10 KESALAHAN FATAL DALAM MENJALANKAN BISNIS FOTOGRAFI

20 Nov 2011
10 KESALAHAN FATAL DALAM MENJALANKAN BISNIS FOTOGRAFI
1. Tidak memiliki Business Plan yang tepat
2. Tidak memliki visi yang jelas
3. Mengesampingkan Value dan Diferensiasi (Terjebak perang harga)
4. Menganggap foto / produk bagus bisa menjual dengan sendirinya
5. Promosi yang tidak tepat
6. Kurang kreatif dalam memenuhi kebutuhan klien
7. Menganggap konsumen hanya sebatas sekali transaksi
8. Terlalu enjoy dengan kegiatan rutin memotret
9. Kurang memperhatikan First Impression (Penampilan, Portfolio, Photo Packaging)
10.Kurang persisten

Tiga alasan mengapa konsumen merasa harga terlalu mahal
1. BUKAN TARGET MARKET KITA
2. KONSUMEN TIDAK MELIHAT VALUENYA LEBIH BESAR DARIPADA HARGA YANG DITAWARKAN
3. KONSUMEN TIDAK MELIHAT ADANYA PERBEDAAN/DIFERENSIASI ANTARA PRODUK YANG LEBIH MAHAL DAN YANG LEBIH MURAH

Keahlian apa yang dibutuhkan seorang fotografer / profesional selain keahlian tehnik?
1. KEAHLIAN UNTUK MENJUAL / MARKETING SKILL
2. KEAHLIAN UNTUK MENCIPTAKAN CITRA DIRI / BRANDING
3. KEAHLIAN DALAM BERKOMUNIKASI / COMMUNICATION SKILL

Tiga unsur penting dalam bisnis fotografi
1. WORTH OF MOUTH
2. MEMORABLE EXPERIENCE
3. BEYOND EXPECTATION

Apa yang anda lakukan pada saat konsumen sudah ada di genggaman?
- CROSS SELLING

Seorang pelanggan seharusnya menjadi pelanggan kita selamanya
- Mungkin bukan sekarang, tetapi suatu hari dia pasti butuh foto / produk kita lagi

Fungsi dari Portfolio adalah:
- Untuk memperkenalkan diri anda kepada calon klien, Memperlihatkan kemampuan anda yang terbaik,Dan menunjukan kelas anda.

Syarat dalam membuat portfolio:
- Hanya karya foto yang terbaik
- Jangan terlalu banyak
- Beri space yang cukup antar foto (jika berbentuk album)
- Pisahkan antara masing-masing tema
- Fokus pada Competitive advantage anda
- Ketahui kebutuhan konsumen
- Kreatif bukan berarti aneh
- Media presentasi yang berkualitas & design yang sesuai
- Hasil cetakan foto yang terbaik
- Jaga portfolio selalu dalam kondisi baik
- Media portfolio yang kreatif
- Online portfolio

Business Plan Guideline
- Siapa target market kita?
- Mengapa memilih target market ini?
- Apa yang anda ketahui tentang prilaku target market ini?
- Apa kriteria target market tersebut dalam memilih dan menentukan jasa photography?
- Berapa harga yang mereka harapkan?
- Seperti apa style foto yang mereka sukai?
- Suasana apa yang mereka inginkan?
- Berapa lama waktu pengerjaan yang mereka harapkan?
- Packaging/album seperti apa yang mereka harapkan?
- Service seperti apa yang mereka harapkan?
- Bagaimana cara anda membuat client anda tetap menjalin hubungan dengan anda sehingga menghasilkan repeat order?
- Apa yang anda ingin konsumen pikirkan apabila mendengar tentang anda atau bisnis anda (positioning)?
- Media apa saja yang mereka sering baca / lihat / dengar dalam memilih jasa photography?
- Bagaimana cara mengkomunikasikan produk dan jasa anda ke target market ini?
- Berapa target omset dan jumlah client yang ingin anda dapat tiap bulannya?
- Apa yang anda lakukan untuk mencapai target itu?
- Siapa saja orang yang bisa diajak bekerja sama guna mencapai target itu?
- Apa saja kekurangan anda yang dapat menghambat menghambat pencapaian target anda?
- Apa yang akan anda lakukan untuk meningkatkannnya?
- Ilmu pengetahuan, training, seminar atau buku apa saja yang perlu anda pelajari?
- Siapa saja kompetitor terdekat sampai terjauh anda?
- Apa kekuatan dan kelemahan mereka?
- Apa yang membuat anda berbeda dari kompetitor?
- Apakah perbedaan itu memberikan nilai tambah bagi konsumen anda?

Bagaimana Lensa dan Kamera Dapat Berjamur

Jamur pada lensa disebabkan oleh spora fungi. Spora fungi ada dimana2. Itu alami dan tidak bisa dihindari. Fungi2 yg pada umumnya yg menggangu lensa adalah fungi2 kelas zygomicota. Kebanyakan fungi tersebut hidup optimal pada range suhu daerah tropis (20-40 derajat dan kelembaban tinggi). Berikut adalah gambar siklus hidupnya:
Supaya spora tidak bergerminasi menjadi hifa pada lensa, maka siklus hidup yg harus kita putus adalah yg saya beri tanda merah.

Kondisi yg mempengaruhi spora untuk bergerminasi adalah sebagai berikut:
1. Temperatur
Temperatur sangat rendah atau sangat tinggi akan mencegah fungi berkembang. Perkembangan spora optimal pada suhu 30 derajat plus minus 5 lah. Yahh suhu hidupnya mirip2 kaya manusia deh. Di suhu tinggi seperti 40 derajat atau rendah seperti 10 derajat spora ga bisa tumbuh (tapi tidak mati). Untuk membunuh spora dibutuhkan suhu 121 derajat dengan tekanan 15 psi minimal 15 menit.
Saran: Untuk lensa jangan kita taro di suhu ekstrim. Nanti yang ada lensanya rusak. Biarkan saja pada suhu ruang, karena faktor berikutnya bisa kita atur sehingga spora gagal jadi hifa

2. Kelembaban
Kelembaban >70% mutlak dibutuhkan agar spora bisa bergerminasi. Lebih kering, spora akan dorman (tidak mati / hibernasi).
Saran: Karena di indonesia kelembaban rata2 tinggi, maka kita perlu menyimpan kamera dan lensa di drybox. Drybox bisa dibeli di toko2 kamera, atau bikin sendiri. Thread2 DIY drybox seperti ini sudah bayak dibahas..

3. Ketersediaan Makanan
Untuk perkembangan, maka spora juga butuh makanan untuk menghasilkan energi. Tidak seperti tanaman, fungi tidak bisa berfotosintesa untuk membuat makannanya sendiri. Oleh sebab itu fungi sangat tergantung oleh ketersediaan makanan di sekitarnya. Makanannya berupa bahan2 organik.
Lensa yang sudah tua, tentunya akan mengumpulkan debu. Debu dapat berupa zat oraganik dan spora. Zat organik inilah yg dipakai oleh fungi untuk berkembang. Namun karena jumlahnya sedikit, biasanya fungi hanya berkembang sampai pada tahap hifa dan akhirnya mati karena tidak ada makanan yg mencukupi untuk mencapai siklus pembentukan sporangium. Sisa2 pertumbuhan ini kemudian menempel pada coating lensa sehingga jadi sulit dibersihkan. Lain cerita kalo spora jatuh pada roti. Fungi pasti akan berkembang subur hingga membentuk sporangium.
Selain debu, di telapak tangan kita pun terdapat "makanan" yg bisa digunakan untuk berkembang biak.
Saran: Kalo bisa hindari sering2 memotret tempat2 berdebu dan simpanlah lensa di dry box untuk menghindari debu dan menjaga kelembaban. Setelah pemakaian, tentunya lensa suka kotor kena sidik jari dll. Jangan lupa dibersihkan dengan alkohol (pelarut organik).
Lensa2 canon seri L tertentu udah whater sealed. Ini cukup memnbantu menghindari kontaminasi pada internal parts pada lensa nya.

Pose Dalam Pemotretan Model

Karena tidak ada pose tunggal yang sempurna untuk model profesional atau yang lainnya , sebelum mengunnakan lensa anda harus melihat secara individual apa yang harus anda sorot dan anda sembunyikan . Banyak orang mengatakan , ada posisi dasar dan komposisi yang sangat membantu anda untuk mendapatkan inspirasi sebelum anda melakukan pemotretan . Ketika anda mulai untuk memotret objek dalam bentuk nyata misalnya tentang daily activity ..anda mungkin akan menangkap sebuah elemen yang menyoroti keunikan orang itu bahkan jika tidak bagian paling bagus dari orang itu .photographers terkenal Jimmy Durante, misalnya, melebih-lebihkan hidung besar dalam setiap hasil karyanya , unsur itu yang menjadi titik penting karena menjadi perhatian utama yang akan disuguhkan , ada lagi misalnya seniman-seniman karikatur yang mengambil keuntungan dari unsur-unsur .Pikirkan tentang hasil akhir yang diinginkan-apa yang Anda ingin karena akan membantu Anda memutuskan pose apa yang paling sesuai untuk topik Anda.

tips tentang pose dalam pemotretan model

1.
TIDAK membiarkan model meletakkan dua tangan di belakang kepala dengan siku direntangkan seperti sayap ayam kecuali dia berada di Moss 'liga Kate . Ini adalah yang paling amatir dari semua pose.

2.
TIDAK memotong gambar diantara pinggul , Biarkan tubuh menyelesaikan sendiri ke daerah tipis antara lutut dan pinggang.Untuk model perempuan, ini memungkinkan hourglass contour tubuh wanita menampakkan dirinya.

3.
TIDAK mengcrop diantara bagian sendi . Hal ini akan membawa anda merasa jauh dari gambar, karena akan menghadirkan embel-embel yang keluar dari frame.

4.
TIDAK membiarkan model Anda mengunci lengan dalam posisi vertikal lurus. Ini menciptakan bahu yang besar, selain pengalih perhatian, membuat kepala tampak lebih kecil.

5.
Tidak berkata, "Tidak, tidak, tidak," jika Anda tidak menyukai pose model Anda , Sebaliknya , model langsung ke posisi yang bekerja efektif dan enjoy untuk dia.Kadang-kadang, memperlihatkan bingkai atau dua dalam 1 pose ternyata kurang ideal , terus sesi photo yang mengalir dapat membantu menumbuhkan rasa percaya diri . Jika Anda tidak mendapatkan pose yang Anda inginkan, , tunjukan apa yang Anda inginkan untuk dia lakukan. Paling tidak, Anda akan mendapatkan tertawa; yang terbaik, dan Anda akan mendapatkan suntikan besar untuk hasil anda nanti.

6.
sekrang mengambil keuntungan dari pengetahuan orang lain. Ketika saya foto model profesional untuk pemotretan model, saya meminta desainer atau fashion stylist , elemen pakaian apa yang harus digarisbawahi dan bagaimana pakaian tertentu atau gaun harus menggantung. Saat mengambil foto, penting untuk melihat seluruh ensemble, bukan hanya wajah model atau posisi tubuh. Bicara ke subjek Anda tentang apa yang ia pakai, perhiasan atau barang pribadi lainnya yang dapat Anda sorot. Ini akan membuat lukisan menarik dan lebih berarti baginya.

7.
mencoba menembak sedikit di atas mata datar subjek Anda. sudut ini juga menciptakan garis rahang bagus.Focal panjang antara 85mm dan 105mm (on a full-frame 35mm sensor) karena akan bekerja dengan baik karena kompresi lensa. aperture diantara Æ’/4.5, karena akan shallow depth of field, dan membantu fokus anda dalam menyoroti bagian mata , dana akan menghasilkan the windows to the soul (jendela dalam jiwa)

8.
mencoba menembak dari sudut yang sedikit lebih rendah, yang bertujuan, kalau Anda ingin menyampaikan perasaan yang mempunyai kekuasaan. subjek Anda layaknya alat tenun di atas penampil dalam posisi dominan.

9.
Tangan rata di sisi subjek akan menciptakan ilusi pinggang sangat luas

10.
pelajari klasik photo ciptaan photografers seperti Irving Penn dan Richard Avedon. dimana anda akan menemukan potret yang membuat cara Anda harus berhenti dan terus melihat, terus , mencatat apa yang bekerja efektif untuk Anda dan mencoba ide-ide sendiri. Learn from what you like. Belajar dari apa yang Anda suka. (teguh moverock photography)

Konsep Dasar Tentang Flash GN - Guide Number

1 Nov 2011
Flash Guide Number mempunyai defini sesuai dengan formulanya adalah perkalian antara jarak (distance) dan f# (f/number/diafragma/aperture) pada ISO tertentu, untuk memperoleh suatu "exposure" yang "tepat".

Formula GN adalah :

GN = f# * d
d = distance/jarak flash ke subject
f# = Aperture/Diafragma

Suatu contoh, apabila flash menghasilkan exposure yang tepat pada f/5.6 dan jarak subject ke flash (d) adalah 10 meter, pada ISO 100, maka flash tersebut mengeluarkan cahaya dengan

GN = 5.6 * 10 = 56
jadi GN = 56 (ISO 100 - meter).

GN dapat pula dinyatakan dalam satuan jarak feet, bila diambil dari contoh diatas, 'd' atau jarak 10 meter = 32.8 feet (1 foot = 30.48 cm ; 1 meter = 3.28 feet). Jadi GN flash adalah = 5.6 * 32.8 = 184 (ISO 100 - feet).

Pada flash, biasanya diketahui (pada buku manual) mempunyai GN tertentu, dan GN tersebut adalah GN maximum dari flash tersebut. Katakanlah mempunyai GN 56 (ISO 100 - meter), dengan menggunakan aperture f/5.6 jarak maximum adalah 10 meter, maka apabila lebih dari 10 meter atau menaikkan nilai aperture akan terjadi under exposed.

Sekarang apabila GN maximum flash diketahui maka untuk mencari jarak maksimum pada nilai aperture tertentu, formulanya :

d (max) = GN (max) / f#

contoh :
GN max = 56 (ISO 100 - meter).

pada f/8 maka d (max) = 56/8 = 7 meter (pada ISO 100)
pada f/4 maka d (max) = 56/4 = 14 meter (pada ISO 100)

sampai disini cukup jelas? apabila kurang jelas, coba dibaca sekali lagi dari atas.


Nah, kadangkala ada kasus tertentu untuk mendapatkan jarak jangkauan flash yang bisa lebih jauh untuk mengenai subject, maka solusinya adalah menaikkan ISO/ASA.

semakin tinggi ISO, makin sensitif/peka pula sensor kamera terhadap cahaya, sehingga dengan intensitas cahaya yang sama, jarak jangkau flash bisa lebih jauh.

dan pengaruh ISO terhadap GN flash mempunyai formula:
GN(ISO_2) = GN (ISO_1) * SQRT(ISO_2/ISO_1)

SQRT = Squared Root (akar)

contoh:
Flash memiliki GN (ISO 100) = 56, berapakah nilai GN pada ISO 200?

Jawab :
GN (ISO 200) = 56 * SQRT(200/100)
GN (ISO 200) = 56 * SQRT(2)
GN (ISO 200) = 56 * 1.4142
GN (ISO 200) = 79.2

Jadi, Flash dengan GN (max) = 56 (ISO 100 - meter) pada ISO 200 mempunyai GN (max) = 79.2 (ISO 200 - meter)

Pada saat diaplikasikan pada pengambilan exposure, maka :
pada Aperture f/5.6, d (max) = 56/5.6 = 10 meter (pada ISO 100) (sebenarnya f/5.6 adalah nilai kompromi dalam fotografi, sebenarnya nilai yang tepat adalah f/5.67, jadi harusnya d(max) = 56/5.67 = 9.9 meter)

pada Aperture f/5.6, d (max) = 79.2/5.6 = 14.1 meter (pada ISO 200)
pada Aperture f/8.0, d (max) = 79.2/8.0 = 9.9 meter (pada ISO 200)

Jadi dengan menaikan ISO sebanyak 2 kali-nya atau dikatakan naik 1 stop (ISO 100 menjadi ISO 200), maka jarak jangkau flash meningkat sekitar 1.4 kali [atau meningkat dengan faktor akar(2)], ini sama saja dengan membuka atau menurunkan aperture dari f/8 ke f/5.6

perlu diketahui : 8 = 1.4 X 5.6

Table GN untuk SB 600 dan SB 800


NOTE :
Sumber : Situs-situs fotografi di internet, dan dari tulisan bapak Mula W. Saputra (Bandung).
 

SixSense6 Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger