White Balance (WB)

22 Des 2010
Berikut ini twit2 tentang White Balance.
Dikemas dalam beberapa twit yg diberi nomor urut agar mudah mempelajari dan mencarinya. By Arbain rambey


  1. Selembar kertas HVS berwarna putih bukan? Kalau disinari dgn cahaya kekuningan, dia akan terpotret kekuningan juga...
  2. Kalau kertas HVS itu disinari sinar kebiruan, dia juga akan terpotret kebiruan...
  3. Kalau selembar kain yg berwarna merah disinari cahaya kekuningan, dia akan terpotret sebagai oranye atau merah muda
  4. Kalau kain merah tadi disinari cahaya kebiruan, dia akan terpotret seakan berwarna ungu...
  5. Sedangkan benda yg berwarna hitam, disinari cahaya apa pun tetap tampak hitam...
  6. Baru saja kita membahas tiga macam warna. Putih, warna lain dan hitam. Hanya putih dan warna lain yg berubah warna sesuai cahaya yg ada
  7. Perhatikan! Apa beda putih dan warna lain yg sama2 berubah sesuai cahaya yang ada?
  8. Dlm selembar foto yg tercahayai dgn salah, putih mudah dikoreksi sebab orang selalu terbayang aslinya putih itu seperti apa...
  9. Sedangkan warna lain, dalam foto sulit dibayangkan aslinya seperti apa. Itu sebabnya putihlah yg dijadikan tolok ukur koreksi....
  10. Maka toplok ukur kebenaran warna dlm selembar foto selalu mengacu ke warna putih. Itu yg disebut WHITE BALANCE...
  11. Anda tahu bahwa di alam ini banyak warna cahaya. Ingat pelangi? Merah jinga kuning...hijau biru ungu ?
  12. Aneka warna itu lalu dipetakan dalam Derajat Kelvin. Sangat merah di 0 derajat Kelvin, sangat ungu di 12.000 derajat Kelvin
  13. Secara umum, kamera yg ada di pasaran mampu menyesuaikan diri dari 1000 derajat Kelvin sampai 10.000 derajat Kelvin...
  14. Bagaimana menyesuaikan setelan WB pada kamera untuk warna yg akurat ?
  15. Dalam urutan drrajat Kelvin, warna cahaya kuning ada di sekitar 3000 derajat Kelvin, hijau di sekitar 4000, biru di 8000...
  16. Cahaya matahari siang ada di 5000 derajat Kelvin. Mata manusia normal sesuai dgn cahaya ini, shg daylight adalah patokan utama
  17. Jadi, kalau kamera Anda di set untuk daylight (logo matahari), artinya kamera ANda disiapkan untuk terima cahaya yg suhunya 5000 K
  18. Dan kalau kamera yg di set untuk "daylight" dipakai memotret dlm suasana cahaya kekuningan, gambar yg dihasilkan akan kekuningan jg
  19. Sedangkan kalau kamera yg di set untuk WB 3000K (gambar bohlam) lalu dipakai memotret outdoor siang, foto akan kebiruan...
  20. Sebaliknya, kalau kamera di set ke gambar awan (sekitar 8000K) lalu dipakai memotret suasana siang normal, foto akan kekuningan..
  21. Ingat, kuning atau cahaya bohlam, itu 3000K. Biru atau gambar awan itu 8000K. Matahari normal 5000K
  22. Dalam kamera 2 yg ada, gambar bohlam adalah 3000K, gambar neon adalah 4000K, gambar matahari 5000K, gambar awan 7000 atau 8000K
  23. Sesuaikan setting kamera ANda sesuai dgn cahaya yg akan menyinari foto ANda. Kalau motret dlm ruangan yg bohlam, set ke gbr bohlam.
  24. Kalau memotret di outdoor dgn suasana berawan, set kamera Anda lke gambar awan....
  25. Kalau memotret outdoor biasa dlm suasana cerah, bisa ke gambar matahari atau 5000 atau 5500 K...Kenapa ?
  26. Cahaya matahari sesungguhnya 5000K. Tp langit biru ikut membirukan foto kita sehingga koreksi 500K perlu diberikan. Jadi, 5500K
  27. Gambar bohlam boleh digantikan 3000 atau 3500K...
  28. Gambar setting rumah dgn bayangan itu menandakan sekitar 8000 sampai 9000K, yaitu kondisi di bawah bayangan, misal bawah pohon
  29. Di bawah bayangan itu diberi Kelvin tinggi karena yg mencahayai foto kita adalah pantulan langit biru semata, atau sangat biru
  30. Jadi, agar foto kita warnanya benar, kita harus set kamera pada tipe cahaya yg mencahayai foto kita...
  31. Kalau foto Anda kekuningan, artinya setting kamera ketinggian. Turunkan Kelvinnya, misal dari 5000 ke 3000
  32. Kalau foto Anda kebiruan, naikkan setting kamera Anda, misal dari 5000 ke 8000 atau dari gambar matahari ke gambar awan
  33. Cahaya matahari pagi atau sore jadi kuning (sekitar 4000K) karena dia jatuhnya miring, melewati udara yg "panjang"..
  34. Memotret sunset atau sunrise agar dramaris, bisa dgn manipulasi WB. Pasang kamera di 8000K...
  35. Kalau memotret sunrise/sunset dgn setting benar secara logika (yaitu 4000K) , suasana yg terekam berwarna PUTIH!
  36. Tidak selalu kamera harus di set seusai dgn cahaya yg ada. Membuat settng yg salah kadang justru membuat foto menarik..
  37. Memotret sunrise/sunset dgn settting berawan, membuat pantulan air berwarna keemasan...
  38. KOde WB dgn gambar "flash" sesungguhnya untuk cahaya lampu kilat. Tp, lampu kilat yg baik seharusnya daylight...
  39. Tetapi, lampu kilat genggam yg ada umumnya bersuhu lebih tinggi dp daylight sehingga dibuatkan setting tersendiri
  40. Kalau Anda memakai lampu kilat yg nempel di kamera dan diarahkan langsung, pakailah WB gambar petir...
  41. Foto yg baik adalah foto yg warnanya sesuai dengan yg dilihat mata normal di bawah cahaya matahari yg normal pula...
  42. Tapi tak selalu foto yg WB nya tepat adalah foto yg bagus. Suasana kekuningan kadang malah membuat "hangat". Agak kebiruan: mewah!
  43. manakala warna begitu penting,memotretlah dgn format RAW. File RAW bisa mentoleransi kesalahan warna SEPARAH APAPUN!
  44. Demikianlah sedikit paparan tentang White Balance. Semoga berguna...baca seusai urutan angka yg saya berikan...
  45. TAMBAHAN: tidak semua kamera bisa setting pakai angka Kelvin. Manakala tidak bisa, pakailah kode2 simbol yg ada....
  46. Hanya kamera seri pro dan semipro yg bisa setting dgn angka Kelvin.....

Kultwit besok malam (juga dalam 45 twit), tentang fotografi panggung...OK?

Teori Dasar Fotografi (Pencahayaan)

21 Des 2010
Oleh Arbain Rambei via Twitter

  1. Foto tercipta dengan kerja sama lensa dan kamera.
  2. Pada lensa terdapat diafragma yang mengatur besar kecilnya cahaya yang akan masuk ke kamera.
  3. Pada kamera ada rana yang mengatur lama sebentarnya cahaya masuk ke dalamnya
  4. Perhatikan dua kombinasi dari poin 3. Di lensa ada diagrafgma yg menyangkut soal BESAR/KECIL, di kamera ada rana yg soal LAMA/SEBENTAR
  5. Jadi, masuknya cahaya ke kamera sampai menghasilkan foto menyangkut besar/kecilnya cahaya dan lama/sebentarnya dia menyinari.
  6. Foto yg baik, tercahayai dgn benar. Benar ukuran cahayanya, benar lama penyinarannya. Artinya kerjasama diafragma dan rana harus TEPAT!
  7. Soal pencahayaan dgn benar ini, mari ambil analogi orang mengisi ember pakai kran.
  8. Kalau krannya dibuka lebar, menghisi embernya cepet. Kalau kran dibuka kecil, ngisi embernya lama.....ya gak ?
  9. Mari bawa logika kran tadi ke kamera. Kalau diafragma dibuka lebar, rana hrs cepat nutup. Kalau diafragma dibuka kecil, rana dibuka lama.
  10. Kran yg dibuka besar dan waktunya lama--->ember meluap. Diafragma yg dibuka besar dgn rana lama, foto kelebihan cahaya ---> pucat!
  11. Kran dibuka kecil dgn waktu sebantar--->ember tak penuh. Diafragma dibuka kecil dgn rana sebentar--->foto kekurangan cahaya (gelap)
  12. Foto kelebihan cahaya disebut over exposure, atau biasa disebut OVER saja...
  13. Foto yg kekurangan cahaya disebut under exposure atau bisa disebut UNDER saja..
  14. Penegasan: Foto yang baik adalah foto yg tercahayai dengan pas, tidak UNDER dan tidak OVER
  15. Foto yg tercahayai dengan baik adalah hasil kombinasi diafragma dan rana yang pas.
  16. Kalau saja Anda memotret lalu terlihat OVER, ulangi lagi dgn diafragma yg lebih kecil atau rana yang lebih cepat (waktu lebih singkat).
  17. Sedangkan kalau Anda memotret hasilnya UNDER, ulangi lagi dgn diafragma yg lebih besar atau rana yang lebih lambat.
  18. Diafgragma klasik (zaman lensa manual) dinyatakan dalam angka2 sebagai berikut 1 -1,4 -2- 2,8- 4 -5,6 -8 -11 -16- 22 dst.
  19. Angka diafragma makin besar, artinya bukaan makin sempit. Dari satu angka diafragma ke angka diafragma yg lain disebut satu STOP.
  20. Di era digital, angka diafragma makin rumit walau cara kerjanya sama persis. Untuk gampangnya, kultwit ini memakai angka diafragma klasik
  21. Sedangkan rana dinyatakan dalam angka2 yg artinya seper detik. Angka 500 artinya seperlimaratus detik.
  22. Angka rana klasik: 2-4-8-15-30-60-125-250-500-100-200-4000
  23. Kenaikan antar angka rana juga disebut 1 STOP....
  24. Satu STOP difragma nilainya persis sama dgn satu STOP rana. Artinya jika diafragma dikecilkan 1 Stop, rana dilambatkan 1 Stop agar imbang
  25. CONTOH: diafragma 5,6 dgn rana 125 itu sama dengan diafragma 8 dgn rana 60. Coba dipikirkan baik2 dulu....
  26. Diafragma 11 dgn rana 125 itu sama dengan diafragma 5,6 dgn rana 500....
  27. Diafragma 11 dgn rana 125, sama dengan diafragma 16 dgn rana 60....
  28. OK...itu tadi kombinasi dua arah antara diafragma dan rana saja.....Dlm fotografi, kombinasi itu ada 3, dan satu lagi adalah ISO.....
  29. Mari kita mulai merambah ke ISO.....Dan kita kembali memakai analogi mengisi ember pakai kran...
  30. Apa yg harus kita lakukan kalau aliran kran kecil sementara kita juga buru2?...bagaimana supaya ember bisa penuh? Jawaban: GANTI EMBER!
  31. Ganti ember dalam fotografi adalah ganti ISO....mana kala ember tidak penuh, kita ganti ember kecil PASTI PENUH...
  32. Jadi manakala kita sudah buka diafragma lebar2, tapi tidak bisa melambatkan rana lagi, naikkan ISO!
  33. ISO adalah kepekaan sensor kamera terhadap cahaya. makin tinggi ISO, makin peka terhadap cahaya (alias ukuran ember makin kecil)
  34. Angka ISO dinyatakan dgn 50-100-200-400-800-1600-3200-6400 dst...Makin besar angkanya, makin peka cahaya. Antar angka ISO adalah 1 STOP
  35. ISO dalam era digital SAMA PERSIS dgn ISO di jaman dulu. Semua teori dasar fotografi analog dan digital SAMA PERSISSSSSSSS...
  36. OK...kini kita sudah masuk ke segitiga. Bukaan kran, lama ngisi ember dan besarnya ember.......
  37. Kalau kita mau mengubah-ubah tingkat pencahayaan, kita bisa memainkan nilai stop dari tiga arah: dari diafragma, dari rana atau dari ISO
  38. Sebelum menjabarkan efek ISO tinggi atau efek bukaan diafragma besar, kita perjelas hubungan dafragma, rana dan ISO dulu dgn soal contoh
  39. Kombinasi ISO 400, diafragma 8 dan rana 500 setara dgn ISO 400, diafragma 5,6 dan rana 1000
  40. Kombinasi ISO 400, diafragma 8 dan rana 500 setara dgn ISO 800, diafragma 8 dan rana 1000
  41. OK! pelajari berbagai contoh tadi. Rasakan logika ini dgn analogi mengisi ember (buka kran besar apa efeknya, ember kecil apa efeknya)
  42. Itu adalah cara bagaimana mendapatkan pencahayaan yang tepat....Itu adalah TEORI DASR FOTOGRAFI yang baik dan benar (dan tidak sombong)
  43. ISO makin tinggi, foto yg dihasilkan makin kasar ("berpasir", alias grainy)
  44. Diafragma makin sempit (angkanya makin besar), Depth of Field (DOF) makin lebar...
  45. DOF adalah ruang tajam. DOF yg lebar membuat beberapa meter di depan dan di belakang titik fokus ikut terekam tajam
  46. OKAAAAYYYY segitu dulu untuk hari ini...besok dilanjut teori lain....(TEORI White Balance)

20 Tips Singkat Fotografi

6 Okt 2010
Berikut 20 tips singkat fotografi untuk anda menambah informasi dan kemampuan fotografi anda, saya yakin beberapa sudah pernah dilakukan tetapi semoga beberapa lainnya merupakan informasi baru. Klik tanda ? (jika ada) disebelah kanan masing-masing tip untuk melihat informasi yang lebih detail. Silahkan:


  1. Untuk melatih kemampuan panning anda, potretlah benda yang sedang bergerak dengan kecepatan normal (orang naik motor misalnya), gunakan mode shutter priority dan set shutter speed maksimal 1/30 detik, lebih lambat lebih baik. Perhatikan background anda! ?
  2. Untuk memotret makro (jarak super dekat), aktifkan fitur Live View kamera digital anda agar lebih mudah memeriksa depht of field dan fokus.
  3. Filter CPL (polarisasi) sangat berguna untuk menghilangkan pantulan sinar matahari di air dan kaca, dan juga berfungsi memperbaiki warna langit. Pernahkah anda mengenakan kacamata hitam dengan polariser?
  4. Saat memotret bayi/anak-anak, pastikan anda memusatkan perhatian ke mata. Tak ada yang bisa mengalahkan keindahan mata anak-anak.  ?
  5. Megapiksel bukanlah fitur terpenting dari sebuah kamera, ukuran sensorlah fitur yang paling penting
  6. Untuk foto portait (wajah) di luar ruangan, usahakan ketika cuaca sedang mendung. Kalaupun tidak, carilah daerah yang redup dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sinar matahari membuat bayangan yang keras di wajah.
  7. Ketika anda memotret di kondisi minim cahaya dan kesusahan menggunakan autofokus, gantilah dengan manual fokus. Fitur autofokus dikamera biasanya cukup lama mencari titik fokus di kondisi remang-remang. ?
  8. Untuk foto siluet, pastikan anda matikan flash serta gunakan mode sunset (untuk kamera pocket), untuk SLR gunakan mode manual dan ukurlah eksposur di area terang di belakang obyek. ?
  9. Download-lah buku manual versi pdf untuk kamera anda, sehingga anda mudah melakukan pencarian secara cepat untuk kata yang ingin anda ketahui dibanding harus membolak-balik halaman kertas. ?
  10. Sebelum berangkat memotret, periksa kembali setting kamera anda, jangan sampai anda mneggunakan setting yang salah (memotret landscape dengan ISO 1000 misalnya). Menurut para fotografer pro, urutan pengecekan yang baik adalah berikut: cek White Balance – aktifkan fitur Highlight warning – cek settingan ISO – cek ukuran Resolusi foto anda.
  11. Formatlah memory card hanya di kamera, jangan pernah memformat memory card dikomputer. Selain jauh lebih cepat dan mudah juga jauh lebih aman jika anda melakukannya di kamera.
  12. Jika anda memiliki kapasitas hard disk berlebih di komputer serta suka melakukan foto editing, gunakan format RAW saat memotret, jika tidak cukup gunakan JPG. ?
  13. Jika anda benar-benar menyukai fotografi landscape, fotolah di jam-jam berikut: dari jam 5 sampai jam 8 pagi, serta dari jam 4 sampai jam 7 sore.
  14. Ketika memotret, lihatlah area paling terang yang masuk ke viewfinder anda. Kalau terangnya terlalu mencolok dibanding area lain, gantilah sudut pemotretan.
  15. Untuk memotret HDR, gunakan mode auto bracket. Satu lagi: untuk foto HDR landscape yang dahsyat, tunggulah sampai muncul mendung sedikit, lalu mulailah memotret. ?
  16. Jika anda membeli lensa atau kamera bekas, pastikan anda melakukan transaksi dengan bertemu penjualnya secara langsung. Anda harus menguji barangnya, memegang dan mencobanya
  17. Sepanjang memungkinkan, gunakan settingan ISO serendah mungkin. Meskipun noise reduction bisa mengurangi noise yang dihasilkan oleh ISO yang tinggi, namun akan mengurangi detail foto secara keseluruhan. ?
  18. Kalau warna membuat foto anda terlalu “sibuk” dan ramai, ubahlah foto anda menjadi foto hitam putih
  19. Untuk menghasilkan foto hitam putih yang bagus, perhatikan kontras dalam foto anda. Semakin banyak kontras (area gelap dan terang yang beragam), semakin bagus foto hitam putih anda. ?
  20. Bawalah kamera kemanapun anda pergi, cara paling cepat meningkatkan kemampuan fotografi anda adalah dengan memperbanyak jam terbang, tidak ada yang lebih baik.
kredit foto adrift oleh: Richard Outram.


20 Tips Komposisi Agar Foto Makin Keren

Komposisi dalam bidang seni apapun adalah ibarat selera akan makanan, semua kembali ke preferensi  masing-masing. Namun begitu, ada beberapa panduan tertentu yang tak lekang waktu dan ikut di amini oleh mayoritas pelaku.
Duapuluh tips singkat komposisi untuk fotografi berikut disarikan dari beragam sumber tulisan serta buku fotografi dan semoga pembaca bisa menambah atau menguranginya dengan mengisi komentar di akhir tulisan. Isinya bukan aturan tapi panduan, karena sekali lagi komposisi adalah masalah selera.
1. Tarik perhatian ke arah subyek utama dalam foto. Manfaatkan warna, bentuk, cahaya atau garis supaya foto tampak kuat dan menyedot perhatian

2. Sederhana, makin sederhana susunan foto anda makin kuat kesan yang ditimbulkan

3. Kurangi elemen yang tidak seirama. Jika menurut anda ada elemen tertentu yang merusak irama dan keharmonisan foto, singkirkan – tutupi – atau pindahkan sudut pemotretan supaya elemen tersebut hilang

4. Penuhi seluruh isi frame dengan obyek utama. Kadang foto yang kuat kesannya adalah foto yang tanpa background sama sekali

5. Jangan biarkan ruang kosong mendominasi foto


6. Cek daerah disekitar garis frame, jangan biarkan ada tangan, kaki atau bagian penting obyek terpotong tanpa alasan kuat

7. Maksimalkan penggunaan point of view (titik pandang) yang menarik, jangan melulu memotret dari depan subyek


8. Jangan lupa rule of third. Tarik garis imajiner yang membagi foto menjadi 9 bagian sama besar. Tempatkan obyek utama di persimpangan garis-garisnya


9. Saat memotret orang, usahakan selalu agar mata berada diatas garis tengah foto


10. Bagian paling terang dalam foto adalah bagian yang paling menyedot perhatian mata. Taruh obyek utama disana


11. Background lah yang memperkuat kesan. Jadi jangan biarkan background mematikan obyek utama


12. Memotret secara horisontal memperkuat kesan lebar dan secara vertikal memperkuat kesan tinggi

13. Tajamkan mata untuk mengenali pola yang berulang, manfaatkan 


14. Tajamkan mata untuk mengenali pola simetri, manfaatkan


15. Leading line dan kurva-S selalu menyenangkan dilihat


16. Untuk memotret anak-anak, jongkoklah. Sejajarkan kamera dengan mata mereka

17. Hindari menaruh titik perhatian tepat ditengah-tengah foto

18. Hindari meletakkan garis horison tepat di tengah foto, usahakan horison ada di sepertiga atas atau bawah

19. Jangan biarkan garis horison menabrak bagian obyek yang penting

20. Cek, cek dan cek lagi sesaat sebelum memencet shutter. Pastikan apa yang tampak di viewfinder sesuai keinginan anda




Memahami Fotografi Konseptual

15 Feb 2010
Ada banyak penggolongan fotografi: fotografi jurnalistik, fotografi iklan, fotografi studio, fotografi lanskap, fotografi masakan, fotografi interior/eksterior, fotografi anak, dan sebagainya. Namun, dari semua penggolongan itu, fotografi sesungguhnya terbagi dalam dua ranah, yaitu ranah obyektif dan ranah subyektif.

Fotografi dalam ranah obyektif adalah foto-foto yang tampil sesuai kebutuhan bersama antara pemotret dan yang melihat foto itu. Yang masuk dalam kategori ini adalah foto jurnalistik dan juga foto-foto produk yang lain seperti contoh-contoh di alinea pertama tulisan ini. Ada sebuah kesepakatan tak tertulis dalam ranah ini sehingga seakan sudah ada standar bahwa foto harus begini dan begitu.

Adapun fotografi ranah subyektif adalah fotografi yang semata keluaran dari sang fotografer dengan medium fotografi, apa pun bentuknya. Perkara keluaran itu akan diterima orang atau tidak bukanlah masalah.

Kalau dibuatkan ibarat dalam dunia sastra, ranah subyektif ini mirip puisi. Sang penyair sungguh bebas mengungkapkan perasaannya dalam baris-baris kata dan kalimat. Akan ada orang yang suka, ada pula orang yang tidak suka pada sebuah puisi.

Salah satu contoh konkret fotografi ranah subyektif adalah foto-foto seni seperti yang ditawarkan di galeri-galeri foto. Akan ada orang yang sangat suka sebuah foto, tetapi ada pula orang yang kalau diberi dengan gratis pun akan menolak.

Fotografi ranah subyektif, sesuai namanya, punya pendekatan sangat subyektif. Rujukan bagus dan tidak bagus sama sekali tidak ada dan memang seharusnya tidak ada. Fotografi ranah ini tidak punya tolok ukur untuk bagus/tidak bagus, benar/salah, tetapi punya titik berat pada: apakah gagasan sang fotografer bisa diterima dan dimengerti oleh orang yang menikmati karya itu.

Dalam dunia nyata, ada fotografi yang terletak antara ranah obyektif dan ranah subyektif sekaligus, misalnya foto-foto seni pertunjukan. Pendekatan pemotretan seni pertunjukan sangatlah personal, tetapi foto seni pertunjukan adalah foto yang lumrah muncul di media massa sebagai foto jurnalistik juga.

Fotografi konseptual

Untuk lebih memahami fotografi dalam ranah subyektif, kita bisa menyaksikan pameran foto ”Toys” karya Agus Leonardus di Jogja National Museum, Gedung Patung, Yogyakarta, sampai 10 Januari ini.

Secara spesifik, foto-foto dalam pameran ”Toys” adalah fotografi konseptual, atau fotografi yang bertolak dari sebuah konsep dan pemikiran sang fotografernya.

Coba kita baca pengantar Agus Leornardus untuk pameran tunggalnya kali ini.

”Meski memperoleh perlakuan kasar dan tidak menyenangkan hatinya, anak kecil tidak kuasa melawan orang yang lebih dewasa. Ukuran fisiknya yang relatif kalah besar, menyurutkan nyalinya untuk memberikan perlawanan walau ia merasa telah diperlakukan tidak adil.

Perlakuan kasar yang diperolehnya bisa tersimpan lama di hatinya. Anak yang memperoleh perlakuan kasar semasa kecilnya bisa menjadi pemberang dan cenderung menyukai tindak kekerasan ketika ia dewasa.

Perlawanan yang dilakukan si kecil atas kekesalannya sering kali dilampiaskan terhadap makhluk lain yang lebih lemah daripadanya. Yang paling dekat dengan anak-anak adalah mainannya. Maka, dibantinglah boneka atau mainan lainnya hingga hancur lebur. Mereka, mainan itu, tentu tidak bisa memberikan perlawanan terhadap perusaknya karena mereka lemah tak bernyawa.

Mainan yang telah porak poranda menjadi artefak nyata dari pelampiasan kemarahan dan bentuk perlawanan kaum tertindas. Yang kuat menindas yang lemah, yang lebih lemah menindas yang lebih lemah lagi. Demikian seterusnya.

Dalam rangkaian ini, mainan anak menjadi makhluk yang paling lemah. Andaikata mereka punya nyawa dan energi, tentu mereka juga akan melakukan perlawanan atau minimal memperlihatkan ekspresi kemarahan.”

Pemikiran panjang

Agus menuturkan, dia sudah mulai memikirkan proyeknya ini sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

”Dan saya mulai mengumpulkan aneka permainan rusak sejak tahun 2000. Satu per satu saya pilah yang sesuai konsep dalam benak saya, lalu saya potret,” katanya kepada Klinik Fotografi Kompas (KFK) pekan lalu di ruang pamerannya.

Menyaksikan pameran ”Toys”, kita seakan masuk dalam ruang penyiksaan. Dengan dinding ruang pameran dicat hitam dan dengan penerangan beberapa lilin saja, aneka foto permainan rusak memang tampil mengerikan sekaligus mengenaskan.

”Suasana memang saya bangun begini sesuai dengan apa yang saya pikirkan tentang kekejaman skala kecil yang menular ini,” papar Agus.

Hanya begitukah fotografi konseptual? Tidak sedangkal itu.

Selain konsep dan penjabaran konsep harus melalui sebuah ”skenario” yang matang, sisi fotografi juga harus tetap kuat. Kalau Anda perhatikan, walau yang dipotret adalah mainan-mainan yang sudah rusak, ”Toys” menampilkan teknik fotografi yang prima.

Sudut pemotretan, pemilihan mainan yang akan dipotret, dan juga pencahayaan sungguh merupakan keluaran yang matang dan dalam sisi teknik sangatlah terpuji.

Bagi Agus, orang suka atau tidak suka pada pamerannya, itu bukanlah masalah utama. Dalam pameran ”Toys”, Agus menumpahkan keresahannya pada sebuah problem yang sesungguhnya ada di depan mata kita: kekejaman sehari-hari.

Psikolog dan para ahli pendidikan mungkin punya rumusan untuk masalah ini. Namun, sebagai fotografer, Agus Leonardus bereaksi dengan kameranya. Maka, lahirlah ”Toys” untuk Anda nikmati dan renungkan.


Arbain Rambey 
Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/01/05memahami-fotografi-konseptual-46548

Kiat Menggabungkan Dua Pencahayaan

 
Foto B karya Jimmy Yuwono di halaman ini sungguh menawan. Foto pernikahan yang kreatif ini menampilkan langit yang indah ditambah pencahayaan untuk model yang pas. Penggabungan cahaya alam dan cahaya buatan tidaklah semata untuk fill in (koreksi), tetapi merupakan upaya kreatif untuk mendapatkan foto yang jauh lebih kuat daripada kalau memakai semata satu sumber cahaya saja.

Membuat foto dengan pencahayaan gabungan adalah menggabungkan cahaya matahari (entah kuat atau redup) dengan cahaya buatan yang biasanya lampu kilat dengan berbagai tingkat kekuatan.

Sekarang, perhatikan foto A yang memotret pengusaha nyentrik Bob Sadino di teras rumahnya. Suasana pagi yang hangat memang menarik untuk jadi saat pemotretan. Namun, ada kendala utama, yaitu kalau Bob Sadino duduk di teras, cahaya matahari tidak mencapainya karena terhalang sebuah bagian atap teras. Hal ini terlihat di foto A bagian atas.

Akhirnya, bantuan cahaya lampu kilat membuat Bob Sadino seakan diterangi cahaya matahari langsung.

Langit pagi

Sementara foto D, yang memotret mantan Puteri Indonesia Nadine Chandrawinata dengan dua gajah sumatera, punya kasus yang sedikit berbeda.

Pemakaian lampu kilat bukan karena cahaya matahari terhalang atap teras seperti pada kasus foto A. Pada foto D ini, matahari memang belum muncul.

Pemilihan saat pemotretan kala matahari belum muncul adalah untuk mendapatkan warna langit pagi yang penuh warna. Saat matahari masih di bawah cakrawala memang menghasilkan aneka warna. Dan saat matahari telah muncul, aneka warna itu akan hilang.

Maka, ketiadaan matahari pada foto D digantikan lampu kilat dengan pengukuran yang pas.

Sementara foto C lain lagi. Foto artis dan politikus Rieke Dyah Pitaloka ini memakai lampu kilat karena cahaya matahari yang ada sudah tidak cukup kuat untuk mendapatkan kontras yang memadai dan juga tidak mampu untuk mendapatkan kecepatan rana yang cukup cepat.

Pemakaian lampu kilat pada foto C adalah ”meniru” dan menguatkan cahaya matahari. Dan untuk mendapatkannya, posisi lampu kilat diletakkan di posisi datangnya cahaya matahari.

Teori pencahayaan dasar

Menggabungkan pencahayaan alam dan pencahayaan buatan menuntut sang fotografer menguasai benar teori dasar pencahayaan. Hal paling penting yang harus disadari adalah beda pokok cahaya alami yang menerus (continuous) dan cahaya lampu kilat yang sekejap.

Dengan demikian, perhitungan kecepatan rana dan diafragma harus adaptif terhadap kedua tipe pencahayaan ini.

Sebenarnya perhitungan pencahayaan untuk pencahayaan gabungan ini bisa sangat rumit, misalnya dengan flash meter ke berbagai titik, tetapi juga bisa dibuat sangat gampang. Dengan kamera digital, kita bisa memudahkan pemotretan pencahayaan gabungan ini karena toh kita selalu bisa menganalisis hasil pemotretan kita setiap saat.

Secara umum, hal ini bisa dibagi menjadi dua macam perhitungan, yaitu, pertama, kalau lampu kilatnya bisa diatur kekuatannya dengan mudah. Yang kedua adalah kalau kita mau membiarkan kekuatan lampu kilat apa adanya pada kekuatan maksimumnya.

Hal terpenting adalah jangan memakai mode P, A, atau S. Pakailah mode M agar pilihan rana dan diafragma terkontrol. Kemudian, pakailah ISO serendah mungkin tergantung kekuatan lampu kilat kita. Kalau kita memakai lampu kilat portabel (kecil), ISO 400 mungkin memadai. Namun, kalau kita memakai lampu studio, ISO 100 atau bahkan lebih rendah lagi akan menghasilkan foto yang lebih tajam dan halus.

Pada cara yang pertama, kita ukur dulu kombinasi rana dan diafragma untuk latar belakangnya. Misalnya kita dapatkan kombinasi rana 1/60 detik dan diafragma 8. Lalu kita memotret lagi dengan kombinasi itu, tetapi sudah dengan tambahan lampu kilatnya. Perhatikan hasil pencahayaan oleh lampu kilatnya. Kalau terlalu terang, kekuatan lampu kilat tinggal dikurangi. Demikian pula sebaliknya kalau cahaya lampu kilat terlalu lemah.

Sementara dengan cara yang kedua, atau yang tanpa mengubah-ubah kekuatan lampu kilatnya, kita juga memulainya dengan mencari kombinasi rana dan diafragmanya. Katakanlah hasilnya rana 1/60 detik dan diafragma 8.

Setelah kita memotret lagi dengan tambahan lampu kilat, lalu kita analisis gambarnya. Kalau pencahayaan dengan lampu kilatnya terlalu terang, kita tentu harus mempersempit bukaan diafragmanya. Katakanlah tadi kita memakai 8, maka harus diubah menjadi 11.

Kemudian, karena difragma diubah menjadi 11, otomatis untuk membuat penyesuaian yang baik bagi latar belakangnya, kecepatan rana harus disesuaikan dari 1/60 menjadi 1/30 detik.

Ingat, lampu kilat hanya terpengaruh oleh bukaan diafragma. Selama kecepatan rananya masih di bawah kecepatan sinkron (agar aman, secara umum kamera digital punya batas kecepatan sinkron maksimal 1/200 detik), kecepatan mana pun yang dipilih tidak akan memengaruhi hasil. Namun, cahaya menerus (continuous) seperti cahaya matahari akan tergantung kombinasi rana dan diafragma sekaligus.

Jadi, pemotretan dengan pencahayaan gabungan menuntut adanya pemahaman bahwa kita menggunakan dua hukum pencahayaan. Yang pertama adalah hukum pencahayaan cahaya menerus yang mengombinasikan rana dan diafragma, serta hukum pencahayaan lampu kilat yang semata mendasarkan pada bukaan diafragma pada kecepatan sinkron. Arbain Rambey
Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/01/12/kiat-menggabungkan-dua-pencahayaan-47096



Kiat Meningkatkan Kreatifitas Fotografi

Dalam banyak seminar fotografi selalu muncul pertanyaan, apakah kemampuan fotografi bisa dilatih dan ditingkatkan. Pertanyaan ini berkaitan dengan beberapa pehobi fotografi yang merasa bahwa kemampuan fotografisnya sudah mentok dan merasa tidak punya tantangan lagi dalam melakukan hobinya tersebut. Benarkah kemampuan fotografi itu bisa naik turun?

Sebenarnya ilmu fotografi itu mirip dengan ilmu berenang. Sekali kita sudah bisa berenang sampai kapan pun tetap bisa walau sempat tidak bersentuhan dengan kolam sampai beberapa tahun. Namun, kecepatan dan daya tahan berenang seorang atlet tentu berbeda dengan orang yang hanya berenang agar sekadar bugar.

Dalam dunia fotografi, seorang yang sempat sangat mahir dalam bidang ini tetap punya mata yang baik dalam melihat dan menilai foto sampai kapan pun. Namun, kalau dia sempat lama tidak memotret, kepekaannya merekam pasti akan sangat menurun. Jadi, kemampuan melihat tetap, tetapi kemampuan menghasilkan yang akan menurun.

Bagaimana melatih kemampuan menghasilkan foto ini?

”Memotong” adegan

Fotografi adalah ”memotong” adegan dari realitas 360 derajat yang tiga dimensi ke dalam sepotong foto. Sebuah foto menjadi menarik karena ”terbatas”, alias cuma sebagian dari realitas. Maka, hal yang harus disadari dalam fotografi adalah kemampuan melihat ”sepotong” realitas itu. Foto yang bagus muncul dari kejelian sang fotografer menemukan potongan tersebut.

Orang yang tiap hari memotret pasti lebih jeli dalam melihat sebuah ”potongan yang indah”, sedangkan orang yang sudah jarang memotret mungkin tidak sadar bahwa di depannya terpampang sebuah bahan fotografi yang menarik.

Maka, melatih kemampuan dan kreativitas fotografi sebenarnya bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana. Tulisan ini mencoba menyederhanakan berbagai metode pelatihan fotografi yang pernah dilakukan di berbagai seminar dan pelatihan.

”Street photography”

Untuk mengasah kemampuan fotografi, kita bisa melakukan perjalanan keliling kota sambil memotret. Namun, kita hanya boleh memotret hal-hal yang tidak lazim atau yang bukan hal yang biasa kita lihat di berbagai foto. Dengan cara ini, kita mencoba ”meluaskan” apa yang selama ini kita jalani.

Contoh-contoh foto di halaman ini sedikit banyak akan memberikan gambaran pada latihan yang kita lakukan ini.

Foto A mencoba merekam bangunan tua yang bersanding dengan bangunan modern. Foto B adalah etalase sebuah toko pakaian. Memotret rak dasi tersebut juga mengasah kita untuk dapat memotret dengan perspektif yang baik, artinya tepi-tepi kotak yang lurus harus terpotret lurus.

Foto C adalah bagian dari sebuah tiang pelabuhan. Foto ini menantang kita untuk memotret sambil jongkok sebab kalau tetap berdiri, kita tidak mendapatkan ”adegan” ini. Penempatan baut, bagian besi, dan bagian kayu tiap orang akan berbeda. Di situlah kita berlatih komposisi.

Foto D sekadar memotret gembok tua pada warung warna-warni. Permainan bidang warna dan penempatan posisi gembok di bidang fotonya bisa mempunyai ratusan kemungkinan. Foto D melatih kita dalam merekam akurasi warna lewat penentuan white balance yang tepat, selain melatih komposisi.

Foto E adalah atap lobi sebuah hotel. Ada permainan gradasi di situ. Ada langit yang biru, ada bagian yang tercahayai, dan ada bagian yang dalam bayang-bayang. Selain melatih komposisi, foto ini juga melatih kita melakukan metering yang akurat.

Foto F adalah bayangan orang-orang yang berjalan di depan kita. Foto ini melatih kita bereaksi terhadap komposisi yang terus bergerak. Rasakan bahwa beda satu detik pun akan menghasilkan gambar yang sangat berbeda.

Foto G adalah memotret dari teropong di tempat wisata. Upaya ini adalah mencoba melihat dengan cara lain. Dalam dunia jurnalistik, kita melihat banyak wartawan memotret dari pantulan kaca spion, misalnya.

Adapun foto H adalah pola atap di hotel sebelah. Kemampuan melihat pola-pola komposisi bisa dilatih dengan banyak-banyak memotret aneka pola-pola yang ada di sekitar kita.

Contoh-contoh dalam tulisan ini akhirnya hanya sekadar contoh. Di dunia nyata sangat banyak subyek-subyek yang bisa kita lihat dan rasakan lalu kita rekam ke dalam selembar foto.

Anda bisa melakukan dan merancang latihan Anda sendiri. Arbain Rambey

Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/02/09/kiat-meningkatkan-kreatifitas-fotografi-51100

Kiat Memotret dari Dalam Mobil

Bepergian dengan mobil bukan berarti lalu waktu kita hilang begitu saja selama perjalanan. Sesungguhnya selama bepergian dengan mobil, kita berkesempatan mendapatkan foto-foto human interest. Kebiasaan berlalu lintas orang Indonesia yang masih sangat mengabaikan faktor keamanan adalah ladang perburuan foto yang luar biasa. Agar Anda tidak ikut menjadi bagian dari orang yang mengabaikan keselamatan lalu lintas ini, perlu diingatkan agar Anda tidak memotret saat mengemudi. Memotretlah saat Anda duduk sebagai penumpang saja.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk bisa memotret dari dalam mobil yang bergerak. Hal terpenting adalah kesiapan Anda menghadapi adegan-adegan yang bisa muncul setiap saat.

Adegan-adegan mengejutkan itu antara lain seperti yang bisa disaksikan di halaman ini, difoto oleh para wartawan Kompas dari sejumlah daerah di Indonesia. Di Bali, misalnya, seorang wanita bisa mengendarai sepeda motor sambil di kepalanya bertengger beban minuman dalam botol yang pasti tidaklah ringan.

Atau juga sebuah sepeda motor di daerah Bantul, Yogyakarta, yang mampu mengangkut ayam sampai puluhan ekor sekaligus. Demikian pula berbagai kenekatan orang bersepeda motor di Jakarta dengan antara lain membawa kerupuk dalam jumlah sangat banyak, atau anak-anak yang menumpang bajaj dengan cara jauh dari aman.

Kamera yang bisa dipakai untuk memotret dari dalam mobil tidak harus kamera tertentu. Asalkan dia punya lensa dengan rentang sekitar 24 milimeter sampai 70 milimeter (ekuivalen kamera 135 film), kamera itu siap dipergunakan.

Pilihan ISO bisa dipilih sekitar ISO 200 sampai ISO 800 tergantung kondisi jalan. ISO tinggi diperlukan agar Anda bisa mendapatkan kecepatan rana yang memadai dalam meredam guncangan kendaraan. Secara umum, ISO 400 adalah pilihan ISO yang terbaik dan teraman.

Diafragma yang paling sesuai untuk pemotretan dalam mobil adalah sekitar 5,6. Dengan pilihan ini, Anda mendapatkan depth of field (ruang tajam) yang cukup, sementara kecepatan rananya juga cukup tinggi. Kalau Anda mau lebih praktis, pilihlah mode pencahayaan A (aperture priority) pada ISO 400 dengan bukaan diafragma 5,6 untuk segala sisi pemotretan.

Hal-hal lain

Selain kamera yang siap bidik, beberapa hal lain wajib Anda perhatikan, antara lain:

  1. Kaca mobil harus dalam keadaan bersih. Manakala hari hujan, bersihkanlah butiran-butiran air dengan wiper terlebih dahulu.
  2. Jangan ada benda berwarna cerah di dashboard karena bayangan benda ini akan ikut terpotret. Kalau perlu, letakkan selembar kain hitam untuk menutup dashboard Anda agar imaji dari luar benar-benar bersih dalam rekaman foto nantinya.
  3. Manakala harus memotret saat kondisi jalan sangat tidak rata, usahakan agar tangan Anda bisa berfungsi sebagai peredam getaran. Posisikan kedua tangan yang memegang kamera bisa mengayun bebas melindungi kamera dari getaran yang terlalu menyentak. Kecepatan rana 1/1.000 detik secara umum mampu meredam getaran kondisi jalan aspal terburuk sekalipun.
  4. Lakukan kerja sama dengan pengemudi untuk memotret objek yang kebetulan berada tepat di depan mobil kita. Minta pengemudi agar bisa menyesuaikan kecepatan selayaknya. Arbain Rambey
Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/01/19/kiat-memotret-dari-dalam-mobil-48449

TEKNIK MEMOTRET Bagian 2

6 Feb 2010
Tidak jamannya lagi dimana fotografer harus mengambil beberapa gambar dari suatu gambar dan mengembangkan mereka untuk mencari tahu apakah gambar yang diambil telah sempurna. Beberapa fotografer bentuk seni ini mengacu kepada teknik ini sebagai “trial and error”.


Saat ini, ada jumlah fotografer yang telah memutuskan untuk bergeser dari titik teratur dan menembak dan tua model SLR yang digital. Melalui DSLR, mereka bisa mendapatkan lebih banyak waktu untuk berkonsentrasi dalam mengambil gambar yang besar karena gambar yang tidak setara dengan standar mereka hanya dapat dihapus pergi.
SLR adalah singkatan dari Single Lens Reflex. Namanya penggunaan lensa dan cermin. Cermin memantulkan cahaya yang memasuki lensa menjadi jendela bidik. Dengan demikian, seorang fotografer dapat memperkirakan bagaimana gambar akan mungkin muncul bila dikembangkan. Selain itu, sebuah kamera SLR terpisah menggunakan lensa yang dapat dipertukarkan, tergantung pada resolusi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, kamera ini dapat digunakan untuk menangkap gambar dengan kedalaman bervariasi.

Demikian pula, SLR digital atau kamera DSLR menggunakan lensa dan cermin. Tapi bukannya film yang merekam gambar, sebuah kamera DSLR menggunakan sensor cahaya dan digital chip memori. Dengan kata lain, sebuah kamera DSLR adalah versi komputer kamera SLR tradisional.

Namun, fungsi dari model ini agak berbeda, sehingga disarankan agar pengguna menghabiskan waktu untuk mengenal atau berkenalan dengan gadget ini. Pemilik harus menggunakan itu “trial and error” teknik dengan mengambil beberapa gambar dan menyimpan gambar yang lebih baik. Cepat atau lambat, pengguna pasti bisa hack model ini.

Individu yang memutuskan untuk menggunakan jenis kamera ini harus benar-benar berinvestasi pada kartu memori dan lensa. Jadi, jika mereka kebetulan menjadi profesional suatu hari nanti, peralatan tambahan pasti akan membuat mereka sibuk untuk memilih fotografi sebagai karier.

Berikut adalah beberapa tips-tips yang pasti akan membantu pemilik kamera DSLR dalam menangkap gambar yang sempurna dengan menggunakan seni baru fotografi digital.

1. Biasanya, orang mengambil gambar tubuh penuh dengan latar belakang. Namun, lebih tepat untuk mengambil bidikan dari bahu ke atas atau tubuh bagian atas salah satu gambar karena orang-orang dalam gambar benar-benar muncul kecil.

2. Jika melakukan hal di atas kebetulan teknik sulit bagi pengguna, ia dapat mengambil foto orang dengannya di salah satu sisi daripada di pusat. Maka pemilik hanya bisa memperbesar sehingga orang tampaknya berada di tengah.

3. Hukum optik tetap sama apakah menggunakan lama atau kamera digital. Sebagai contoh, jika matahari berada di belakang gambar, maka gambar akan siluet. Jika lampu di depan gambar, gambar akan tampak juling kecuali ada kacamata.

4. Gunakan sunglass Anda untuk bertindak sebagai polarizer untuk mengambil yang tidak perlu refleksi dari objek melotot.

5. Anda juga dapat menggunakan kacamata untuk meningkatkan eksposur objek.

6. Bila menggunakan polarizer, pastikan bahwa sumber cahaya tegak lurus ke objek.

7. Ubah setting Keseimbangan putih otomatis ke cerah berawan ketika memotret lanskap dan potret luar ruangan.

8. Jangan gunakan modus lampu kilat ketika pengaturan sudah cerah.

9. Zoom in untuk menekankan aset tertentu atau karakteristik dari subjek yang ditangkap.

10. Practice. Practice. Practice.

Itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa teknik-teknik dalam mendapatkan tembakan yang sempurna tidak berubah. Namun, menggunakan kamera digital dan mempekerjakan seni baru ini fotografi digital telah cukup membaik bidikan foto menangkap gambar dengan membuat mudah bagi semua orang.

Dengan kata lain, praktik adalah apa yang benar-benar membuat tembakan yang sempurna!

http://imisup.blogspot.com/2009/11/bagaimana-cara-mengambil-gambar-yang.html

TEKNIK MEMOTRET Bagian 1

Sebenarnya tugas kita saat memotret sangatlah mudah, kita hanya tinggal membuat sebuah garis indikator kecil (saat kita membidik) tepat berada di tengah dengan cara memutar-mutar settingan shutterspeed dan  diafragma di kamera kita. Jika indikator itu sudah berada di tengah, pencet tombol shutter, jadilah sebuah foto dengan eksposure yang tepat. Tentunya kondisi di atas jika dalam kondisi yang sempurna untuk memotret, antara lain dengan adanya cahaya yang cukup dan merata. Mengenai kondisi-kondisi lain, dan cara agar tetap menghasilkan eksposure yang tepat akan saya bahas di sini.

Kombinasi Antara Shutterspeed dan Diafragma :Semakin besar bukaan semakin banyak cahaya yang masuk Semakin lama speed semakin banyak cahaya yang masuk Maka saat kita ingin menggunakan speed cepat, sama saja kita telah mengurangi cahaya yang masuk. Otomatis kita harus mendapat cahaya yang lebih dengan membuka diafragma lebih besar. Kapan kita harus menggunakan speed 1/1000? (speed cepat) Kapan kita harus menggunakan speed 1/50? (speed lambat) Kapan kita harus menggunakan diafragma 3.5? (bukaan diafragma besar) Kapan kita harus menggunakan diafragma 22? (bukaan diafragma kecil).
Mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus menentukan dulu prioritasnya. Karena setiap setting mempunyai keuntungan masing-masing, dan juga menghasilkan efek yang berbeda-beda pula.

Jika kita ingin memotret benda yang bergerak dengan cepat, misalnya foto orang yang sedang meloncat, dan ingin objek itu benar-benar tampak diam, kita harus mengatur shutterspeed secepat mungkin. Misalnya setting shutterspeed 1/1000 detik, selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengatur diafragma agar indikator eksposure tetap berada di tengah.

Jika ingin menghasilkan efek “Panning” (misalnya foto motor atau mobil yang sedang berjalan dengan background yang seolah-olah bergerak), kita harus membuka kamera lebih lama sekitar 1/30 detik. Lalu ikutilah pergerakan objek yaitu motor atau mobil tadi. Karena kamera mengkuti pergerakan objek, maka objek akan tetap fokus namun background akan seolah-olah bergerak. Efek “Panning” tidak mungkin didapatkan melalui shutterspeed yang terlalu cepat. Pasti anda pernah melihat foto dengan suatu objek yang tajam dengan background yang blur. Teknik sangat digemari karena dapat memperkuat objek pada foreground dan juga terasa lebih artistik. Caranya adalah dengan bukaan diafragma yang besar, misalnya F/1.4, F/1.8, F/2, dst. Semakin kecil angka di belakang huruf F,semakin besar bukaannya.

Jika bukaan besar menghasilkan efek blur pada background, maka bukaan kecil menghasilkan efek tajam dari foreground sampai background. Bukaan kecil biasanya digunakan dalam memotret landscape, yang membutuhkan detail dan ketajaman di seluruh bagian foto.
Yang perlu diingat adalah setiap kita memprioritaskan untuk mengatur speed, maka pengaturan diafragma juga harus disesuaikan agar indikator eksposur tetap berada di tengah, Begitu juga sebaliknya.

Jika telah memahami akan kombinasi shutterspeed dan diafragma, maka kombinasi selanjutnya ditambah dengan ISO.

Ada beberapa kondisi, contohnya saat malam hari dan cahaya yang minim, kita sudah mengatur bukaan sebesar mungkin, agar indikator eksposure tepat di tengah hanya mendapat shutterspeed 1/5 detik yang sangat rawan akan blur atau shake. Padahal kita tidak boleh kehilangan momen. Tidak dapat juga menurunkan speed agar tidak blur, karena foto akan menjadi under eksposure alias gelap.Solusi dari masalah ini adalah menaikan ISO. Jika sebelumnya setting ISO 200, naikan menjadi ISO 400, 800, 1000, dst. Tergantung kebutuhan. ISO yang tinggi berarti menambah kemampuan kamera menangkap cahaya. Speed yang tadi hanya 1/5 bisa menjadi 1/60 detik dengan menaikan ISO. Efek samping dari menaikkan adalah munculnya bintik-bintik pada foto, biasa disebut noise atau grain.

Sangat mudah untuk menghasilkan eksposure yang tepat, hanya tinggal bermain-main sedikit dengan logika kita.

Pilihan kamera DSLR Bagi Pemula

Kalau saya sudah ingin upgrade kamera pocket saya, atau saya ingin beli DSLR sebaiknya saya beli kamera apa ya? Pertanyaan yang sering banget muncul kayaknya ya�.aku coba share pendapatku deh, kali aja bisa membantu (Note:karena saya ahli canon, maka kebanyakan yang aku sarankan disini adalah kamera / lensa untuk canon. Tapi bukan berarti nikon atau merk lain kurang ok. Hanya saja saya kurang paham)

Body :

- untuk pemula dan hanya hobby saja saya sarankan beli Canon 450D atau 1000D. Kamera ini relatif sangat canggih, dan harganya cukup kompetitif.
- Tapi kalau anda nantinya ingin upgrade ke yang lebih profesional maka saya sarankan beli saja Canon 400D, dengan harga yang lebih ekonomis anda bisa menabung untuk upgrade nantinya.
- Sedangkan bagi yang cukup serius dengan hobbynya bisa mempertimbangkan Canon 40D sebagai senjata andalan
- Canon seri 5D atau 1Ds Mark III tidak saya sarankan kecuali anda memang punya dana berlebih atau mau menjadi profesional


Lensa (wide � medium) sebagai lensa umum / multi fungsi :

- Untuk lensa jenis wide � medium sebagai pemula / budget terbatas dapat menggunakan lensa kit Canon EF-S 18-55 f3.5-5.6 II IS (bawaan dari beli body camera). Range dan kualitasnya not bad
- Apabila anda ingin upgrade tapi dengan harga yang relatif masih terjangkau coba lirik Tamron 17-50 f2.8 (budget recommendation). Lensa ini terkenal cukup murah tapi kualitas ketajaman lensanya jauh sekali dibandingkan lensa kit
- Untuk yang lebih profesional anda bisa coba Canon EF 17-40 f4 L atau Canon EF-S 17-55 f2.8 IS (keduanya highly recommended) atau Canon EF 16-35 II f2.8 (superb dan mahal)

Lensa (super wide) :

- Lensa lensa super wide biasanya digunakan untuk foto landscape / arsitektur. Harganya tidak murah, tapi anda bisa memilih diantaranya Canon EF 10-22 f3.5-5.6 (highly recommended), atau Tokina 12-24, Tokina 11-16 atau Sigma 10-20

Lensa (medium � tele) :

- lensa jenis ini bisa digunakan untuk memotret dari binatang sampai model. beberapa pilihan ekonomis diantaranya : Canon EF-S 55-250 f4-5.6 IS (budget recommendation) atau Canon EF 70-300 f4-5.6 IS
- pilihan yang sedikit lebih mahal adalah Canon EF 70-200 f4 L (recommended), kualitasnya jauh meninggalkan pilihan pilihan diatas
- pilihan yang lebih mantap lagi adalah : Canon EF 70-200 f4 L IS (highly recommended), Canon EF 70-200 f2.8 L dan Canon EF 70-200 f2.8 L IS (most expensive, tapi memang highly recommended

Ada beberapa lensa lain yang juga sangat menarik, diantaranya adalah Canon EF 100mm f2.8 Macro. Lensa ini sangat di rekomendasikan bagi mereka yang suka dengan fotografi makro. Selain untuk keperluan macro saya juga sering menggunakannya untuk foto model (portrait type).

Lensa fix lain yang juga menarik adalah EF 50mm f1.8 II. Lensa ini sangat murah, lensa termurah di antara jajaran canon lens. Tapi kualitasnya sendiri sebenarnya sangat baik. Walau kalau mengejar kualitas foto mungkin anda sama seperti saya akan memilih canon ef 50mm f1.4 sebagai kompromi antara canon ef 50mm f1.8 yang agak lambat auto fokusnya (dan terasa kurang kokoh) dengan canon ef 50mm f1.2 L yang harganya gila.

Selain body dan lensa apalagi yang dibutuhkan? Hanya 3 lagi koq :

- memory card, rekomendasi saya untuk memory card adalah sandisk 4GB. Bisa gunakan yang jenis Ultra II atau Extreme III. Sudah lebih dari cukup koq. Tidak perlu Extreme IV atau yang ukurannya 16GB. Tidak akan digunakan optimal.
- tas, kalau tidak ada tas lalu bawa � bawa kamera pakai apa? kalau saya suka dengan merk lowepro. Selain harganya cukup masuk akal kualitasnya juga cukup baik dan tahan lama. Mengenai jenisnya bisa pilih yang cocok dengan kebutuhan
- dry box, ini tempat penyimpanan kamera dan lensa. biasanya dilengkapi dengan silica gel untuk menjaga kelembaban. Maklum di Indonesia yang udaranya lembab ini lensa menjadi mudah terjangkit penyakit yang paling mematikan (nomor 2 setelah penyakit jatuh dan rusak) bagi lensa, JAMUR. So lebih baik keluarkan dana sedikit untuk membelinya, daripada lensa anda yang mahal terjangkit penyakit.

Sumber: (http://motoyuk.wordpress.com/2008/07/17/pilihan-kamera-dslr-bagi-pemula)

Memilih Lensa Untuk Foto Pemandangan

Pemilihan lensa tergantung pada apa yang akan ditampilkan dalam photo. Fotografer photo outdoor pemandangan biasanya hanya menggunakan satu atau dua lensa kesukaannya. Mereka biasanya memiliki cara pandang tertentu, baik bentuk, ruang dan kecerahan. Dengan demikian, mereka cenderung menggunakan lensa yang sama untuk berbagai macam gambarnya.

Sebenarnya tidak ada ada aturan khusus tentang penggunaan lensa untuk membidik pemandangan alam. Namun, umumnya fotografer lebih banyak menggunakan jenis lensa sudut lebar. Jenis lensa ini bisa menangkap pandangan photo outdoor lebih luas. Dampaknya, kebesaran serta keindahan alam akan lebih terasa.

Jika kita ingin berkonsentrasi pada suatu bentuk atau detail tertentu, mungkin salah satu bagian dari bentangan alamnya atau gejolaknya, maka kita bisa menggunakan lensa panjang (telephoto lens). Ada juga fotografer pemandangan yang menggunakan lensa zoom telefoto 80-200 mm sebagai lensa favoritnya.

Sewaktu memotret pemandangan, biasanya kita membutuhkan kedalaman ruang tajam yang lebih luas, atau kadang ingin menampilkan lebih banyak subjek dalam barisan atau susunan tertentu Untuk keperluan seperti ini, kita bisa menggunakan lensa sudut lebar antara 15-28 mm. Dengan pandangan seluas kira-kira 70 - 110�, maka kita bisa menangkap artistic photo susunan bentuk bentangan alam yang lebih lengkap. Alhasil, kita bisa memperoleh keindahan alam dalam perspektif lebih lengkap.

Lensa 35 mm atau 50 mm bisa juga digunakan, terutama untuk berkonsentrasi pada subjek tertentu atau memperoleh pandangan yang lebih terbatas dari pemandangan tersebut. Bisa menggunakan lensa sudut lebar 24 mm (super wide-angle lens) sebagai lensa utama. Melalui lensa ini, dapat memperoleh luas pandangan memadai, dan berkonsentrasi pada keindahan panorama secara menyeluruh.

Membidik dengan lensa sudut lebar seperti ini, biasanya membutuhkan ketepatan penajaman (focusing). Karena, semua elemen-elemen gambar tampil dalam skala sangat kecil. Saking kecilnya, seringkali elemen tersebut tidak begitu jelas terlihat pada jendela bidik, apakah mereka telah mencapai penajaman yang optimal atau tidak. Lensa telefoto juga bisa memberi dampak lain terhadap pemandangan yang direkam.

Melalui lensa ini, kita bisa membatasi pandangan dan berkonsentrasi pada subjek photo tertentu saja. Terutama pada hal-hal yang tampil unik.

Sebaiknya, kita membatasi jumlah lensa yang dibawa. Pilihlah lensa-lensa favorit yang akan digunakan saja. Membawa bermacam-macam lensa akan menjadi beban yang berat. Dan juga, akan banyak waktu terbuang untuk memperhatikan dan menjaga semua peralatan yang dibawa. Akibatnya, konsentrasi dan perhatian kita terhadap subjek artistic photo menjadi berkurang.


Sumber: (http://id.88db.com/id/Knowledge/Knowledge_Detail.page/Photo_Multimedia/?kid=25302)

Hal-hal yang mungkin tidak anda ketahui seputar kamera digital

Saat ini hampir semua orang punya kamera digital, minimal kamera yang ada pada ponsel. Kehadiran kamera digital ini sudah banyak merubah cara hidup kita, dengan begitu mudahnya memotret, mengedit, mencetak dan menghapus bila perlu. Tidak perlu beli film, tidak perlu mencuci ke negatif, bahkan foto digital tidak harus selalu dicetak diatas kertas. Dengan hadirnya kemudahan dari alat yang bernama kamera digital ini, hampir sebagian besar diantara kita sudah tidak peduli lagi akan bagaimana cara kerja dari sebuah kamera dan hal-hal teknis apa yang terjadi saat kita memotret.

Kali ini sebagai bahan masukan saja, saya sajikan hal-hal yang mungkin anda belum tahu soal bagaimana kamera digital itu bekerja, atau hal-hal apa yang berkaitan dengan kamera digital. Meski anda tidak tahu sekalipun, pada dasarnya ini tidak berpengaruh pada foto yang anda hasilkan. Namun dengan mengetahui hal-hal berikut, setidaknya anda dapat lebih mengenali dunia fotografi digital.

Fakta dan info seputar sensor :

* Fotografi digital menggunakan sensor peka cahaya sebagai pengganti film. Oke kita semua tahu itu. Tapi tahukah anda bahwa di dalam sensor (entah CCD atau CMOS) yang mengandung jutaan piksel peka cahaya itu ternyata adalah rangkaian analog dan bukan digital? Hasil keluaran dari sensor harus diubah dulu kedalam data digital dengan suatu kedalaman warna tertentu entah itu 8 bit, 12 bit atau 14 bit.
* Pada dasarnya sensor tidak bisa mengenali warna, atau istilahnya buta warna. Maka itu diperlukan lapisan filter warna khusus sehingga sensor bisa memberikan hasil foto yang penuh warna. Filter ini ada beberapa jenis, seperti Bayer filter, Kodak filter dan Foveon X3 filter.
* Hampir semua kamera digital memakai filter warna Bayer yang berbasis RGB, namun dengan warna hijau 2 kali lebih banyak dari warna merah dan biru. Kelemahan filter Bayer adalah tiap piksel hanya diwakili oleh satu warna (entah merah, biru atau hijau) sehingga perlu suatu metoda yang mengakali hal ini supaya sensor mampu menangkap semua elemen warna yang ada. Teknik ini dinamai Bayer interpolation yang meski kuno (ditemukan tahun 1976) namun masih tetap dipakai hingga kini.
* Saat berbicara soal dynamic range, umumnya kita berbicara soal seberapa halus tiap piksel peka cahaya pada sensor mampu menerjemahkan intensitas cahaya ke dalam besaran tegangan. Perhatikan kalau piksel berukuran besar (seperti pada DSLR) mampu membedakan terang gelap lebih baik dibanding piksel pada kamera saku (apalagi kamera ponsel). Maka itu kamera saku dan kamera ponsel lebih mudah mengalami highlight clipping atau area putih yang blown/terbakar.
* Sebagian kita menafsirkan dynamic range adalah seberapa halus kedalaman warna (gamut) yang dihasilkan oleh rangkaian ADC yang digunakan untuk mengkonversi tegangan output sensor ke dalam bilangan bit. Meski tidak salah, kedalaman warna yang umumnya anatara 8 bit hingga 14 bit ini tidak banyak berpengaruh apabila rasio sensor dan piksel/resolusi sudah di ambang batas kritis (seperti sensor 14 MP yang berukuran 1/1.7 inci).

Fakta dan info seputar file RAW dan JPEG :

* Tahukah anda kalau file format RAW adalah file mentah yang langsung diambil dari sensor tanpa melalui proses Bayer Interpolation? File RAW juga tidak sedikitpun mengalami setting contast-WB-sharpness-saturation sehingga anda bisa berkreasi dengan berbagai setting itu lewat komputer. Sebagai resikonya, file RAW memakan file space cukup besar hingga belasan mega bytes.
* Pada tahun 2000 telah diumumkan teknologi JPEG yang lebih baik dalam melakukan kompresi gambar, namun hingga detik ini format yang bernama JPEG 2000 itu belum kunjung diaplikasikan pada kamera digital manapun.
* Kompresi JPEG adalah berjenis lossy compression sehingga ada bagian dari gambar yang akan mengalami penurunan kualitas. Umumnya kamera memberi pilihan kompresi JPEG yang akan digunakan, dan dinyatakan dalam setting quality. Ada dua hingga empat pilihan semisal : basic, fine, super fine dsb. Kompresi terbaik menghasilkan sedikit penurunan kualitas, namun memakan file space lebih besar.

Fakta dan info seputar white balance (WB) :

* Prinsip kerja WB adalah menjaga sebuah benda putih akan tetap tampak putih saat difoto memakai sumber cahaya apapun. Namun dalam istilah yang lebih keren, WB adalah pengaturan kompensasi temperatur warna (dinyatakan dalam Kelvin) sehingga hasil foto memberikan warna yang akurat.
* Hampir sebagian dari kita memilih mode auto white balance saat memotret. Salah? Tidak juga. Namun tahukah anda kalau kamera terkadang salah dalam menentukan WB? Saat ini terjadi, foto akan nampak terlalu kebiruan atau terlalu kemerahan.
* Tiap sumber cahaya punya temperatur warna yang berbeda. Cahaya dari sebatang lilin sekitar 1500 K, dan cahaya matahari siang hari sekitar 10.000 K. Perbedaan ini tidak nampak bila dilihat dengan mata, namun kamera bisa memberi warna yang salah saat setting WB ini tidak tepat.
* Untuk akurasi warna tinggi dibutuhkan manual / custom white balance berbantuan grey card (ya, abu-abu dan bukan putih). Mengapa abu-abu? Karena dia punya medium tone dan neutral hue. Bingung? Saya juga�. :)

Fakta dan info seputar eksposure :

* Dasar fotografi hanya tiga, oke kita masih ingat itu : shutter � aperture � ISO. Tapi tahukah anda bahwa ketiganya bergantung dari modul light meter yang mengukur cahaya berdasar setting metering yang kita tentukan (matrix, center weight atau spot meter)?
* Light meter kamera tidak akurat dalam mengukur cahaya. Prinsip kerjanya hanya mengukur cahaya yang ditangkap dari pantulan objek dan paling optimal saat mengukur benda berwarna 18% luminance (middle grey). Nah lho.. Kalau benda yang diukur lebih terang atau lebih gelap dari middle grey, metering kamera akan meleset. Untuk itu kompensasikan dengan Ev.
* Cara termudah mengevaluasi ketepatan eksposure adalah melihat histogram, baik sebelum atau sesudah foto diambil. Beberapa kamera hanya menampilkan luminance histogram yang sebenarnya adalah perwakilan dari histogram warna hijau, dan sebagian kecil lainnya menampilkan RGB histogram lengkap. Bahkan kontras tidaknya sebuah foto juga dapat dilihat dari histogram ini.

Fakta dan info seputar auto fokus :

* Dahulu kala semua kamera itu manual fokus. Teknologi auto fokus lalu hadir dengan membawa perubahan besar di dunia fotografi. Pada DSLR prinsip kerjanya memakai deteksi fasa, pada kamera digital lain memakai deteksi kontras.
* Tahukan anda kalau sistem auto fokus pada kamera tidak suka akan objek yang flat, tanpa kontras dan monoton? Cobalah mengunci fokus pada bidang tembok yang datar dan warnanya seragam, tentu kamera akan berulang kali mencari fokus kemudian menyerah..
* Salah satu faktor yang membuat DSLR mahal adalah modul auto fokusnya. Modul ini punya beberapa titik sensor dimana semakin banyak titik maka makin mahal modul tersebut. Apalagi bila titik sensor itu berjenis cross-type yang lebih sensitif, maka DSLR itu sudah tergolong kelas mahal.

sumber: Mas Gaptek (http://gaptek28.wordpress.com/2009/04/03/hal-hal-yang-mungkin-tidak-anda-ketahui-seputar-kamera-digital)

Fotografi, Antara Pematangan Konsep dan Mengasah teknik

TEKNIK MEMOTRET

Menurut buku Foto Jurnalistik, teknik memotret adalah suatu cara dalam memotret setelah diketahui bagaimana tahapan memotret.

Mari kita bahas sedikit tentang tahapan memotret sebelum kita membahas tentang teknik memotret. Ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan sebelum kita mulai memotret, yaitu komposisi, fokus, kecepatan dan diafragma. Keempat tahap ini penting diperhatikan pada saat memotret untuk dapat menghasilkan foto yang baik secara teknik.

TAHAPAN DALAM MEMOTRET

Komposisi diatur dengan memilih point of interest dari suatu objek. Point of interest adalah sesuatu yang paling menonjol dalam sebuah objek foto. Komposisi menempati urutan pertama yang harus diperhatikan dalam tahapan memotret. Ini karena pengaturan komposisi foto hanya dapat diatur oleh fotografer sendiri dan tidak bisa digantikan oleh kamera. Ini berbeda dengan fungsi yang lain seperti fokus, kecepatan dan diafragma. Pada kamera otomatis, ketiga hal ini dapat digantikan oleh kamera.

Setelah mengatur komposisi, kita harus mengatur fokus dari objek yang akan kita foto. Point of interest adalah hal utama yang harus difokuskan. Focusing bisa dilakukan dengan memutar ring fokus pada lensa atau mengatur jarak kamera dengan objek foto.

Tahap selanjutnya adalah pengaturan kecepatan. Maksud dari kecepatan ini adalah gerakan tirai yang membuka-menutup sesuai angka yang dipilih tombol kecepatan. Semakin cepat gerakan membuka dan menutup tirai maka semakin sedikit cahaya yang masuk. Sedangkan jika gerakannya semakin lambat maka semakin banyak cahaya yang masuk. Semakin cepat atau lambatnya gerakan tirai ini ditunjukan pada angka-angka yang terdapat pada kamera.

Diafragma sering juga disebut bukaan lensa. Inilah hal terakhir dalam tahapan memotret. Last but not least, karena pengaturan diafragma juga penting agar dapat menghasilkan foto yang baik. Teorinya hampir sama dengan kecepatan yang memakai prinsip bola mata manusia. Semakin kecil bukaan lensa maka semakin sedikit cahaya yang masuk dan begitu pula sebaliknya.

Namun ada sedikit perbedaaan antara diafragma dan kecepatan. Angka yang ditunjukkan pada kamera berbanding terbalik dengan besarnya bukaan. Jadi semakin kecil angka yang ditunjukkan maka semakin besar bukaan lensanya. Sedangkan semakin besar angkanya maka semakin kecil bukaan lensanya.

Selain banyak sedikitnya cahaya, depth of field atau ruang tajam juga dapat diatur melalui diafragma ini. Teori ruang tajam adalah, semakin besar bukaan lensa maka semakin sempit ruang tajam atau objek yang dapat difokus. Sedangkan semakin kecil bukaan lensa maka semakin luas ruang tajam dari objek foto. Contoh penggunaan ruang tajam yang sempir adalah ketika kita ingin membuat foto wajah seseorang. Yang terlihat tajam hanya wajahnya saja, sedangkan backgroundnya tidak tajam.

KEMBALI KE TEKNIK MEMOTRET

Setelah kita mengetahui tentang tahapan memotret maka kita akan melanjutkan pembahasan tentang teknik memotret. sebenarnya ada banyak teknik dalam memotret. namun kita akan memfokuskan pembahasan kita pada teknik-teknik yang paling sering dipakai.

Yang pertama adalah freeze yaitu teknik meemotert pada objek yang bergerak dengan seolah-olah menghentikan objek yang bergerak itu. Teknik ini menggunakan kecepatan yang tinggi sehingga objek seolah-olah membeku. Biasanya teknik ini digunakan untuk memotret kegiatan olah raga seperti sepak bola dan balap motor.

Adapun teknik panning yang, bisa dikatakan, kebalikan dari teknik freeze. Pada teknik ini, sebuah foto dimaksudkan untuk menampilkan efek gerak pada objek yang bergerak. Efek gerak ditampilkan pada bagian background dari foto. Teknik ini dilakukan dengan cara menggerakan kamera sealur dengan arah bergeraknya objek. Untuk melakukan teknik ini, dibutuhkan alat bantu kamera berupa tripod. Selain agar background yang dihasilkan tidak kacau, teknik ini mengharuskan penggunaan low speed yang keduanya mengharuskan kamera tidak banyak goyang.

Teknik selanjutnya adalah zooming yaitu adalah teknik memotret untuk menghasilkan foto dengan efek objek seperti menjauh/mendekat ke kamera. Pada saat tombol shutter ditekan, ring zoom digerakkan menjauh atau mendekat untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Seperti halnya teknik panning, kecepatan rendah dibutuhkan dalam menggunakan teknik ini agar kita memiliki cukup waktu untuk memutar ring zoom.

Jika pada teknik panning dan zooming membutuhkan low speed, maka adapun teknik yang memungkinkan kita untuk mengatur kecepatan gerak buka-tutup tirai rana. Teknik ini dinamakan teknik bulb. Biasanya teknik ini digunakan untuk memotret pada kondisi yang minim cahaya seperti pada malam hari. Disaat prioritas speed tidak dapat membantu untuk mendapatkan pencahayaan normal, maka digunakanlah teknik ini.

Teknik lain adalah double/multiple exposure. Teknik ini merupakan teknik yang cukup menarik karena menghasilkan gambar yang unik. Dalam satu frame foto kita dapat menghasilkan foto orang yang sama dengan pose yang berbeda. Untuk menghasilkan foto ini dianjurkan menggunakan tripod agar foto yang dihasilkan tidak goyang. Sebaiknya memilih background gelap atau hitam agar penumpukan objek foto bagus dan tidak kacau.

Makro adalah sebuah teknik fotografi yang memungkinkan kita untuk memotret sebuah objek dari jarang yang sangat dekat. Biasanya pemotretan jarak dekat ini dimaksudkan untuk mendapatkan detail dan tekstur dari sebuah objek. Teknik ini membutuhkan lensa khusus. Akan tetapi jika kita tidak mempunyai lensa khusus makro, kita dapat menyiasatinya dengan menggunakan lensa standar kamera kita secara terbalik. Dan tentu saja itu akan lebih sulit ketimbang menggunakan lensa makro.

Teknik menarik lain adalah siluet. Teknik ini menempatkan sumber cahaya berada tepat dibalik objek. Dengan demikian objeknya akan terlihat gelap. Pengaturan kecepatan dan diafragma tergantung dari cahaya yang ada waktu memotretan berlangsung. Dibutuhkan ketepatan dalam mengatur kecepatan dan diafragma sehingga objek yang direkam memiliki kontur dan ketajaman yang tepat.

Penguasaan tahapan serta teknik memotret merupakan hal yang penting bagi seorang fotografer. Ini tentu saja harus dimulai dengan mengenal kamera yang akan kita gunakan untuk memotret. Karena dengan mengenali kamera yang kita gunakan, kita dapat menggunakan fasilitasnya dengan baik sehingga menghasilkan foto dengan teknik yang sempurna.

PENGKONSEPAN FOTO

Konsep dalam fotografi adalah a general statement of the idea behind a photograph (pernyataan suatu ide dalam sebuah foto). Pernyataan tersebut bisa dilihat dari objek sebuah foto ataupun teknik yang digunakan dalam mengambil foto.

Foto dapat dikatakan bagus jika konsep yang telah disusun oleh fotografer dapat dipahami oleh individu yang melihat foto itu. Ini merujuk pada prinsip komunikasi. Sebuah komunikasi dinyatakan efektif jika pesan dari dari komunikator dapat sampai pada komunikan dan diartikan sama dengan maksud dari komunikator itu sendiri. Ini karena memang kegiatan fotografi sendiri adalah sebuah proses komunikasi.

Maka dari itu pematangan sebuah konsep sangat diperlukan sebelum memotret sebuah objek. Dengan mematangkan ide terlebih dahulu, kita dapat mengetahui objek apa yang akan kita potret dan teknik apa yang kita gunakan sehingga dapat menguatkan pesan pada objek itu. Dan juga kita dapat mengetahui alat-alat bantu fotografi apa yang kita butuhkan untuk memotret.

Banyak foto yang dibuat dengan konsep yang cukup sederhana sehingga orang dapat dengan seketika menangkap pesan dalam foto tersebut. Namun adapaun foto yang membutuhkan pemikiran yang mendalam sebelum kita dapat menangkap pesan yang tersirat pada foto itu.

Dalam foto Komersial dan foto Jurnalistik, pesan yang kita tangkap cenderung cukup mudah. Karena jika tidak begitu maka produk (dalam foto komersial) atau berita (dalam foto jurnalistik) tidak dapat ditangkap oleh penikmat foto. Ini kemudian berpengaruh pada keberhasilan produk atau berita itu dijual.

Sedangkan pada foto Fine Art, pemaknaan foto cenderung membutuhkan pemikiran yang lebih mendalam. Karena dengan melihat objek atau teknik pemotretannya tidak cukup untuk menginterpretasi foto itu sendiri. Kadang saking sulitnya, para penikmat foto jenis ini membutuhkan bantuan sang fotografer untuk menginterpretasikan foto itu.

Ada beberapa pendapat tentang bagaimana mengkonsep sebuah foto. Ada pendapat bahwa jauh sebelum kita memotret, kita harus menyiapkan sebuah konsep yang matang. Ini memudahkan kita dalam memilih objek foto dan menggunakan teknik apa dalam foto tersebut. Selain itu dengan konsep yang matang, foto yang kita hasilkan bisa memiliki pesan yang cukup kuat.

Namun ada beberapa fotografer yang berpendapat bahwa konsep bisa saja muncul beberapa detik sebelum kita menekan tombol shutter pada kamera. Karena tentu pada saat itu kita berpikir bagaimana membingkai suatu objek. Dan disitulah pengkonsepan foto terjadi.

Jika melihat kedua pendapat ini, maka kita bisa menyimpulkan bahwa ada dua macam pengkonsepan. Yang pertama adalah pengkonsepan secara spontan yaitu pengkonsepan yang dilakukan sesaat sebelum tombol shutter ditekan. Yang kedua adalah pengkonsepan yang membutuhkan waktu yang cukup lama.

Biasanya untuk menghasilkan foto Komersial dan foto Fine Art diperlukan pengkonsepan yang cukup lama. Ide untuk menghasilkan foto-foto jenis ini memang harus digodok secara matang sebelum kemudian dieksekusi.

Foto komersial biasanya objeknya berupa sebuah barang atau jasa yang akan dipasarkan. Penggodokan konsep yang matang sangat diperlukan dalam membuat foto jenis ini.� Karena nantinya foto Komersial adalah media komunikasi produsen yang didalam foto tersebut strategi yang efektif dalam memasarkan sebuah produk.

Sedangkan pada karya foto Fine Art penggodokan konsep sangat diperlukan agar idealisme fotografer dapat tertuang dalam sebuah foto. Karena pemaknaan foto fine art sendiri perlu pemikiran yang mendalam, maka tentu saja awal lahirnya konsep itu sendiri membutuhkan pemikiran yang cukup mendalam pula.

Pengkonsepan dalam foto Jurnalistik, berbeda dengan foto Fine art atau Komersial. Dalam membuat foto jurnalistik tidak memerlukan proses pengkonsepan yang lama. Namun bukan berarti foto ini tidak butuh konsep. Meskipun kesannya spontan, akan tetapi konsep sangat perlu diperlukan untuk menghasilkan foto Jurnalistik agar nantinya dapat menghasilkan �
Beberapa orang menganggap bahwa konsep dalam memotret tidak wajib dibuat. Mereka menganggap bahwa konsep bisa dibuat atau bisa juga ditinggalkan. Karena menurut mereka dengan membuat konsep terlebih dahulu, dapat mempersempit ruang gerak dan kreatifitas mereka. Sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk berkreasi. Mereka menganggap insting adalah yang paling penting. Karena dengan insting yang tajam, mereka dapat dengan mudah menemukan objek yang menarik untuk dipotret.

Namun apa yang tidak disadari adalah, sebuah konsep muncul dengan sendirinya dalam diri seorang fotografer sesaat setelah ia berniat untuk memotret. Konsep muncul tanpa kita sadari. Disaat kita menentukan kemana kita akan memotret, kamera apa yang akan kita pakai, kapan kita akan pergi dan pertimbangan lain, disaat itulah kita mengkonsep.

Konsep dalam fotografi sendiri adalah ide yang kita tuangkan dalam sebuah foto. Maka tidaklah mungkin kita dapat menghasilkan sebuah karya foto, terlepas itu baik taupun tidak, tanpa sebuah konsep. Karena tanpa konsep maka sebuah karya foto tidak akan dapat tercipta. Betul tidak?

MANA YANG LEBIH PENTING?

Ada banyak hal yang dijadikan perdebatan oleh para pencinta fotografi. Salah satu perdebatan yang menarik adalah yang mana yang lebih penting, penguasaan teknik atau pengkonsepan yang baik dalam menghasilkan sebuah karya foto.

Sedikit ringkasan dari apa yang sudah dijelaskan sebelumnya, teknik fotografi adalah cara dalam memotret sebuah objek. Adapun teknik-teknik yang sering digunakan yaitu freeze, panning, zooming, bulb, double/multiple exposure, makro dan siluet. Sedangkan konsep fotografi adalah ide yang terkandung dalam sebuah foto. Tanpa konsep kita tidak akan dapat menghasilkan sebuah karya foto, terlepas dari apakah karya foto itu baik atau tidak. Konsep akan muncul dengan sendirinya dalam diri seorang fotografer ketika ia memutuskan untuk memotret.

Etika dan estetika merupakan hal yang wajib diperhatikan dalam menghasilkan sebuah karya. Tak terkecuali juga dalam menghasilkan karya fotografi. Etika terwakilkan pada teknik fotografi. Ketika teknik fotografi sudah dikuasai maka seorang fotografer sudah dapat menghasilkan foto yang baik yaitu foto yang sesuai dengan etika ilmu fotografi itu sendiri. Sedangkan konsep akan melahirkan estetika atau keindahan dari sebuah karya seni. Jika foto tersebut memiliki konsep yang menarik dan dapat tersampaikan pada penikmat foto maka foto tersebut bisa dikatakan sebagai foto yang indah atau memiliki estetika.

Lantas muncul pertanyaan manakah yang lebih penting antara konsep dan teknik, maka jawabannya adalah konsep. Mengapa konsep? Karena dengan konsep, pesan dalam foto yang ingin disampaikan oleh fotografer dapat ditangkap dengan baik oleh orang yang melihat foto itu. Foto tersebut dapat berbicara banyak dan memiliki kandungan pesan yang kuat.

Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa kegiatan fotografi adalah suatu proses komunikasi. Pesan dari komunikator akan tersampaikan dengan baik kepada komunikator manakala komunikator jeli memilih saluran penyampai pesan dan bagaimana pesan itu dikemas. Jika komunikator jeli membaca komunikan maka ia akan muncul dengan strategi komunikasi yang baik sehingga pesan dapat sampai. Seperti inilah pengkonsepan dalam fotografi.

Teknik dari fotografi sendiri sebenarnya masuk dalam pengkonsepan. Dengan mengkonsep kita akan memilih teknik apa yang akan kita gunakan. Pemilihan teknik ini sama dengan memilih strategi yang baik agar maksud komunikator dapat tersampaikan pada komunikan pada proses komunikasi. Dengan memilih teknik yang tepat maka semakin kuat pesan dalam foto yang dihasilkan.

Konsep sangat penting karena dengan pengkonsepan yang baik maka foto tersebut dapat berbicara atau bercerita. Foto yang kurang terkonsep maka akan� datar atau terkesan tidak memiliki pesan meskipun sudah secara teknik sudah baik.

Lantas jika seorang pemula ingin mempelajari ilmu fotografi, mana yang harus ia pelajari terlebih dahulu? Meskipun konsep lebih penting, dalam tahap pemula sebaiknya teknik dipelajari lebih dulu. Dengan begini, konsep yang dimiliki dapat tersalurkan dalam sebuah karya fotografi. Jika seorang pemula mempelajari konsep terlebih dahulu maka dikhawatirkan akan tersesat tataran pengkonsepan saja. Dan tidak dapat berkarya karena tidak melakukan eksekusi akibat kurangnya pengetahuan tentang teknik fotografi.

Belajar haruslah bertahap. Tidak terkecuali belajar fotografi. Tahapan awal adalah mengenal teknik fotografi sehingga kita dapat memahami kemampuan dari kamera kita. Setelah itulah baru kita mempelajari cara mengkonsep yang baik karena dengan itu kita dapat menghasilkan karya fotografi yang baik sekaligus indah.

Sumber: iwa gandiwa dhiras

 

SixSense6 Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger