yang tepat. Tentunya kondisi di atas jika dalam kondisi yang sempurna untuk memotret, antara lain dengan adanya cahaya yang cukup dan merata. Mengenai kondisi-kondisi lain, dan cara agar tetap menghasilkan eksposure yang tepat akan saya bahas di sini.

Kombinasi Antara Shutterspeed dan Diafragma :Semakin besar bukaan semakin banyak cahaya yang masuk Semakin lama speed semakin banyak cahaya yang masuk Maka saat kita ingin menggunakan speed cepat, sama saja kita telah mengurangi cahaya yang masuk. Otomatis kita harus mendapat cahaya yang lebih dengan membuka diafragma lebih besar. Kapan kita harus menggunakan speed 1/1000? (speed cepat) Kapan kita harus menggunakan speed 1/50? (speed lambat) Kapan kita harus menggunakan diafragma 3.5? (bukaan diafragma besar) Kapan kita harus menggunakan diafragma 22? (bukaan diafragma kecil).
Mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus menentukan dulu prioritasnya. Karena setiap setting mempunyai keuntungan masing-masing, dan juga menghasilkan efek yang berbeda-beda pula.

Jika kita ingin memotret benda yang bergerak dengan cepat, misalnya foto orang yang sedang meloncat, dan ingin objek itu benar-benar tampak diam, kita harus mengatur shutterspeed secepat mungkin. Misalnya setting shutterspeed 1/1000 detik, selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengatur diafragma agar indikator eksposure tetap berada di tengah.

Jika ingin menghasilkan efek “Panning” (misalnya foto motor atau mobil yang sedang berjalan dengan background yang seolah-olah bergerak), kita harus membuka kamera lebih lama sekitar 1/30 detik. Lalu ikutilah pergerakan objek yaitu motor atau mobil tadi. Karena kamera mengkuti pergerakan objek, maka objek akan tetap fokus namun background akan seolah-olah bergerak. Efek “Panning” tidak mungkin didapatkan melalui shutterspeed yang terlalu cepat. Pasti anda pernah melihat foto dengan suatu objek yang tajam dengan background yang blur. Teknik sangat digemari karena dapat memperkuat objek pada foreground dan juga terasa lebih artistik. Caranya adalah dengan bukaan diafragma yang besar, misalnya F/1.4, F/1.8, F/2, dst. Semakin kecil angka di belakang huruf F,semakin besar bukaannya.

Jika bukaan besar menghasilkan efek blur pada background, maka bukaan kecil menghasilkan efek tajam dari foreground sampai background. Bukaan kecil biasanya digunakan dalam memotret landscape, yang membutuhkan detail dan ketajaman di seluruh bagian foto.
Yang perlu diingat adalah setiap kita memprioritaskan untuk mengatur speed, maka pengaturan diafragma juga harus disesuaikan agar indikator eksposur tetap berada di tengah, Begitu juga sebaliknya.

Jika telah memahami akan kombinasi shutterspeed dan diafragma, maka kombinasi selanjutnya ditambah dengan ISO.

Ada beberapa kondisi, contohnya saat malam hari dan cahaya yang minim, kita sudah mengatur bukaan sebesar mungkin, agar indikator eksposure tepat di tengah hanya mendapat shutterspeed 1/5 detik yang sangat rawan akan blur atau shake. Padahal kita tidak boleh kehilangan momen. Tidak dapat juga menurunkan speed agar tidak blur, karena foto akan menjadi under eksposure alias gelap.Solusi dari masalah ini adalah menaikan ISO. Jika sebelumnya setting ISO 200, naikan menjadi ISO 400, 800, 1000, dst. Tergantung kebutuhan. ISO yang tinggi berarti menambah kemampuan kamera menangkap cahaya. Speed yang tadi hanya 1/5 bisa menjadi 1/60 detik dengan menaikan ISO. Efek samping dari menaikkan adalah munculnya bintik-bintik pada foto, biasa disebut noise atau grain.

Sangat mudah untuk menghasilkan eksposure yang tepat, hanya tinggal bermain-main sedikit dengan logika kita.

 

SixSense6 Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger