White Balance (WB)

22 Des 2010
Berikut ini twit2 tentang White Balance.
Dikemas dalam beberapa twit yg diberi nomor urut agar mudah mempelajari dan mencarinya. By Arbain rambey


  1. Selembar kertas HVS berwarna putih bukan? Kalau disinari dgn cahaya kekuningan, dia akan terpotret kekuningan juga...
  2. Kalau kertas HVS itu disinari sinar kebiruan, dia juga akan terpotret kebiruan...
  3. Kalau selembar kain yg berwarna merah disinari cahaya kekuningan, dia akan terpotret sebagai oranye atau merah muda
  4. Kalau kain merah tadi disinari cahaya kebiruan, dia akan terpotret seakan berwarna ungu...
  5. Sedangkan benda yg berwarna hitam, disinari cahaya apa pun tetap tampak hitam...
  6. Baru saja kita membahas tiga macam warna. Putih, warna lain dan hitam. Hanya putih dan warna lain yg berubah warna sesuai cahaya yg ada
  7. Perhatikan! Apa beda putih dan warna lain yg sama2 berubah sesuai cahaya yang ada?
  8. Dlm selembar foto yg tercahayai dgn salah, putih mudah dikoreksi sebab orang selalu terbayang aslinya putih itu seperti apa...
  9. Sedangkan warna lain, dalam foto sulit dibayangkan aslinya seperti apa. Itu sebabnya putihlah yg dijadikan tolok ukur koreksi....
  10. Maka toplok ukur kebenaran warna dlm selembar foto selalu mengacu ke warna putih. Itu yg disebut WHITE BALANCE...
  11. Anda tahu bahwa di alam ini banyak warna cahaya. Ingat pelangi? Merah jinga kuning...hijau biru ungu ?
  12. Aneka warna itu lalu dipetakan dalam Derajat Kelvin. Sangat merah di 0 derajat Kelvin, sangat ungu di 12.000 derajat Kelvin
  13. Secara umum, kamera yg ada di pasaran mampu menyesuaikan diri dari 1000 derajat Kelvin sampai 10.000 derajat Kelvin...
  14. Bagaimana menyesuaikan setelan WB pada kamera untuk warna yg akurat ?
  15. Dalam urutan drrajat Kelvin, warna cahaya kuning ada di sekitar 3000 derajat Kelvin, hijau di sekitar 4000, biru di 8000...
  16. Cahaya matahari siang ada di 5000 derajat Kelvin. Mata manusia normal sesuai dgn cahaya ini, shg daylight adalah patokan utama
  17. Jadi, kalau kamera Anda di set untuk daylight (logo matahari), artinya kamera ANda disiapkan untuk terima cahaya yg suhunya 5000 K
  18. Dan kalau kamera yg di set untuk "daylight" dipakai memotret dlm suasana cahaya kekuningan, gambar yg dihasilkan akan kekuningan jg
  19. Sedangkan kalau kamera yg di set untuk WB 3000K (gambar bohlam) lalu dipakai memotret outdoor siang, foto akan kebiruan...
  20. Sebaliknya, kalau kamera di set ke gambar awan (sekitar 8000K) lalu dipakai memotret suasana siang normal, foto akan kekuningan..
  21. Ingat, kuning atau cahaya bohlam, itu 3000K. Biru atau gambar awan itu 8000K. Matahari normal 5000K
  22. Dalam kamera 2 yg ada, gambar bohlam adalah 3000K, gambar neon adalah 4000K, gambar matahari 5000K, gambar awan 7000 atau 8000K
  23. Sesuaikan setting kamera ANda sesuai dgn cahaya yg akan menyinari foto ANda. Kalau motret dlm ruangan yg bohlam, set ke gbr bohlam.
  24. Kalau memotret di outdoor dgn suasana berawan, set kamera Anda lke gambar awan....
  25. Kalau memotret outdoor biasa dlm suasana cerah, bisa ke gambar matahari atau 5000 atau 5500 K...Kenapa ?
  26. Cahaya matahari sesungguhnya 5000K. Tp langit biru ikut membirukan foto kita sehingga koreksi 500K perlu diberikan. Jadi, 5500K
  27. Gambar bohlam boleh digantikan 3000 atau 3500K...
  28. Gambar setting rumah dgn bayangan itu menandakan sekitar 8000 sampai 9000K, yaitu kondisi di bawah bayangan, misal bawah pohon
  29. Di bawah bayangan itu diberi Kelvin tinggi karena yg mencahayai foto kita adalah pantulan langit biru semata, atau sangat biru
  30. Jadi, agar foto kita warnanya benar, kita harus set kamera pada tipe cahaya yg mencahayai foto kita...
  31. Kalau foto Anda kekuningan, artinya setting kamera ketinggian. Turunkan Kelvinnya, misal dari 5000 ke 3000
  32. Kalau foto Anda kebiruan, naikkan setting kamera Anda, misal dari 5000 ke 8000 atau dari gambar matahari ke gambar awan
  33. Cahaya matahari pagi atau sore jadi kuning (sekitar 4000K) karena dia jatuhnya miring, melewati udara yg "panjang"..
  34. Memotret sunset atau sunrise agar dramaris, bisa dgn manipulasi WB. Pasang kamera di 8000K...
  35. Kalau memotret sunrise/sunset dgn setting benar secara logika (yaitu 4000K) , suasana yg terekam berwarna PUTIH!
  36. Tidak selalu kamera harus di set seusai dgn cahaya yg ada. Membuat settng yg salah kadang justru membuat foto menarik..
  37. Memotret sunrise/sunset dgn settting berawan, membuat pantulan air berwarna keemasan...
  38. KOde WB dgn gambar "flash" sesungguhnya untuk cahaya lampu kilat. Tp, lampu kilat yg baik seharusnya daylight...
  39. Tetapi, lampu kilat genggam yg ada umumnya bersuhu lebih tinggi dp daylight sehingga dibuatkan setting tersendiri
  40. Kalau Anda memakai lampu kilat yg nempel di kamera dan diarahkan langsung, pakailah WB gambar petir...
  41. Foto yg baik adalah foto yg warnanya sesuai dengan yg dilihat mata normal di bawah cahaya matahari yg normal pula...
  42. Tapi tak selalu foto yg WB nya tepat adalah foto yg bagus. Suasana kekuningan kadang malah membuat "hangat". Agak kebiruan: mewah!
  43. manakala warna begitu penting,memotretlah dgn format RAW. File RAW bisa mentoleransi kesalahan warna SEPARAH APAPUN!
  44. Demikianlah sedikit paparan tentang White Balance. Semoga berguna...baca seusai urutan angka yg saya berikan...
  45. TAMBAHAN: tidak semua kamera bisa setting pakai angka Kelvin. Manakala tidak bisa, pakailah kode2 simbol yg ada....
  46. Hanya kamera seri pro dan semipro yg bisa setting dgn angka Kelvin.....

Kultwit besok malam (juga dalam 45 twit), tentang fotografi panggung...OK?

Teori Dasar Fotografi (Pencahayaan)

21 Des 2010
Oleh Arbain Rambei via Twitter

  1. Foto tercipta dengan kerja sama lensa dan kamera.
  2. Pada lensa terdapat diafragma yang mengatur besar kecilnya cahaya yang akan masuk ke kamera.
  3. Pada kamera ada rana yang mengatur lama sebentarnya cahaya masuk ke dalamnya
  4. Perhatikan dua kombinasi dari poin 3. Di lensa ada diagrafgma yg menyangkut soal BESAR/KECIL, di kamera ada rana yg soal LAMA/SEBENTAR
  5. Jadi, masuknya cahaya ke kamera sampai menghasilkan foto menyangkut besar/kecilnya cahaya dan lama/sebentarnya dia menyinari.
  6. Foto yg baik, tercahayai dgn benar. Benar ukuran cahayanya, benar lama penyinarannya. Artinya kerjasama diafragma dan rana harus TEPAT!
  7. Soal pencahayaan dgn benar ini, mari ambil analogi orang mengisi ember pakai kran.
  8. Kalau krannya dibuka lebar, menghisi embernya cepet. Kalau kran dibuka kecil, ngisi embernya lama.....ya gak ?
  9. Mari bawa logika kran tadi ke kamera. Kalau diafragma dibuka lebar, rana hrs cepat nutup. Kalau diafragma dibuka kecil, rana dibuka lama.
  10. Kran yg dibuka besar dan waktunya lama--->ember meluap. Diafragma yg dibuka besar dgn rana lama, foto kelebihan cahaya ---> pucat!
  11. Kran dibuka kecil dgn waktu sebantar--->ember tak penuh. Diafragma dibuka kecil dgn rana sebentar--->foto kekurangan cahaya (gelap)
  12. Foto kelebihan cahaya disebut over exposure, atau biasa disebut OVER saja...
  13. Foto yg kekurangan cahaya disebut under exposure atau bisa disebut UNDER saja..
  14. Penegasan: Foto yang baik adalah foto yg tercahayai dengan pas, tidak UNDER dan tidak OVER
  15. Foto yg tercahayai dengan baik adalah hasil kombinasi diafragma dan rana yang pas.
  16. Kalau saja Anda memotret lalu terlihat OVER, ulangi lagi dgn diafragma yg lebih kecil atau rana yang lebih cepat (waktu lebih singkat).
  17. Sedangkan kalau Anda memotret hasilnya UNDER, ulangi lagi dgn diafragma yg lebih besar atau rana yang lebih lambat.
  18. Diafgragma klasik (zaman lensa manual) dinyatakan dalam angka2 sebagai berikut 1 -1,4 -2- 2,8- 4 -5,6 -8 -11 -16- 22 dst.
  19. Angka diafragma makin besar, artinya bukaan makin sempit. Dari satu angka diafragma ke angka diafragma yg lain disebut satu STOP.
  20. Di era digital, angka diafragma makin rumit walau cara kerjanya sama persis. Untuk gampangnya, kultwit ini memakai angka diafragma klasik
  21. Sedangkan rana dinyatakan dalam angka2 yg artinya seper detik. Angka 500 artinya seperlimaratus detik.
  22. Angka rana klasik: 2-4-8-15-30-60-125-250-500-100-200-4000
  23. Kenaikan antar angka rana juga disebut 1 STOP....
  24. Satu STOP difragma nilainya persis sama dgn satu STOP rana. Artinya jika diafragma dikecilkan 1 Stop, rana dilambatkan 1 Stop agar imbang
  25. CONTOH: diafragma 5,6 dgn rana 125 itu sama dengan diafragma 8 dgn rana 60. Coba dipikirkan baik2 dulu....
  26. Diafragma 11 dgn rana 125 itu sama dengan diafragma 5,6 dgn rana 500....
  27. Diafragma 11 dgn rana 125, sama dengan diafragma 16 dgn rana 60....
  28. OK...itu tadi kombinasi dua arah antara diafragma dan rana saja.....Dlm fotografi, kombinasi itu ada 3, dan satu lagi adalah ISO.....
  29. Mari kita mulai merambah ke ISO.....Dan kita kembali memakai analogi mengisi ember pakai kran...
  30. Apa yg harus kita lakukan kalau aliran kran kecil sementara kita juga buru2?...bagaimana supaya ember bisa penuh? Jawaban: GANTI EMBER!
  31. Ganti ember dalam fotografi adalah ganti ISO....mana kala ember tidak penuh, kita ganti ember kecil PASTI PENUH...
  32. Jadi manakala kita sudah buka diafragma lebar2, tapi tidak bisa melambatkan rana lagi, naikkan ISO!
  33. ISO adalah kepekaan sensor kamera terhadap cahaya. makin tinggi ISO, makin peka terhadap cahaya (alias ukuran ember makin kecil)
  34. Angka ISO dinyatakan dgn 50-100-200-400-800-1600-3200-6400 dst...Makin besar angkanya, makin peka cahaya. Antar angka ISO adalah 1 STOP
  35. ISO dalam era digital SAMA PERSIS dgn ISO di jaman dulu. Semua teori dasar fotografi analog dan digital SAMA PERSISSSSSSSS...
  36. OK...kini kita sudah masuk ke segitiga. Bukaan kran, lama ngisi ember dan besarnya ember.......
  37. Kalau kita mau mengubah-ubah tingkat pencahayaan, kita bisa memainkan nilai stop dari tiga arah: dari diafragma, dari rana atau dari ISO
  38. Sebelum menjabarkan efek ISO tinggi atau efek bukaan diafragma besar, kita perjelas hubungan dafragma, rana dan ISO dulu dgn soal contoh
  39. Kombinasi ISO 400, diafragma 8 dan rana 500 setara dgn ISO 400, diafragma 5,6 dan rana 1000
  40. Kombinasi ISO 400, diafragma 8 dan rana 500 setara dgn ISO 800, diafragma 8 dan rana 1000
  41. OK! pelajari berbagai contoh tadi. Rasakan logika ini dgn analogi mengisi ember (buka kran besar apa efeknya, ember kecil apa efeknya)
  42. Itu adalah cara bagaimana mendapatkan pencahayaan yang tepat....Itu adalah TEORI DASR FOTOGRAFI yang baik dan benar (dan tidak sombong)
  43. ISO makin tinggi, foto yg dihasilkan makin kasar ("berpasir", alias grainy)
  44. Diafragma makin sempit (angkanya makin besar), Depth of Field (DOF) makin lebar...
  45. DOF adalah ruang tajam. DOF yg lebar membuat beberapa meter di depan dan di belakang titik fokus ikut terekam tajam
  46. OKAAAAYYYY segitu dulu untuk hari ini...besok dilanjut teori lain....(TEORI White Balance)

20 Tips Singkat Fotografi

6 Okt 2010
Berikut 20 tips singkat fotografi untuk anda menambah informasi dan kemampuan fotografi anda, saya yakin beberapa sudah pernah dilakukan tetapi semoga beberapa lainnya merupakan informasi baru. Klik tanda ? (jika ada) disebelah kanan masing-masing tip untuk melihat informasi yang lebih detail. Silahkan:


  1. Untuk melatih kemampuan panning anda, potretlah benda yang sedang bergerak dengan kecepatan normal (orang naik motor misalnya), gunakan mode shutter priority dan set shutter speed maksimal 1/30 detik, lebih lambat lebih baik. Perhatikan background anda! ?
  2. Untuk memotret makro (jarak super dekat), aktifkan fitur Live View kamera digital anda agar lebih mudah memeriksa depht of field dan fokus.
  3. Filter CPL (polarisasi) sangat berguna untuk menghilangkan pantulan sinar matahari di air dan kaca, dan juga berfungsi memperbaiki warna langit. Pernahkah anda mengenakan kacamata hitam dengan polariser?
  4. Saat memotret bayi/anak-anak, pastikan anda memusatkan perhatian ke mata. Tak ada yang bisa mengalahkan keindahan mata anak-anak.  ?
  5. Megapiksel bukanlah fitur terpenting dari sebuah kamera, ukuran sensorlah fitur yang paling penting
  6. Untuk foto portait (wajah) di luar ruangan, usahakan ketika cuaca sedang mendung. Kalaupun tidak, carilah daerah yang redup dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sinar matahari membuat bayangan yang keras di wajah.
  7. Ketika anda memotret di kondisi minim cahaya dan kesusahan menggunakan autofokus, gantilah dengan manual fokus. Fitur autofokus dikamera biasanya cukup lama mencari titik fokus di kondisi remang-remang. ?
  8. Untuk foto siluet, pastikan anda matikan flash serta gunakan mode sunset (untuk kamera pocket), untuk SLR gunakan mode manual dan ukurlah eksposur di area terang di belakang obyek. ?
  9. Download-lah buku manual versi pdf untuk kamera anda, sehingga anda mudah melakukan pencarian secara cepat untuk kata yang ingin anda ketahui dibanding harus membolak-balik halaman kertas. ?
  10. Sebelum berangkat memotret, periksa kembali setting kamera anda, jangan sampai anda mneggunakan setting yang salah (memotret landscape dengan ISO 1000 misalnya). Menurut para fotografer pro, urutan pengecekan yang baik adalah berikut: cek White Balance – aktifkan fitur Highlight warning – cek settingan ISO – cek ukuran Resolusi foto anda.
  11. Formatlah memory card hanya di kamera, jangan pernah memformat memory card dikomputer. Selain jauh lebih cepat dan mudah juga jauh lebih aman jika anda melakukannya di kamera.
  12. Jika anda memiliki kapasitas hard disk berlebih di komputer serta suka melakukan foto editing, gunakan format RAW saat memotret, jika tidak cukup gunakan JPG. ?
  13. Jika anda benar-benar menyukai fotografi landscape, fotolah di jam-jam berikut: dari jam 5 sampai jam 8 pagi, serta dari jam 4 sampai jam 7 sore.
  14. Ketika memotret, lihatlah area paling terang yang masuk ke viewfinder anda. Kalau terangnya terlalu mencolok dibanding area lain, gantilah sudut pemotretan.
  15. Untuk memotret HDR, gunakan mode auto bracket. Satu lagi: untuk foto HDR landscape yang dahsyat, tunggulah sampai muncul mendung sedikit, lalu mulailah memotret. ?
  16. Jika anda membeli lensa atau kamera bekas, pastikan anda melakukan transaksi dengan bertemu penjualnya secara langsung. Anda harus menguji barangnya, memegang dan mencobanya
  17. Sepanjang memungkinkan, gunakan settingan ISO serendah mungkin. Meskipun noise reduction bisa mengurangi noise yang dihasilkan oleh ISO yang tinggi, namun akan mengurangi detail foto secara keseluruhan. ?
  18. Kalau warna membuat foto anda terlalu “sibuk” dan ramai, ubahlah foto anda menjadi foto hitam putih
  19. Untuk menghasilkan foto hitam putih yang bagus, perhatikan kontras dalam foto anda. Semakin banyak kontras (area gelap dan terang yang beragam), semakin bagus foto hitam putih anda. ?
  20. Bawalah kamera kemanapun anda pergi, cara paling cepat meningkatkan kemampuan fotografi anda adalah dengan memperbanyak jam terbang, tidak ada yang lebih baik.
kredit foto adrift oleh: Richard Outram.


20 Tips Komposisi Agar Foto Makin Keren

Komposisi dalam bidang seni apapun adalah ibarat selera akan makanan, semua kembali ke preferensi  masing-masing. Namun begitu, ada beberapa panduan tertentu yang tak lekang waktu dan ikut di amini oleh mayoritas pelaku.
Duapuluh tips singkat komposisi untuk fotografi berikut disarikan dari beragam sumber tulisan serta buku fotografi dan semoga pembaca bisa menambah atau menguranginya dengan mengisi komentar di akhir tulisan. Isinya bukan aturan tapi panduan, karena sekali lagi komposisi adalah masalah selera.
1. Tarik perhatian ke arah subyek utama dalam foto. Manfaatkan warna, bentuk, cahaya atau garis supaya foto tampak kuat dan menyedot perhatian

2. Sederhana, makin sederhana susunan foto anda makin kuat kesan yang ditimbulkan

3. Kurangi elemen yang tidak seirama. Jika menurut anda ada elemen tertentu yang merusak irama dan keharmonisan foto, singkirkan – tutupi – atau pindahkan sudut pemotretan supaya elemen tersebut hilang

4. Penuhi seluruh isi frame dengan obyek utama. Kadang foto yang kuat kesannya adalah foto yang tanpa background sama sekali

5. Jangan biarkan ruang kosong mendominasi foto


6. Cek daerah disekitar garis frame, jangan biarkan ada tangan, kaki atau bagian penting obyek terpotong tanpa alasan kuat

7. Maksimalkan penggunaan point of view (titik pandang) yang menarik, jangan melulu memotret dari depan subyek


8. Jangan lupa rule of third. Tarik garis imajiner yang membagi foto menjadi 9 bagian sama besar. Tempatkan obyek utama di persimpangan garis-garisnya


9. Saat memotret orang, usahakan selalu agar mata berada diatas garis tengah foto


10. Bagian paling terang dalam foto adalah bagian yang paling menyedot perhatian mata. Taruh obyek utama disana


11. Background lah yang memperkuat kesan. Jadi jangan biarkan background mematikan obyek utama


12. Memotret secara horisontal memperkuat kesan lebar dan secara vertikal memperkuat kesan tinggi

13. Tajamkan mata untuk mengenali pola yang berulang, manfaatkan 


14. Tajamkan mata untuk mengenali pola simetri, manfaatkan


15. Leading line dan kurva-S selalu menyenangkan dilihat


16. Untuk memotret anak-anak, jongkoklah. Sejajarkan kamera dengan mata mereka

17. Hindari menaruh titik perhatian tepat ditengah-tengah foto

18. Hindari meletakkan garis horison tepat di tengah foto, usahakan horison ada di sepertiga atas atau bawah

19. Jangan biarkan garis horison menabrak bagian obyek yang penting

20. Cek, cek dan cek lagi sesaat sebelum memencet shutter. Pastikan apa yang tampak di viewfinder sesuai keinginan anda




Memahami Fotografi Konseptual

15 Feb 2010
Ada banyak penggolongan fotografi: fotografi jurnalistik, fotografi iklan, fotografi studio, fotografi lanskap, fotografi masakan, fotografi interior/eksterior, fotografi anak, dan sebagainya. Namun, dari semua penggolongan itu, fotografi sesungguhnya terbagi dalam dua ranah, yaitu ranah obyektif dan ranah subyektif.

Fotografi dalam ranah obyektif adalah foto-foto yang tampil sesuai kebutuhan bersama antara pemotret dan yang melihat foto itu. Yang masuk dalam kategori ini adalah foto jurnalistik dan juga foto-foto produk yang lain seperti contoh-contoh di alinea pertama tulisan ini. Ada sebuah kesepakatan tak tertulis dalam ranah ini sehingga seakan sudah ada standar bahwa foto harus begini dan begitu.

Adapun fotografi ranah subyektif adalah fotografi yang semata keluaran dari sang fotografer dengan medium fotografi, apa pun bentuknya. Perkara keluaran itu akan diterima orang atau tidak bukanlah masalah.

Kalau dibuatkan ibarat dalam dunia sastra, ranah subyektif ini mirip puisi. Sang penyair sungguh bebas mengungkapkan perasaannya dalam baris-baris kata dan kalimat. Akan ada orang yang suka, ada pula orang yang tidak suka pada sebuah puisi.

Salah satu contoh konkret fotografi ranah subyektif adalah foto-foto seni seperti yang ditawarkan di galeri-galeri foto. Akan ada orang yang sangat suka sebuah foto, tetapi ada pula orang yang kalau diberi dengan gratis pun akan menolak.

Fotografi ranah subyektif, sesuai namanya, punya pendekatan sangat subyektif. Rujukan bagus dan tidak bagus sama sekali tidak ada dan memang seharusnya tidak ada. Fotografi ranah ini tidak punya tolok ukur untuk bagus/tidak bagus, benar/salah, tetapi punya titik berat pada: apakah gagasan sang fotografer bisa diterima dan dimengerti oleh orang yang menikmati karya itu.

Dalam dunia nyata, ada fotografi yang terletak antara ranah obyektif dan ranah subyektif sekaligus, misalnya foto-foto seni pertunjukan. Pendekatan pemotretan seni pertunjukan sangatlah personal, tetapi foto seni pertunjukan adalah foto yang lumrah muncul di media massa sebagai foto jurnalistik juga.

Fotografi konseptual

Untuk lebih memahami fotografi dalam ranah subyektif, kita bisa menyaksikan pameran foto ”Toys” karya Agus Leonardus di Jogja National Museum, Gedung Patung, Yogyakarta, sampai 10 Januari ini.

Secara spesifik, foto-foto dalam pameran ”Toys” adalah fotografi konseptual, atau fotografi yang bertolak dari sebuah konsep dan pemikiran sang fotografernya.

Coba kita baca pengantar Agus Leornardus untuk pameran tunggalnya kali ini.

”Meski memperoleh perlakuan kasar dan tidak menyenangkan hatinya, anak kecil tidak kuasa melawan orang yang lebih dewasa. Ukuran fisiknya yang relatif kalah besar, menyurutkan nyalinya untuk memberikan perlawanan walau ia merasa telah diperlakukan tidak adil.

Perlakuan kasar yang diperolehnya bisa tersimpan lama di hatinya. Anak yang memperoleh perlakuan kasar semasa kecilnya bisa menjadi pemberang dan cenderung menyukai tindak kekerasan ketika ia dewasa.

Perlawanan yang dilakukan si kecil atas kekesalannya sering kali dilampiaskan terhadap makhluk lain yang lebih lemah daripadanya. Yang paling dekat dengan anak-anak adalah mainannya. Maka, dibantinglah boneka atau mainan lainnya hingga hancur lebur. Mereka, mainan itu, tentu tidak bisa memberikan perlawanan terhadap perusaknya karena mereka lemah tak bernyawa.

Mainan yang telah porak poranda menjadi artefak nyata dari pelampiasan kemarahan dan bentuk perlawanan kaum tertindas. Yang kuat menindas yang lemah, yang lebih lemah menindas yang lebih lemah lagi. Demikian seterusnya.

Dalam rangkaian ini, mainan anak menjadi makhluk yang paling lemah. Andaikata mereka punya nyawa dan energi, tentu mereka juga akan melakukan perlawanan atau minimal memperlihatkan ekspresi kemarahan.”

Pemikiran panjang

Agus menuturkan, dia sudah mulai memikirkan proyeknya ini sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

”Dan saya mulai mengumpulkan aneka permainan rusak sejak tahun 2000. Satu per satu saya pilah yang sesuai konsep dalam benak saya, lalu saya potret,” katanya kepada Klinik Fotografi Kompas (KFK) pekan lalu di ruang pamerannya.

Menyaksikan pameran ”Toys”, kita seakan masuk dalam ruang penyiksaan. Dengan dinding ruang pameran dicat hitam dan dengan penerangan beberapa lilin saja, aneka foto permainan rusak memang tampil mengerikan sekaligus mengenaskan.

”Suasana memang saya bangun begini sesuai dengan apa yang saya pikirkan tentang kekejaman skala kecil yang menular ini,” papar Agus.

Hanya begitukah fotografi konseptual? Tidak sedangkal itu.

Selain konsep dan penjabaran konsep harus melalui sebuah ”skenario” yang matang, sisi fotografi juga harus tetap kuat. Kalau Anda perhatikan, walau yang dipotret adalah mainan-mainan yang sudah rusak, ”Toys” menampilkan teknik fotografi yang prima.

Sudut pemotretan, pemilihan mainan yang akan dipotret, dan juga pencahayaan sungguh merupakan keluaran yang matang dan dalam sisi teknik sangatlah terpuji.

Bagi Agus, orang suka atau tidak suka pada pamerannya, itu bukanlah masalah utama. Dalam pameran ”Toys”, Agus menumpahkan keresahannya pada sebuah problem yang sesungguhnya ada di depan mata kita: kekejaman sehari-hari.

Psikolog dan para ahli pendidikan mungkin punya rumusan untuk masalah ini. Namun, sebagai fotografer, Agus Leonardus bereaksi dengan kameranya. Maka, lahirlah ”Toys” untuk Anda nikmati dan renungkan.


Arbain Rambey 
Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/01/05memahami-fotografi-konseptual-46548

Kiat Menggabungkan Dua Pencahayaan

 
Foto B karya Jimmy Yuwono di halaman ini sungguh menawan. Foto pernikahan yang kreatif ini menampilkan langit yang indah ditambah pencahayaan untuk model yang pas. Penggabungan cahaya alam dan cahaya buatan tidaklah semata untuk fill in (koreksi), tetapi merupakan upaya kreatif untuk mendapatkan foto yang jauh lebih kuat daripada kalau memakai semata satu sumber cahaya saja.

Membuat foto dengan pencahayaan gabungan adalah menggabungkan cahaya matahari (entah kuat atau redup) dengan cahaya buatan yang biasanya lampu kilat dengan berbagai tingkat kekuatan.

Sekarang, perhatikan foto A yang memotret pengusaha nyentrik Bob Sadino di teras rumahnya. Suasana pagi yang hangat memang menarik untuk jadi saat pemotretan. Namun, ada kendala utama, yaitu kalau Bob Sadino duduk di teras, cahaya matahari tidak mencapainya karena terhalang sebuah bagian atap teras. Hal ini terlihat di foto A bagian atas.

Akhirnya, bantuan cahaya lampu kilat membuat Bob Sadino seakan diterangi cahaya matahari langsung.

Langit pagi

Sementara foto D, yang memotret mantan Puteri Indonesia Nadine Chandrawinata dengan dua gajah sumatera, punya kasus yang sedikit berbeda.

Pemakaian lampu kilat bukan karena cahaya matahari terhalang atap teras seperti pada kasus foto A. Pada foto D ini, matahari memang belum muncul.

Pemilihan saat pemotretan kala matahari belum muncul adalah untuk mendapatkan warna langit pagi yang penuh warna. Saat matahari masih di bawah cakrawala memang menghasilkan aneka warna. Dan saat matahari telah muncul, aneka warna itu akan hilang.

Maka, ketiadaan matahari pada foto D digantikan lampu kilat dengan pengukuran yang pas.

Sementara foto C lain lagi. Foto artis dan politikus Rieke Dyah Pitaloka ini memakai lampu kilat karena cahaya matahari yang ada sudah tidak cukup kuat untuk mendapatkan kontras yang memadai dan juga tidak mampu untuk mendapatkan kecepatan rana yang cukup cepat.

Pemakaian lampu kilat pada foto C adalah ”meniru” dan menguatkan cahaya matahari. Dan untuk mendapatkannya, posisi lampu kilat diletakkan di posisi datangnya cahaya matahari.

Teori pencahayaan dasar

Menggabungkan pencahayaan alam dan pencahayaan buatan menuntut sang fotografer menguasai benar teori dasar pencahayaan. Hal paling penting yang harus disadari adalah beda pokok cahaya alami yang menerus (continuous) dan cahaya lampu kilat yang sekejap.

Dengan demikian, perhitungan kecepatan rana dan diafragma harus adaptif terhadap kedua tipe pencahayaan ini.

Sebenarnya perhitungan pencahayaan untuk pencahayaan gabungan ini bisa sangat rumit, misalnya dengan flash meter ke berbagai titik, tetapi juga bisa dibuat sangat gampang. Dengan kamera digital, kita bisa memudahkan pemotretan pencahayaan gabungan ini karena toh kita selalu bisa menganalisis hasil pemotretan kita setiap saat.

Secara umum, hal ini bisa dibagi menjadi dua macam perhitungan, yaitu, pertama, kalau lampu kilatnya bisa diatur kekuatannya dengan mudah. Yang kedua adalah kalau kita mau membiarkan kekuatan lampu kilat apa adanya pada kekuatan maksimumnya.

Hal terpenting adalah jangan memakai mode P, A, atau S. Pakailah mode M agar pilihan rana dan diafragma terkontrol. Kemudian, pakailah ISO serendah mungkin tergantung kekuatan lampu kilat kita. Kalau kita memakai lampu kilat portabel (kecil), ISO 400 mungkin memadai. Namun, kalau kita memakai lampu studio, ISO 100 atau bahkan lebih rendah lagi akan menghasilkan foto yang lebih tajam dan halus.

Pada cara yang pertama, kita ukur dulu kombinasi rana dan diafragma untuk latar belakangnya. Misalnya kita dapatkan kombinasi rana 1/60 detik dan diafragma 8. Lalu kita memotret lagi dengan kombinasi itu, tetapi sudah dengan tambahan lampu kilatnya. Perhatikan hasil pencahayaan oleh lampu kilatnya. Kalau terlalu terang, kekuatan lampu kilat tinggal dikurangi. Demikian pula sebaliknya kalau cahaya lampu kilat terlalu lemah.

Sementara dengan cara yang kedua, atau yang tanpa mengubah-ubah kekuatan lampu kilatnya, kita juga memulainya dengan mencari kombinasi rana dan diafragmanya. Katakanlah hasilnya rana 1/60 detik dan diafragma 8.

Setelah kita memotret lagi dengan tambahan lampu kilat, lalu kita analisis gambarnya. Kalau pencahayaan dengan lampu kilatnya terlalu terang, kita tentu harus mempersempit bukaan diafragmanya. Katakanlah tadi kita memakai 8, maka harus diubah menjadi 11.

Kemudian, karena difragma diubah menjadi 11, otomatis untuk membuat penyesuaian yang baik bagi latar belakangnya, kecepatan rana harus disesuaikan dari 1/60 menjadi 1/30 detik.

Ingat, lampu kilat hanya terpengaruh oleh bukaan diafragma. Selama kecepatan rananya masih di bawah kecepatan sinkron (agar aman, secara umum kamera digital punya batas kecepatan sinkron maksimal 1/200 detik), kecepatan mana pun yang dipilih tidak akan memengaruhi hasil. Namun, cahaya menerus (continuous) seperti cahaya matahari akan tergantung kombinasi rana dan diafragma sekaligus.

Jadi, pemotretan dengan pencahayaan gabungan menuntut adanya pemahaman bahwa kita menggunakan dua hukum pencahayaan. Yang pertama adalah hukum pencahayaan cahaya menerus yang mengombinasikan rana dan diafragma, serta hukum pencahayaan lampu kilat yang semata mendasarkan pada bukaan diafragma pada kecepatan sinkron. Arbain Rambey
Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/2010/01/12/kiat-menggabungkan-dua-pencahayaan-47096



 

SixSense6 Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger